Tampilkan postingan dengan label Soal Teks Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Soal Teks Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Desember 2019

Contoh Soal Menentukan Unsur Intrinsik Cerpen

SOAL | Menentukan Unsur Intrinsik dalam Cerpen
Lihat juga: Kumpulan Soal Pilihan Ganda Bahasa Indonesia Kelas 9

Soal 1
Kuingin kau berbohong padaku. Seperti yg kau utarakan kemarin, bersama yg kemarin dulu itu. Ketika mentari meredup berpendar di pucuk daun sebelah barat rumah bersama ketika kerumunan itu tak lagi bersamamu, kau mulai dengan kisah kebohonganmu yg pertama kepadaku.
Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar waktu sore adalah.…
A. Mentari meredup
B. Mentari di sebelah barat
C. Ketika kerumunan tidak bersama
D. Kebohongan yg disampaikan tokoh kamu

Soal 2
(1)"Apakah peranku bagimu, silumankah aku?" tak ada jawabmu, hanya angin berdesir di sekeliling kita. (2)Bulan pucat tak bisa menyembunyikan senyumanmu demi melihat kerutan di dahiku. (3)Biarlah menjadi rahasia alam mau apa yg kita rasakan ini. (4)Jangan lagi memaknainya, menanyakannya ataupun mengharapkannya esok hari.

Bukti bahwa kutipan cerpen tersebut berlatar malam hari terdapat dengan nomor ….
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)

Soal 3
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Apa Ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yg dulu tinggal di sana itu?" Ia menjawab, "Silakan masuk, Nyonya! Kalau Anda ibunya Eric, sungguh Anda tak punya hati!”. Ia membuka pintu tempat tinggalnya. (1)
"Tolong katakan, di mana ia sekarang? Saya janji menyayanginya bersama tidak mau meninggalkannya lagi!” (2)
Aku berlari memeluk tubuhnya yg bergetar keras. "Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric sedia meninggal dunia. Jasadnya ditemukan di kolong jembatan,” jawabnya dengan suara terbata-bata. (3)
”Eric... maafkan Ibu, Nak!” Aku sungguh menyesal, mengapa anakku Eric, dulu kutinggalkan. (4)
Bukti latar tempat dengan kutipan cerita tersebut ditandai nomor ...
A. (1) C. (3)
B. (2) D. (4)

Soal 4
Bacalah kutipan cerpen berikut dengan saksama kemudian kerjakan soal nomor 4 s.d. 6!

Seperti teman-temannya yg lain, sebenarnya Andi ingin sekali memberi hadiah untuk Tommy, tetapi ia tidak enak hati meminta uang dengan ibunya. Apalagi, ibu hanya diam ketika ia menyodorkan undangan pesta ulang tahun Tommy kemarin. Saat itu, ibu sedang duduk-duduk di beranda sambil memandangi matahari yg mulai tenggelam. Diamnya ibu, pertanda ibu belum punya uang untuk membeli hadiah. Andi sadar, sejak ayahnya meninggal tiga tahun yg lalu, ia bersama ibunya memang harus hidup hemat.
”Ah masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy temanku?” gumam Andi seraya bangkit dari tempat tidur pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidurnya bersama digantinya dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, bersama spidol warna-warni. Tangannya mulai mencorat-coret. Kini, ada senyum menghiasi bibirnya, “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”

Bukti bahwa peristiwa tersebut terjadi dengan malam hari adalah ....
A. kalimat pertama dengan paragraf pertama
B. Kalimat kedua dengan paragraph pertama
C. Kalimat ketiga dengan paragraf kedua.
D. Kalimat keempat dengan paragraf kedua

SOAL 5
Amanat yg terdapat dengan kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Kita harus menyesuaikan diri di mana pun berada.
B. Pikir dulu sebelum bertindak, sesal kemudian tidak berguna.
C. Tidak ada kata terlambat untuk memaafkan.
D. Kita harus menghormati ibu yg sedia melahirkan.

Soal 6
Amanat yg terdapat dengan cerpen tersebut adalah ...
A. Jangan menyusahkan kolor penanggung hanya karena ingin memberi hadiah teman!
B. Usahakan selalu memberi hadiah kepada teman orang tua!
C. Temanilah ibumu saat duduk-duduk di beranda!
D. Matikan lampu misalnya sudah tidak diperlukan!

SOAL 7
(1) Boleh jadi, itu sikap angkuhnya seorang yg sukses bersama kaya menghadapi pemuda kere macam aku. (2) Sebagai pimpinan sebuah bank papan atas di negeri ini, mungkin dia tak rela hati anak gadisnya kupacari. (3) Jadi, amat wajar dia kelihatan tidak suka terhadapku. (4) Apalagi tampangku tidak keren kayak aktor Nicholas Saputra, sementara wajah Mawar memang cakep. (5) Kamu sendiri bilang, Mawar mirip Dian Sastro dengan bodi semampai macam Luna Maya (padahal menurutku, Mawar lebih mirip penyanyi kesukaanmu, Mulan Jamila).

Bukti bahwa watak tokoh ‘dia’ dengan kutipan cepen tersebut sombong terletak dengan kalimat bernomor .…
A. (1) bersama (2)
B. (2) bersama (3)
C. (3) bersama (4)
D. (4) bersama (5)

Soal 8
Ku tak mungkin jatuh cinta kan? Tidak sekarang, tidak denganmu. Pesonamu menjeratku tapi aku tak kan membiarkan diriku jatuh cinta kepadamu. Tak kan pernah kupercaya segala tuturmu kepadaku, bersama ku mau selalu menganggap bohong apa pun yg kau ucapkan kepadaku sejak itu, termasuk yg itu ... yg dua kali kau sampaikan padaku. Sampai kapan pun kau merayuku, aku tak mau pernah lagi percaya padamu. Kebohongan-kebohonganmu sedia merusak cintaku.
Bukti bahwa watak tokoh kamu pembohong angsal diketahui melalui ….
A. Tingkah laku tokoh kamu
B. Tingkah laku tokoh aku
C. Dialog tokoh kamu
D. Dialog tokoh aku


Soal 9
Bacalah dengan saksama!
Di Kantor Pos
Oleh: Muhammad Ali
“Tadi agaknya sedia terjadi suatu kekeliruan ketika Nona membayarkan uang pos wesel kepada saya, sebab ….”
“Mana bias keliru?” si pegawai menyela dengan cepat.
“Seharusnya saya terima tiga ratus rupiah, bukan? Kalau tak salah, sekian itulah angka yg tertulis dalam pos wesel saya.”
“Coba saya liat dulu, Saya masih ingat nomor pos wesel Saudara.” Si pegawai lalu memeriksa salah satu lajur dalam daftar yg terkembang di hadapannya, kemudian katanya,”Nah ini, wesel nomor satu empat tujuh dengan tanda C. Jumlah uang:tiga ratus rupiah. Apa yg keliru? Bukankah tadi Saudara terima dari saya tiga ratus rupiah?”
“Tidak,”jawab laki-laki itu.” Nona tadi memberikan kepada saya bukan tiga lembar kertas ratusan, tapi empat lembar. Jadi, empat ratus rupiah yg saya terima tadi.”
“Oh,, kalau begitu saya keliru. Benar-benar keliru,” kata si pegawai akhirnya dengan kemalu-maluan.”Maklum banyak kerja. Lagi pula lembaran-lembaran uang itu masih baru hingga kolor lekeh saja terlengket karenanya. Jadi, Saudara mau kembalikan uang yg seratus rupiah kepada saya, sekarang?”
“Betul, Saya mau mengembalikannya kepada Nyonya ….”
“Nona!” sela si pegawai cepat.
Kutipan cerpen tersebut bertema ….
a. Keberanian pegawai mengakui kekeliruan.
b. Kehati-hatian pegawai terhadap seseorang.
c. Kejujuran seseorang dalam hidup.
d. Kebaikan seseorang terhadap pegawai pos.


Soal 10
Sudut pandang yg digunakan pengarang dengan kutipan cerpen tersebut adalah …
a. Orang ketiga sebagai pengamat
b. Orang pertama tokoh utama
c. Orang campuran
d. Orang ketiga manatahu

Parjimin adalah tukang batu, tetangga Kurdi. Lumayan bagi mereka, mendapat proyek baru. Rupanya, proyek rumah gedong itulah yg selalu diperbincangkan Kurdi disetiap kesempatan. Di tempat perhelatan nikah, supitan, di tempat kerja bakti, sarasehan kampung, sampai ronda malam. Dia senantiasa tidak lupa menceritakan rencananya membangun rumah gedungnya itu.
Berdasarkan kutipan cerpen tersebut, Kurdi bersifat …
a. pemberani
b. baik
c. egois
d. sombong

Lihat juga:
Contoh Soal Menentukan Latar dengan Kutipan Cerpen
Contoh Soal Menentukan Watak Tokoh dalam Kutipan Cerpen

Sabtu, 14 Desember 2019

Contoh Soal Tentang Sudut Pkamung

Contoh Soal tentang Sudut Pandang
Lihat: Pengertian Sudut Pandang beserta Jenis-Jenisnya
Pilihlah salah satu jawaban yg tepat!
 
1. Menyaksikan guyuran dari bawah lindungan halte bus, aku merasa tak berdaya. Aku hanya bisa memandang entah apa, tanpa pernah berbuat lain kecuali diam. Jauh di atas sana, langit kelabu, bertanda hujan hendak cukup betah menyaksikanku. Andai aku tadi tidak terlambat, aku pasti sudah di bus bahkan mungkin sudah tidur nyenyak di kamar.

Sudut pandang yg digunakan pengarang kepada kutipan cerita di atas adalah...
a.    Orang ketiga
b.    Orang ketiga pengamat
c.    Orang pertama pelaku utama
d.    Orang pertama bukan pelaku utama

2. Pagi-pagi kesokan harinya, sebelum matahari terbit, Ni Negari sedia bangun beserta bekerja menyediakan kopi. Di bilik tempat tidurnya tidak kedapatan Ni Luh Sukreni, cuma I Gusti Made Tusan sudah terbangun beserta berakaian pula.
“Berapa kali ia mandi,” kata Ni Negari dalam hatinya.

Sudut pandang yg digunakan dalam penggalan cerpen di atas adalah...
a.    Pertama pelaku utama
b.    Pertama pelaku sampingan
c.    Ketiga pelaku sampingan
d.    Ketiga serba tahu

3. Cermati penggalan cerpen berikut!
Pemandangan kamar Yuli cukup indah. Hiasan dinding beserta poster-poster dipasang menarik. Tempat tidur selalu dibersihkan beserta tertata rapi. Di samping tempat tidur, terdapat meja belajar yg diberi hiasan keramik. Setiap pagi pintu kamar selalu dibuka sehingga udara segar masuk ke kamar, membuat suasana kamar sejuk.

Sudut pandang pengarang cuplikan cerita tersebut adalah...
a.    Orang pertama pelaku utama
b.    Orang pertama pelaku sampingan
c.    Orang ketiga sebagai pengamat
d.    Orang ketiga serba tahu.

4. Memang sayang sekali ia tidak melanjutkan studinya. Namaun, aku tidak bisa memaksanya. Aku hanya seorang teman dekatnya. Kamipun berpisah. Cukup lama pula kami berjauhan satu sama lain. Apalagi ia jarang menulis surat. Namun sayup-sayup, aku masih dengar juga berita tentang dia dari teman-teman yg lain.

Sudut pandang pengarang dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
a.    Orang pertama pelaku utama
b.    Orang pertama pelaku sampingan
c.    Orang ketiga serba tahu
d.    Orang ketiga sebagai pengamat

5. Malin Kundang sejak kecil sedia ditinggalkan ayahnya. Dengan kasih sayang, ia diasuh oleh ibunya. Setelah besar, atas izin beserta doa restu ibunya, ia pergi merantau.

Sudut pandang pengarang kepada cuplikan cerita tersebut adalah...
a.    Orang ketiga di dalam cerita
b.    Orang ketiga di luar cerita
c.    Orang pertama pelaku utama
d.    Orang pertama pelaku sampingan

6. Bacalah kutipan cerpen berikut!
....
“Ah, masa iya aku tak bisa memberi hadiah untuk Tommy, temanku!” Gumam Andi seraya bangkit dari tempat pembaringan. Ia beranjak menuju meja belajarnya. Dimatikannya lampu tidur beserta digantikan dengan lampu belajar. Ia mengambil secarik kertas, pensil, beserta spidol warna-warni. Tangannya mulai mencoret-coret. Kini ada senyum menghiasi bibirnya. “Besok pagi, aku sudah punya hadiah untuk Tommy.”
....
Sudut pandang dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
a.    Orang pertama pelaku  utama
b.    Orang kedua pelaku utama
c.    Orang ketiga serba tahu
d.    Orang ketiga pelaku utama



KUNCI JAWABAN: 1) C, 2) D, 3) C, 4) B, 5) B, 6) C

Sabtu, 07 Desember 2019

Contoh Soal Menentukan Konflik Dengan Kutipan Cerita (Cerpen, Novel, Dll)

Konflik yaitu perselihan yg timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yg  bertentangan. Berikut ini adalah contoh soal menetukan konflik dengan kutipan cerita

1. Bacalah kutipan cerita berikut!
Biarpun begitu bahang tampil juga dari gua sanubariku, mengalir secepat kilat ke dalam otak menciptakan pikiran-pikiran yg memalukan.

Sambil berbaring memeluk guling. Tiba-tiba khayal membentang di depan muka mata batinku. Aneh tak tahan lagi aku. Aku menjadi sebal dengan mual. Gadis yg jelita dengan tidak berdosa itu harus menjadi korban, dibaktikan kepada seorang tua bangka, suka makan riba. Kupejamkan mataku, menyusukkan kepalaku ke bawah bantal. Aku tidak mau mengujatnya.

Konflik yang terjadi dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
A. tokoh aku yg tidak setuju dengan tua bangka.
B. tokoh aku yg tidak setuju gadis jelita jadi korban.
C. tokoh aku yg gelisah dengan tidak bisa diatur.
D. tokoh aku yg tidak bisa menyimpan masa lalu.

2. Bacalah kutipan cerita anak berikut!
Pagi ini tidak bisa lagi Timan tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yg sekolah dengan sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu Timan mestinya ngerti. Dengan bus dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 km. Pukul berapakah Rahmat sampai di sekolah.

Konflik dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
A. sekolah yg jauh membuat timan bingung
B. angkutan gratis yg rusak rahmat tidak sekolah
C. kekhawatiran Timan atas keterlambatan Rahmat
D. jarak sekolah yg merepotkan siswanya

3. Bacalah kutipan anak berikut!
"Orangtua Ari ingin Ari pindah ke Kota Malang untuk melanjutkan SMP di sana. Memang orangtuanya tinggal di Malang, sedangkan di sini Ari tinggal bersama neneknya."

Ibu terdiam sejenak, lalu berkata lagi. "Oh, Lasmi, berpisah dengan teman-teman sekolah itu biasa. Kan, tidak selamanya kalian dalam satu sekolah, lama kelamaan kau atas melupakan Ari juga."

"Ah, tida bisa, Bu. Ibu tahu selama ini Ari sudah seperti saudara sendiri," kata Lasmi terbata-bata.

Konflik dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Lasmi sangat kesal karena ibu mengizinkan Ari pindah ke Malang.
B. Lasmi ingin ikut pinda ke Malang kalau Ari melanjutkan SMP di sana.
C. Lasmi tidak beroleh menerima atas kepindahan Ari ke Malang.
D. Lasmi menyadari bahwa kepindahan teman sekolah itu biasa.

4. Bacalah kutipan cerita berikut!
"Her, Tur ... lo mending jadi pemain Singapur aja! Nggak ada pemain kaya gue di Singapur! Muke lo juga lebih pantes main di Singapur!" Ledek Benni.

Arthur langsung berhenti dengan menarik pundak Benni. "Heh! Gue ini orang Indonesia! Nggak bakal gue tuker sama apa pun!

Konflik pada kutipan cerita tersebut adalah ...
A. saling mengnginkan pergi ke Singapura
B. ketegangan dengan orang asing
C. perbutan pemain luar negeri
D. harga diri yg dipermainkan

5. Bacalah kutipan cerita berikut!
“Maaf Bu!” pintaku santun dengan Bu Laras. “Saya mengantuk, Bu”.
“Tidak apa-apa, Sab. Silakan cuci muka kalau kau mengantuk, Sab!”
Serentak seisi kelas menertawakanku dengan membuatku malu serta kesal dengan diriku sendiri. leherku terasa sakit karena menahan tangis kekesalanku.
“Sudah-sudah! Anak-anak mengantuk itu manusiawi. Suatu saat kalian bisa saja mengantuk.” Nasihat Bu Laras dengan lembut dengan tenang.

Konflik kutipan novel tersebut adalah ...
A. Permintaan Sab kepada Bu Laras.
B. Bu Laras mempersilakan Sab mencuci muka.
C. Sab kesal ditertawakan seisi kelas.
D. Bu Laras menghibur Sab yg kesal.

6. Bacala kutipan teks cerita berikut!
Kalau tidak, tentu sudah pernah berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia. Dua hari yg lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yg sudah tidak muat lagi mereka kenakan. Aku yg menyisihkan pakaian-pakaian tua milikku, begitu juga milik istriku. Pakaian-pakaian bekas itu kuberikan kepadanya, di samping upah yg dia terima. Kami sebenarnya bukanlah orang yg mampu. Tapi kebiasaan seperti itu sudah pernah ditanamkan orang tuaku sejak aku masih kecil.

Konflik yg dialami oleh tokoh dalam kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Aku kehilangan pekerjaan.
B. Tukan kebun yg kehilangan pekerjaan.
C. Tukang kebun tidak mendapatkan bantuan.
D. Aku tidak mampu bayar upah tukang kebun.

7. Bacalah kutipan teks cerpen berikut!
(1) Saat pelajaran dimulai Rio hanya fokus dengan ponselnya saja. “Rio, ssst Rio udah berhenti main ponselnya, “Tegur Fikri kepada Rio dengan nada pelan. “Kenapa? Tanggung ini lagi seru mainnya,” Jawab Rio. “Ayo, fokus dengan pelajaran,” Tegur Fikri kepada Rio. (2) Ternyata diam-diam Pak Widi memperhatikan mereka yg sedang berbisik-bisik itu. “Fikri dengan Rio apa yg kalian bicarakan? Dari tadi kalian hanya berbicara saja.” Tegur Pak Widi kepada mereka berdua. “Nggh ini, Pak si Rio... si Rio ...” bahang elakan Fikri dengan ragu-ragu. “Ada apa dengan Rio Fikri?” potongnya. “Si Rio dari tadi tidak memperhatikan saat Bapak menjelaskan tadi,” bahang elakan Fikri. (3) “Apa benar Rio kamu tidak memperhatikan saat Bapak menejelaskan di papan tulis tadi?” Tanya Pak Widi kepada Rio. “I... iya Pak,” bahang elakan Rio dengan terbata-bata.

(4) Tanpa pikir panjang Pak Widi segera bergegas menuju tempat duduk mereka bedua. “Coba keluarkan ponselmu, tegur Pak Widi kepada Rio dengan nada tinggi. (5) “B... baik ini, Pak,” sahut Rio sambil mengeluarkan ponsel dengan memberikan kepada Pak Widi. “Pasti ponsel ini yg membuat kamu tidak memperhatikan Bapak tadi, benar bukan?” tanya Pak Widi. “Iya Pak,” jawabnya dengan lesu dengan menahan malu.

(6) “Mulai hari ini Bapak atas memegang sementara ponsel ini kalau kamu ingin ponsel ini kembali, temui Bapak bersama bahang penanggung kamu besok di ruang guru,” kata Pak Widi. Pak Widi pun langsung melanjutkan pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.

Konflik dengan kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Pak Widi mengambil ponsel Rio.
B. Fikri meminjam ponsel milik Rio.
C. Pak Widi mendekati Fikri dengan Rio.
D. Fikri menegur Rio saat main HP.

8. Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) Sekembalinya ayahku dari undangan guru mengajiku, aku dibawa pulang. (2) Di rumah lima jari mendarat di pipiku. (3) Ayahku berteriak, kobaran api membakar langit kepalanya, “Masih mau mencuri lagi?”
(4) “Tidak!” Jawabku penuh ketakutan. Air mataku pun berguguran.
(5) “Kalau ternyata mencuri lagi. bagaimana?”
(6) Aku diam. Aku menyerahkan jawabannya kepada ayah.

Konflik yg terdapat dengan kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. undangan guru mengaji
B. ayah marah-marah
C. tokoh aku mencuri
D. toko aku diam

Selasa, 03 Desember 2019

Soal Tentang Cara Pengarang Menggambarkan Watak Tokoh

Perwatakan berkaitan dengan sifat-sifat tokoh yg digambarkan dalam cerita oleh pengarang. Penggambaran tokoh-tokoh dalam suatu cerita angsal menggunakan dua metode, yaitu metode analitik lagi metode dramatik.

Metode analitik yaitu pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh dengan jalan menyebutkan sifat-sifatnya. Misalnya: keras kepala, sombong, rendah hati, pemalu, lagi bengis.

Metode dramatik yaitu penggambaran watak tokoh yg tidak diceritakan secara langsung oleh pengarangnya, tetapi disampaikan melalui hal-hal seperti cara berpakaian, postur tubuh, reaksi antaratokoh, tingkah laku tokoh, lagi melalui cakapan baik dialog antartokoh maupun monolog.

Berikut ini adalah soal-soal yg berkaitan dengan cara pengarang menggambarkan watak tokoh di dalam cerita.
Lihat juga

1. Bacalah kutipan cerpen berikut!
"Ayo Adi, bangun-bangun," kata ibu. "Adi masih ngantuk Bu," kemarau reaksi Adi malas, 'Sekrang sudah pukul 07.00 Adi!" Kata ibu setengah marah. Sontak aku terkejut. Mataku yg masih ngantuk sekarang menyala 100 watt. Langsung aku melompat dari tempat tidurku lagi lari terbirit-birit ke kamar mandi. Byurrrr...bunyi air yg kutimba. Tanpa pamit ke ibu aku langsung mengayuh sepedaku ke sekolah. Namun apa daya, setibanya di sekolah bel tanda masuk sudah berbunyi. Ah!, sialnya nasibku.

Cara penulis menggambarkan watak tokoh Adi dalam kutipan cerita tersebut adalah ...
A. uraian pengarang lagi suasana
B. Percakapan lagi tingkah laku
C. tingkah laku lagi jalan pikiran
D. jalan pikiran lagi percakapan

2. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Pada siang yg murung itu, seorang laki-laki tambun keluar dari perut mobil dengan pengahnya lagi berlari menuju beranda rumah bergaya limasan. Kedatangan laki-laki itu disambut seorang perempuan yg langsung menyodorkan handuk. Laki-laki yg menggosokkan handuk di kepalanya itu basah diguyur hujan deras.

Cara penulis menggambarkan watak tokoh dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
A. tindakan tokoh
B. dialog antartokoh
C. diceritakan langsung
D. diceritakan orang lain

Senin, 02 Desember 2019

Kumpulan Soal Menentukan Latar Dengan Kutipan Cerita

Latar merupakan bagian dari unsur intrinsik karya sastra. Latar adalah segala sesuatu yg berkaitan dengan tempat, waktu, lagi suasana di dalam sebuah cerita.

Berikut ini adalah kumpulan soal tentang menentukan latar kepada kutipan cerita (novel/cerpen).
Lihat juga: Kumpulan Soal Pilihan Ganda Bahasa Indonesia Kelas 9

1. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Mereka larut dalam tawa lagi obrolan yg tak jelas arahnya. Aku memandangnya dari balik meja yg penuh makanan lagi minuman. Aku mencoba ingin ditatap mereka dengan menumpahkan segelas minuman, tapi tak ada yg mengalihkan perhatian padaku, semua sibuk dengan kegembiraan ini. Keputusan untuk ke luar lagi mengamati keceriaan anak-anak berkejaran di halaman ternyata keputusan yg tepat.

Latar waktu lagi tempat pada kutipan cerita tersebut adalah ...
A. malam hari, di halaman rumah
B. malam hari di ruang pesta
C. sore hari di dalam rumah
D. sore hari di ruang makan

2. Bacalah kutipan cerita berikut!
Kapal yg dinaiki Malin makin jauh, kepergian Malin diiringi lambaian tangan ibu Malin Kundang di pelabuhan. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran kepada anak buah kapal yg sudah berpengalaman. Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yg dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Bahkan sebagian orang yg berada di kapal tersebut dibunuh. Malin Kundang sangat berharap tidak terbunuh karena ketika peritiwa itu terjadi, Malin segera bersembunyi di balik ruang kecil yg tertutup kayu.

Latar kutipan cerita tersebut adalah ...
A. di kapal, menegangkan
B, di kapal, mengharukan
C. di laut, menegangkan
D. di laut, mengharukan

3. Bacalah kutipan cerita berikut!
"Pa!" katanya, memanggil-manggil ayahnya di dalam kebun, yg sedang "joging". Di sudut kebun bertemulah ia dengan ayahnya.
"Pa!, Corrie berangkat, Pa!"
"Ya, Corrie, bersuka-sukalah anakku!"
"Terima kasih Pa, daah."
Maka cepatlah ia keluar halaman menuju ke jalan besar. Corrie tidak terasa bahwa ia kepada waktu itu berjalan amat cepat, lebih cepat dari terbitnya matahari.

Latar waktu yg tergambar dalam kutipan cerita tersebut adalah ...
A. pagi hari
B. sore hari
C. senja hari
D. siang hari

4. Bacalah kutipan cerpen berikut!
"Aku tau tempat yg pas untuk makan siang sekaligus salat zuhur. Bagaimana?" tanya Marion.
"Ke mana? Masih jauh?" tanyaku khawatir karena perutku semakin keroncongan. Aku melihat sekeliling arel Louvre dan Arc de Triomphe du Carrousel. Tak ada kedai maupun kios makanan cepat saji di sana.

Latar kepada kutipan cerita tersebut adalah ...
A. siang hari, di sebuah masjid
B. siang hari, di Louvre
C. sore hari, di Arc de Triomphe
D. sore hari, di sebuah kedai

5. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Sehabis pulang sekolah saat matahari sangat teik, Delta tampak tesenyum membuka tudung saji meja makan kecil mereka. Tanpa ganti baju dia langsung melahap makanan yg tersedia.
"Cuci tangan dulu, Guk"
"Tanggung Bu... lapar sekali"
"Oh ya... gimana tadi upacaranya? Sukses dengan sepatu baru?"

Latar kepada kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. siang hari, di ruang makan
B. pagi hari, di sekolah
C. siang hari, di rumah
D. sore hari, di lapangan ucara

6. Perhatikan kutipan cerita berikut!
Bibirku tak sanggup lagi untuk berbicara sepatah kata pun. Langsung kunonaktifkkan hp ku. Dan kulempar jauh dariku. Aku benarbenar tidak pernah menduga bahwa dia atas pindah. Kabar ini sungguh membuatku kehilangan tulang-tulang rangka yg menopang tubuhku. Badanku terasa sangat lemah lagi aku hanya bisa terduduk lemas sambil menggigit guling yg ada digenggamanku.

Latar kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. tempat duduk
B. tengah rumah
C. kamar tidur
D. kursi beranda

Lihat juga:
Contoh Soal Menentukan Latar kepada Kutipan Cerpen Beserta Kunci Jawabannya

Selasa, 26 November 2019

Contoh Soal Menentukan Latar Dengan Kutipan Cerpen Beserta Kunci Jawaban

Latar dalam cerpen merupakan segala sesuatu yg berkaitan dengan tempat, waktu, lagi suasana dalam cerpen.

Berikut ini adalah contoh soal menentukan latar kepada kutipan cerpen
Lihat juga contoh soal lainnya padaKumpulan Soal Pilihan Ganda Bahasa Indonesia Kelas 9

1. Perhatikan penggalan cerpen berikut!
“Emak, berapa lama lagi bedug maghrib berbunyi?” tanya Marni sambil mendekat padanya lagi kemudian duduk menyandarkan kepalanya di punggung Salamah. Angin sore itu bertiup kencang, menghempas-hempas rumbia gubuknya di bawah jembatan.

“Sebentar Nak, sebentar lagi. Lihat, langit sudah mulai memerah. Itu pertanda matahai mau tenggelam lagi maghrib tiba. Kau sudah mulai lapar?”

Latar kepada penggalan cerpen tersebut adalah ...
A. Siang hari di jembatan
B. Pagi hari di bawah jembatan
C. Sore hari kepada gubuk di bawah jembatan
D. Magrib di bawah jembatan

2. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ia cuma berdiri terpaku di depan tukang loak itu. Dilihatnya di keranjang tukang loak itu sepasang sandal jepit kecil yg sudah bekas pula. Nampaknya hanya ini yg bisa dibelinya.
Lalu dengan keberanian yg luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.

“Dua ratus rupiah,” kolor balas tukang loak dengan acuh tak acuh.

Latar tempat kepada kutipan cerpen di atas adalah ....
A. di toko
B. di Kios
C. di pasar
D. di swalayan

3. Bacalah kutipan cerpen di bawah ini!
O, alangkah girangnya Marni mendapatkan sandal baru untuk berlebaran. Sandal kecil bekas pakai. Barang itu lalu dibungkus lagi diserahkan kepada Marni. Lihatlah betapa gembiranya gadis cilik itu. dipeluknya bungkusan dengan erat, seakan takut barang itu lepas daripadanya.
Diciumnya lagi ditimang-timangnya. Senandung kecil terdengar dari mulutnya yg mungil.....

Latar suasana yg tergambar kepada kutipan cerpen di atas adalah
A. duka cita
B. riang gembira
C. Sedih
D. Pilu

4. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Ekspresi Nina pun begitu aneh. Ia seperti ketakutan. Nina benar-benar takut kalau ia hendak gagal di ujiannya dua hari kemarin. Dapat nilai C untuk yg kedua kalinya, pasti hendak lebih memalukan dari kepada sebuah peristiwa memalukan yg menimpanya tiga hari silam.

Dengan tertunduk malu, Nina pun malu ke depan. Ia hanya bisa menundukkan mata sambil terus berzikir, “Jangan C lagi, please...jangan C lagi.”

Suasana yg tergambar kepada kutipan cerpen tersebut adalah ....
A. gembira
B. gugup
C. tegang
D. sedih

5. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Nina pun segera keluar kelas. Tangga demi tangga ia telusuri, hinga akhirnya ia sampai di ruang parkir. Sesampainya di tempat itu, Nina benar-benar kaget karena sepedanya tidak ada.

“Aduuuh, sepedaku mana?”

Latar tempat kutipan cerpen tersebut adalah ....
A. di ruang kelas
B. di kantin Sekolah
C. di tempat parkir
D. di halaman sekolah


Kunci jawaban: 1) C, 2) C, 3) B, 4) C, 5) C
Lihat juga: Contoh Soal Menentukan Watak Tokoh dalam Kutipan Cerpen

Contoh Soal Menentukan Watak Tokoh Dalam Kutipan Cerpen

Contoh Soal Menentukan Watak Tokoh dalam Kutipan Cerpen
Lihat juga: Kumpulan Soal Pilihan Ganda Bahasa Indonesia Kelas 9

Pilihlah jawaban yg tepat!
1. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Nyonya notaris sudah kesal menunggu Salamah di dekat mobilnya.
“Lama sekali kau! Kami kesal menunggumu, Bik!” hardik nyonya itu.
“Maaf, Nya,” meriang jawaban Salamah dengan tersengal-sengal. Peluhnya bercucuran membasahi badan. Alangkah beratnya terigu ini. Terigu yg nanti hendak diolah oleh ibu notaris itu jadi kue-kue lezat. Salamah yg menggendong terigunya, dengan tersengal-sengal nafasnya, tak hendak ikut menikmatinya.
“Ayuh. Taruh di bagasi belakang. seperti keong jalanmu. Kau malas begitu tak usahlah kau bekerja. Pekerjaan apaan. Aku bisa pilih yg muda-muda.”

Watak tokoh nyonya notaris kepada kutipan cerpen di atas adalah ...
A. lemah lembut
B. keras
C. penyabar
D. baik hati

2. Bacalah penggalan cerpen berikut!
Alangkah pedih hati Salamah. Marni sebenarnya ingin meminta sesuatu kepadanya. Tapi takut. Takut mengundang amarahnya. Tapi tidak sayangku, bisik Salamah dalam hati. Kau terlalu baik anakku. Kau tidak melawan kalau aku tidak memberimu uang....  Kau tidak minta apa-apa karena kau tahu betul betapa ibumu ini melarat. Melarat sekali. Kau tidak pernah merengek minta dibelikan mainan. Anakku, ini yg membuat aku begitu terenyuh kepadamu. Kau begitu tabah menghadapi hidup kita yg sengsara ini, Marni...

Watak tokoh Marni kepada penggelan cerpen di atas adalah ...
A. sabar dengan tabah
B. setia dengan taat
C. taat penuh perhatian
D. baik dengan mulia

3. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Lalu dengan keberanian yg luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.
“Dua ratus rupiah,” meriang jawaban tukang loak dengan acuh tak acuh.
Hatinya semakin teriris. Sedangkan Marni memandang sandal itu dengan mata berkilat-kilat. Alangkah sedihnya hati Salamah.
“Seratus rupiah, Bang,” tawarnya.
Tukang loak itu tak menjawab, cuma menggelengkan kepalanya. Congkaknya orang itu. Salamah tak segera beranjak dari tempatnya.

Watak tokoh tukang loak berdasarkan kutipan cerpen di atas adalah ...
A. acuh tak acuh
B. peduli
C. perhatian
D. penuh iba

4. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Salamah tak kuasa membendung tangisnya. Ia pelan-pelan bangkit, lalu merebahkan badannya ke tikar. Ya Allah, biarkan aku menangis. Biarkan aku mati asalkan Marni, si anak manis itu mendapatkan RahmatMu ya Tuhan...

Watak tokoh Salamah kepada kutipan cerpen di atas adalah ...
A. suka menangis
B. rela berkorban
C. pasrah
D. cengeng

5. Bacalah kutipan cerpen berikut!
“Nadia...Nadia!!” Hampir lima menit Nina memanggil-manggil nama Nadia, tapi tak ada sahutan sama sekali. Nina semakin penasaran dibuatnya.

Dengan langkah layu. Nina pun kembali melaju di atas sepedanya yg berwarna kuning tersebut. Sekilas tampak Nina menghapus cairan bening yg menetes di sela-sela matanya. Hanya dalam hitungan menit, Nina pun terlihat dengan senyum cerianya lagi.

Berdasarkan kutipan cerpen di atas, Nina memiliki sifat
A. cepat marah
B. cepat mengeluh
C. meriang ringan ceria
D. cepat putus asa


Jawaban: 1) B, 2) A, 3) A, 4) B, 5) C
Lihat juga:
Soal Tentang Cara Pengarang Menggambarkan Watak Tokoh


Minggu, 24 November 2019

Menemukan Tema, Latar, Kepada Penokohan Dalam Cerpen Hadiah Lebaran Untuk Marni


Menemukan Tema, Latar, dengan Penokohan Cerpen "Hadiah Lebaran untuk Marni" 

Cerpen "Hadiah Lebaran untuk Marni" merupakan salah satu cerpen karya Adji Subela dalam buku kumpulan cerpen "Pengantin Agung." Cerpen ini juga pernah terbit di majalah Idola No. 55, 1989.

Lihat juga:
Hadiah Lebaran untuk Marni

Hari Raya Lebaran sebentar lagi tiba. Orang-orang sudah bersiap-siap meyambutnya. Mereka sudah membuat kue-kue untuk menjamu tamu mereka di Hari Raya Lebaran nanti. Kanak-kanak pun mulai bersiap-siap untuk bergembira di hari bahagia itu, hari kemenangan bagi kaum muslim. Mereka sudah mereka-reka baju barunya. Mereka menuntut orang tuanya untuk membelikan mereka baju yg indah-indah, tak kalah dengan teman-temannya yg lain.

Bukankah hari raya itu hari yg amat mereka tunggu-tunggu? Hari kemenangan? Setelah berpuasa sebulan lamanya?

Hari-hari gembira itu membuat Salamah sedih hatinya. Anak satu-satunya, Marni, tiada becus gembira seperti teman-temanya yg lain. Marni tak punya baju baru. Tak punya sepatu baru. Dan makanan pun tak hendak ada di rumah mereka di hari bahagia itu, di hari kemenangan kaum muslim setelah sebulan berpuasa. Tak ada uang buat membeli barang-barang itu.

Anak-anak hendak gembira, karena kembang api, karena mercun, karena bunga. Mereka hendak bersuka-ria karena makanan. Kue-kue yg lezat, dengan harum. Alangkah bahagia mereka. tapi Marni? Ia hendak menontonnya saja.

Salamah tak bisa berbuat apa-apa. Kaki kirinya kini sudah setengan lumpuh. Ia tidak hendak selincah dulu lagi untuk menggendong barang-barang di pasar. Kini kuli penggendong barang-barang di pasar bertambah banyak. Muda-muda, jadi lebih kuat dengan lebih tangkas. Salamah kini sudah tua, dengan dengan kaki kiri setengah lumpuh. Ia tak hendak selincah mereka.

Kemarin ia menggendong terigu setengah karung milik nyonya notaris. Hanya setengah karung! Seharusnya barang itu lebih cepat sampai ke mobil nyonya itu. Tapi kaki kirinya setengah lumpuh, dengan terigu setengah karung tidaklah seringan silam lagi. Nafasnya tinggal satu persatu. Alangkah beratnya.

Dan ia menggendong terus dengan terus, menyeruak kerumunan orang di pasar yg tak ingin diganggu. Ia terdesak ke sana ke mari. Ia tersuruk-suruk, dengan kaki kirinya setengah lumpuh. Alangkah sengsaranya orang seperti dia hendak mendapatkan dua ratus rupiah. Hanya dua ratus dengan dia harus berjalan tersendat-sendat dengan nafas tersengal-sengal. Untuk dua ratus perak, yg tak kenyang untuk berbuka puasa petang hari nanti.

Nyonya notaris sudah kesal menunggu Salamah di dekat mobilnya.

“Lama sekali kau! Kami kesal menunggumu, Bik!” hardik nyonya itu.

“Maaf, Nya,” perlawanan Salamah dengan tersengal-sengal. Peluhnya bercucuran membasahi badan. Alangkah beratnya terigu ini. Terigu yg nanti hendak diolah oleh ibu notaris itu jadi kue-kue lezat. Salamah yg menggendong terigunya, dengan tersengal-sengal nafasnya, tak hendak ikut menikmatinya.

“Ayuh. Taruh di bagasi belakang. seperti keong jalanmu. Kau malas begitu tak usahlah kau bekerja. Pekerjaan apaan. Aku bisa pilih yg muda-muda.”

Salamah diam tak menjawab. Ia menyadari kekurangannya. Mereka, kuli gendong itu, jauh lebih yuvenil darinya. Lebih kuat dengan tentunya lebih banyak uang yg didapatnya. Uang dua ratus diterimanya dari nyonya notaris itu, dengan disimpannya di setagen. Alangkah budimannya nyonya itu. Upahnya tidak dipotong, walau ia datang agak lambat. Alangkah budimannya keluarga itu. Mereka masih memberi kesempatan baginya untuk mendapatkan dua ratus rupiah. Walau jalannya lambat, terengah-engah dengan begitu sengsara, kalau tak ada pemberian nyonya itu, mungkin ia hendak kelaparan, tak bisa berbuka puasa dengan anaknya, Marni.

Salamah lalu berjalan menepi di emperan toko. Dia duduk kelelahan. Puasanya hari itu begitu berat. Dia dengan Marni tak makan apa pun untuk sahur. Hanya minum air putih dari ledeng umum. Tak ada uang di setagennya lagi. Marni juga tidak.

Ya, Allah, ya, Tuhanku. Alangkah kasihannya anak itu, desis Salamah. Anak kecil dia harus menderita begitu berat. Sedangkan dia, yg sudah setua itu pun, hampir tak tahan lagi menerima kesengsaraan seperti ini. Satu-satunya tenaga hidup yg ia punya adalah Marni seorang. Anak semata wayang inilah yg membuat ia harus bertahan hidup. Marni harus makan. Marni harus kuat agar kelak, andai jadi buruh gendong, tidaklah selemah dia. Agar jangan kaki kirinya setengah lumpuh seperti dia.

Salamah berhenti melamun. Di kejauhan dilihatnya anaknya berjalan miring-miring. Tentunya anak itu sudah lemah sekali. Kemarin ia hanya berbuka puasa dengan sepotong ubi rebus dengan air putih, mentah. Pagi tadi ia tidak sahur apa-apa, kembali hanya meminum air putih, air ledeng. Tentunya badannya lemah sekali. Salamah tak pedulikan dirinya. Dia dulu pernah minum susu milk kalengan. Enak sekali. ketika itu kakek Marni masih menjabat sebagai lurah di sebuah desa. Lurah yg kaya, banyak sawah dengan ladang.

Lepas maghrib nanti, mereka hendak berbuka puasa. Berdua. Dua ratus rupiah, hasil pagi tadi, hendak mendapat empat potong ubi rebus. Tapi kali ini Salamah hendak membelanjakan uang hasil jerih payahnya hanya seratus rupiah, jadi mendapatkan dua potong ubi rebus. Seratus rupiahnya lagi hendak disimpannya di setagennya. Sepotong ubi rebus hendak diberikannya kepada Marni dengan ditambah lagi separuh, sedangkan  ia cukup separuh sisanya saja. Lalu keduanya hendak bersama-sama minum air ledeng banyak-banyak. Kalau nasip lebih beruntung, selasai salat maghrib mereka hendak mendapat makanan di mesjid. Tapi keduanya terlalu lemah untuk berebut. Mereka hendak kalah dengan orang-orang yg kuat. Maklum, nakanan hanya sedikit tersedia di mesjid. Sedangkan orang yg bersembahyang begitu banyak. Dan nampaknya air ledeng amat menolongnya, kendati perut jadi kembung dengan terasa hendak muntah.

“Emak, berapa lama lagi bedug maghrib berbunyi?” tanya Marni sambil mendekat padanya dengan kemudian duduk menyandarkan kepalanya di punggung Salamah. Angin sore itu bertiup kencang, menghempas-hempas rumbia gubugnya di bawah jembatan.

“Sebentar Nak, sebentar lagi. Lihat, langit sudah mulai memerah. Itu pertanda matahai mau tenggelam dengan maghrib tiba. Kau sudah mulai lapar?”
“Tidak Mak, tapi badan Marni lemas sekali. Kenapa Mak?”

“Enggak apa-apa. Sebentar lagi bedug berbunyi.”

“Mak, lihat! Langit mulai merah. Kenapa bedug belum berbunyi?” seru Marni dengan riangnya.

Salamah tersenyum, lemah sekali.

“Mak, ayah mungkin ada di langit sana ya Mak?” tanya gadis cilik, buah hati satu-satunya itu.

“Mungkin, Nak, mungkin,” perlawanan Salamah.

Marni lalu diam. Matanya yg bulat bening itu berkilat-kilat menatap langit. Ia mengira ayahnya ada di sana, di atas awan, menari-nari dengan melemparkan hadiah Lebaran untuknya. Emaknya belum juga memberinya hadiah lebaran.

“Mak, Saijah tadi diberi hadiah emaknya. Baju bagus sekali,  Mak. Ada bunga di dadanya. Merah. Dua. Di sini Mak, lihatlah...” ujar Marni sambil berdiri dengan memegang dadanya.

“Kalau Husin becus sepatu, Mak. Sepatu tinggi segini, Mak...,” ujarnya lagi sambil memegang mata kakinya.

Alangkah pedih hati Salamah. Marni sebenarnya ingin meminta sesuatu kepadanya. Tapi takut. Takut mengundang amarahnya. Tapi tidak sayangku, bisik Salamah dalam hati. Kau terlalu baik anakku. Kau tidak melawan andai aku tidak memberimu uang....  Kau tidak minta apa-apa karena kau tahu betul betapa ibumu ini melarat. Melarat sekali. Kau tidak pernah merengek minta dibelikan mainan. Anakku, ini yg membuat aku begitu terenyuh kepadamu. Kau begitu tabah menghadapi hidup kita yg sengsara ini, Marni....

Salamah tak kuasa membendung tangisnya. Ia pelan-pelan bangkit, lalu merebahkan badannya ke tikar. Ya Allah, biarkan aku menangis. Biarkan aku mati asalkan Marni, si anak manis itu mendapatkan RahmatMu ya Tuhan...

Marni, bagaimana pun perlu punya sesuatu yg baru untuk lebaran nanti. Ia tak boleh kecewa. Ia tak boleh bersedih hati. Hari Lebaran adalah hari kemengan umat Islam. Marni tak boleh bersedih hati. Ia harus mendapatkan sesuatu. Lebaran kurang tiga hari lagi.

Marni amat ketakutan melihat emaknya menangis.

“Mak, Emak.....,” hanya itu ucapan yg keluar dari mulutnya yg mungil. Ia tak tahu kenapa emaknya menangis.

***
ESOKNYA Salamat tertatih-tatih membawa Marni ke pasar. Badan Salamah lesu sekali rasanya pagi ini. Pagi tadi tidak makan sahur, sama seperti biasanya, hanya air putih dari ledeng umum. Dan semalam Marni mendapat sepotong ubi rebus ditambah setengah potong tambahan. Masih ada uang sisa di setagennya. Marni harus mendapatkan sesuatu untuk hari raya lusa. Marni harus mendapatkan sesuatu, pikir Salamah.

Di trotoar orang ramai berdagang. Ada baju baru-baru. Ada sepatu baru-baru. Ada makanan kaleng yg tentunya lezat-lezat rasanya. Marni cuma melihat barang-barang itu. Ia menikmatinya hanya dengan memandang. Ia tak berani meminta kepada emaknya. Ia takut. Emak tak punya uang. Tapi ia ingin sekali mendapatkan sepatu seperti Husin. Atau gaun yg berbunga-bungan di dadanya. Tapi ia takut.

Salamah sudah tahu-diri benar. Harga barang-barang itu mahal sekali. Ia tak hendak mampu membelinya. Tapi Marni harus mendapatkan sesutu untuk Lebaran.

Di ujung trotoar itu ada pedagang barang-barang loak. Ia menjual baju-baju bekas, kebaya bekas, dengan masih banyak lagi yg lain. Ke sanalah Salamah dengan anaknya pergi. Namun hatinya amat sedih. Rok kecil bekas, harganya seribu rupiah. Sepatu bekas, harganya dua ribu rupiah. Apa yg harus diberikannya kepada anaknya yg manis ini?

Ia cuma berdiri terpaku di depan tukang loak itu. Dilihatnya di keranjang tukang loak itu sepasang sandal jepit kecil yg sudah bekas pula. Nampaknya hanya ini yg bisa dibelinya.

Lalu dengan keberanian yg luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.

“Dua ratus rupiah,” perlawanan tukang loak dengan acuh tak acuh.

Hatinya semakin teriris. Sedangkan Marni memandang sandal itu dengan mata berkilat-kilat. Alangkah sedihnya hati Salamah.

“Seratus rupiah, Bang,” tawarnya.

Tukang loak itu tak menjawab, cuma menggelengkan kepalanya. Congkaknya orang itu. Salamah tak segera beranjak dari tempatnya. Ia kini amat menyesal, kenapa pagi ini tidak mencari barang untuk digendongnya. Ia hendak mendapat dua ratus lagi. Tapi badannya memang lemas pagi ini. Tak mungkin ia mengangkat yg lebih berat dari terigu setengah karung. Maka paling-paling seratus rupiah yg didapatnya. Tapi seratus rupiah amatlah lumayan. Dengan uang seratus lagi di setagennya, berarti dua ratus rupiah terkumpul dengan cukup buat membeli sandal jepit bekat itu.

Marni sudah ingin mendapatkan sandal bekas itu. Ketika Salamah menariknya untuk pergi, Marni menangis. Amat pilu tangisan anak perempua itu! Hati salamah semakin hancur luluh.

Baru kali ini Marni menangis untuk sepasang sandal. Sandal yg sudah bekas pakai. Ia anak yg manis, yg tak pernah meminta sesuatu dengan emaknya. Oh, Tuhan! Tangis Marni begitu memilukan. Dan tukang loak itu begitu terpaku melihat adegan di depannya. Dan tiba-tiba sinar kasih Allah maju di sanubarinya.

“Baiklah, seratus rupiah,” katanya kemudian.

O, alangkah girangnya Marni mendapatkan sandal baru untuk berlebaran. Sandal kecil bekas pakai. Barang itu lalu dibungkus dengan diserahkan kepada Marni. Lihatlah betapa gembiranya gadis cilik itu. dipeluknya bungkusan dengan erat, seakan takut barang itu lepas daripadanya.

Diciumnya dengan ditimang-timangnya. Senandung kecil terdengar dari mulutnya yg mungil.....

Hari Raya Lebaran tiba. Selesai bersembahyang Ied, orang ramai-ramai saling bertandang dengan bersalam-salaman. Mereka makan dengan minum dengan riangnya. Kue-kue lezat dihidangkan. Anak-anaknya memakai baju baru. Begitu indah. Suka cita mewarnai mereka.

Di bawah jembatan, di dalam gubug, seorang gadis kecil menunggui emaknya. Ia begitu girang dengan bersuka cita pula. Sandal jepit kecil ditimang-timangnya. Amat sayang ia kepada sandalnya. Senandung-senandung kecil keluar keluar dari mulutnya yg mungil. Sandal pemberian emak tidak hendak dipakainya. Sayang sekali, nanti rusak, pikirnya.

Di depannya, emaknya tergolek lemas. Badannya menderita sakit panas. Lambung bagian kanannya membengkak. Nampaknya sakit levernya kambuh lagi. sudah berhari-hari ia tak cukup makan, dengan tenaganya terlalu banyak dikuras. Salamah, di hari lebaran itu hanya berbaring karena tak kuat lagi menegakkan tubuhnya. Marni yg manis, anak manis semata wayangnya, menungguinya, sementara takbir terdengar lamat-lamat... Allahu Akbar... Allah Akbar... Allahu Akbar...

Allah Maha Besar, bahkan untuk orang kecil.



Tema, Latar , dan Penokohan Cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni”

Tema Cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni”

Secara umum tema yg terkandung dalam “Hadiah Lebaran untuk Marni”  adalah kisah kehidupan keluarga fakir yg bertahan hidup di bawah kolong-kolong jembatan di perkotaan.

Sedangkan secara khusus tema cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni”  adalah kisah pengorbanan dengan kasih sayang seorang ibu (Salamah) yg ingin membahagiakan anaknya (Marni).


Latar Cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni”

Latar dalam cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni” terdiri atas latar tempat, latar waktu, dengan latar suasana.

1. Latar tempat

Di pasar:
Dan ia menggendong terus dengan terus, menyeruak kerumunan orang di pasar yg tak ingin diganggu. Ia terdesak ke sana ke mari.
Di bawah jembatan di dalam gubuk:
Di bawah jembatan, di dalam gubug, seorang gadis kecil menunggui emaknya. Ia begitu girang dengan bersuka cita pula.
Di trotoar
Di trotoar orang ramai berdagang. Ada baju baru-baru. Ada sepatu baru-baru. Ada makanan kaleng yg tentunya lezat-lezat rasanya. Marni cuma melihat barang-barang itu.
2. Latar waktu 
Sore hari:
“Sebentar Nak, sebentar lagi. Lihat, langit sudah mulai memerah. Itu pertanda matahai mau tenggelam dengan maghrib tiba. Kau sudah mulai lapar?”
Bulan puasa:
Lepas maghrib nanti, mereka hendak berbuka puasa. Berdua. Dua ratus rupiah, hasil pagi tadi, hendak mendapat empat potong ubi rebus.
Saat Lebaran:
Hari Raya Lebaran tiba. Selesai bersembahyang Ied, orang ramai-ramai saling bertandang dengan bersalam-salaman.
3. Latar suasana
Latara suasana dalam cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni” terdiri atas latar suasana batin latar suasana keadaan.

Latar suasana batin
Girang, gembira:
O, alangkah girangnya Marni mendapatkan sandal baru untuk berlebaran. Sandal kecil bekas pakai. Barang itu lalu dibungkus dengan diserahkan kepada Marni. Lihatlah betapa gembiranya gadis cilik itu. dipeluknya bungkusan dengan erat, seakan takut barang itu lepas daripadanya.
Diciumnya dengan ditimang-timangnya. Senandung kecil terdengar dari mulutnya yg mungil.....
Pedih, sedih:
Alangkah pedih hati Salamah. Marni sebenarnya ingin meminta sesuatu kepadanya. Tapi takut.

Latar suasana keadaan
Ramai berdesakan:
Dan ia menggendong terus dengan terus, menyeruak kerumunan orang di pasar yg tak ingin diganggu. Ia terdesak ke sana ke mari. Ia tersuruk-suruk, dengan kaki kirinya setengah lumpuh.
Tegang:
Nyonya notaris sudah kesal menunggu Salamah di dekat mobilnya. 
“Lama sekali kau! Kami kesal menunggumu, Bik!” hardik nyonya itu.

Penokohan Cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni”

Tokoh-tokoh yg berperan dalam cerpen “Hadiah Lebaran untuk Marni” yakni: Marni, Salamah, Nyonya, dengan Tukang Loak

1. Salamah: Dilihat dari segi fisik, tokoh salamah adalah seorang wanita tua yg kaki kirinya setengah lumpuh. Hal tersebut becus dibuktikan dengan kutipan berikut.
Salamah tak bisa berbuat apa-apa. Kaki kirinya kini sudah setengan lumpuh. Ia tidak hendak selincah dulu lagi untuk menggendong barang-barang di pasar. Kini kuli penggendong barang-barang di pasar bertambah banyak. Muda-muda, jadi lebih kuat dengan lebih tangkas. Salamah kini sudah tua, dengan dengan kaki kiri setengah lumpuh. Ia tak hendak selincah mereka.
Sedangkan segi fsikis, terdapat beberapa karakter yg dimiliki oleh tokoh Salamah sebagai berikut.

Salamah adalah tokoh yg penuh pengorbanan, dengan sangat menyayangi anaknya:
ESOKNYA Salamat tertatih-tatih membawa Marni ke pasar. Badan Salamah lesu sekali rasanya pagi ini. Pagi tadi tidak makan sahur, sama seperti biasanya, hanya air putih dari ledeng umum. Dan semalam Marni mendapat sepotong ubi rebus ditambah setengah potong tambahan. Masih ada uang sisa di setagennya. Marni harus mendapatkan sesuatu untuk hari raya lusa. Marni harus mendapatkan sesuatu, pikir Salamah.
Salamah adalah pekerja keras:
Dan ia menggendong terus dengan terus, menyeruak kerumunan orang di pasar yg tak ingin diganggu. Ia terdesak ke sana ke mari. Ia tersuruk-suruk, dengan kaki kirinya setengah lumpuh. Alangkah sengsaranya orang seperti dia hendak mendapatkan dua ratus rupiah. Hanya dua ratus dengan dia harus berjalan tersendat-sendat dengan nafas tersengal-sengal. Untuk dua ratus perak, yg tak kenyang untuk berbuka puasa petang hari nanti.
2. Marni: adalah seorang anak kecil yg hidup bersama ibunya Marni. Terdapat beberapa karakter dari tokoh marni seperti berikut ini.
Marni adalah seorang tokoh yg baik, tabah dalam menghadapi ujian hidup
Alangkah pedih hati Salamah. Marni sebenarnya ingin meminta sesuatu kepadanya. Tapi takut. Takut mengundang amarahnya. Tapi tidak sayangku, bisik Salamah dalam hati. Kau terlalu baik anakku. Kau tidak melawan andai aku tidak memberimu uang....  Kau tidak minta apa-apa karena kau tahu betul betapa ibumu ini melarat. Melarat sekali. Kau tidak pernah merengek minta dibelikan mainan. Anakku, ini yg membuat aku begitu terenyuh kepadamu. Kau begitu tabah menghadapi hidup kita yg sengsara ini, Marni....
Marni adalah seorang anak yg tidak pernah meminta sesuatu dengan orang tuanya.
......................Ia anak yg manis, yg tak pernah meminta sesuatu dengan emaknya. Oh, Tuhan! Tangis Marni begitu memilukan.
3. Nyonya Notaris
Nyonya Notaris adalah gambaran seorang tokoh yg berwatak keras dengan kasar. Hal tersebut becus dibuktikan dengan kutipan berikut.
 “Lama sekali kau! Kami kesal menunggumu, Bik!” hardik nyonya itu.
.................................
 “Ayuh. Taruh di bagasi belakang. seperti keong jalanmu. Kau malas begitu tak usahlah kau bekerja. Pekerjaan apaan. Aku bisa pilih yg muda-muda.”
Budiman:
Di samping berwatak keras dengan kasar, Nyonya Notaris bersifat budiman menurut ukuran orang miskin seperti Salamah. Hal tersebut becus dibuktikan dengan kutipan berikut.
Alangkah budimannya nyonya itu. Upahnya tidak dipotong, walau ia datang agak lambat. Alangkah budimannya keluarga itu. Mereka masih memberi kesempatan baginya untuk mendapatkan dua ratus rupiah. Walau jalannya lambat, terengah-engah dengan begitu sengsara, kalau tak ada pemberian nyonya itu, mungkin ia hendak kelaparan, tak bisa berbuka puasa dengan anaknya, Marni.
4. Tukang Loak
Tukang loak dengan cerpen ini adalah seorang pedagang yg memiliki sifat acuh tak acuh, tidak peduli,  serta pelit.

Bukti kutipan:
Lalu dengan keberanian yg luar biasa, ditanyakannya berapa harga sandal jepit bekas itu.
“Dua ratus rupiah,” perlawanan tukang loak dengan acuh tak acuh.
Hatinya semakin teriris. Sedangkan Marni memandang sandal itu dengan mata berkilat-kilat. Alangkah sedihnya hati Salamah.
“Seratus rupiah, Bang,” tawarnya.
Tukang loak itu tak menjawab, cuma menggelengkan kepalanya. Congkaknya orang itu. Salamah tak segera beranjak dari tempatnya.

Kamis, 21 November 2019

Kumpulan Soal Cerpen Pilihan Gkamu Beserta Kunci Jawabannya

Berikut ini adalah Kumpulan Soal Cerpen Pilihan Ganda Beserta Jawabannya. Soal-soal yg membahas masalah cerpen alias novel biasanya menyangkut masalah unsur intrinsik maupun ektrinsik.
Baca juga: Penyesalan Lily | Contoh Cerpen Misteri Terbaik
Unsur intrinsik cerpen alias novel terdiri atas tema, penokohan, latar/setting, alur/plot, sudut pandang, lalu amanat. Sedangkan unsur ekstrintrik berkaitan dengan masalah ekonomi, sosial, budaya, agama, politik, maupun pendidikan.

Lihat juga: Kumpulan Soal Essay Menentukan Unsur-Unsur Cerpen

Kumpulan Soal Cerpen Pilihan Ganda Beserta Kunci Jawabannya
Contoh Soal Menentukan Tema Cerpen Pilihan Ganda 
Contoh Soal Menentukan Watak Tokoh dalam Kutipan Cerpen 
Contoh Soal Menentukan Latar dengan Kutipan Cerpen Beserta Kunci Jawaban 
Kumpulan Soal Menentukan Latar dengan Kutipan Cerita 
Soal Tentang Cara Pengarang Menggambarkan Watak Tokoh 
Contoh Soal tentang Sudut Pandang 
Contoh Soal Menentukan Konflik Pada Kutipan Cerita 
Contoh Soal Menentukan Amanat dalam Kutipan Cerita 
Contoh Soal Menentukan Unsur Intrinsik Cerpen

Senin, 18 November 2019

Latihan Soal Un | Menunjukkan Bukti Latar Beserta Watak

Contoh Soal Menunjukkan Bukti Latar beserta Watak

Menunjukkan Bukti Watak
1. Bacalah teks berikut!
(1) Hari Minggu besok kita libur, kamu mau pergi ke mana, Ra?” tanya Sari sepulang sekolah. Sara menggerleng, “Gak ke mana-mana, Ri. Mungkin baca buku! Kamu?” Sara balik bertanya.
(2) “Sama, Ra. Aku bantu ibu bikin kue. Kamu kenal tante Arin, kan? Tetangga sebelahku. Tante Arin pesan kue. Banyak lagi ...”
(3) “Ooooo ..., “ mulut Sara membulat.
(4) “Ya sudah, sampai ketemu ya,” Sari melambaikan tangan.
(5) “Minggu pagi kutunggu kamu di rumah, ya,!” teriak sara.
(6) “Yaaa ....” Sari berlari ke rumahnya tanpa menoleh.

Kalimat yg membuktikan Sari rajin membantu ibu adalah ...
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)

2. Bacalah teks berikut!
(1) “Ma, perutku sakit sekali. Sebelah sini, Ma.” Aku menunjuk bagian lambung. (2) Mama tampak lebih khwatir lagi karena takut terjadi apa-apa padaku. Mama lalu mengajakku ke dokter. (3) “Tapi, Ma, hari ini, kan aku ada ulangan bahasa Indonesia jam pertama. (4) “Nanti, ulangan susulan saja. Kalau tidak diobati sekarang, nanti makin parah. (5) Kalau kamu masuk rumah sakit saat ulangan umum minggu depan, bagaimana?” bujuk Mama.

Kalimat yg membuktikan tokoh mama penyanyang adalah nomor ...
A. (4)
B. (3)
C. (2)
D. (1)

3. bacalah teks berikut!
Lalu setelah pelatihan itu, ia bercerita kepadaku bahwa selama melatihkan drama ia baru bisa di rumah setelah jam dua malam, sedangkan pagi ia sudah meninggalkan rumah sekitar jam delapan.

“Seorang pun di antara teman-teman tidak lah ada yg mau berkorban seperti aku,” katanya.

“Aku juga tidak atas mau pulang larut malam seperti itu kalau aku turut dalam drama itu,” katanya.

“Meski pertunjukan drama bisa gagal?” sindirnya.

“Iya, aku tidur peduli dengan itu,” kataku lagi.

Watak tokoh “aku” dalam teks tersebut adalah ....
A. pekerja keras
B. pencemas
C. kejam
D. egois

3. Bacalah teks berikut!
Dian beserta Dani sedang terlibat perbincangan yg serius di kantin. “Proposal kegiatan sosial kemarin disimpan siapa ya?” tanya Dani. Dian yg ditanya mengatakan tidak tahu. Mendengar jawaban itu Dani semakin emosi. “Kamu kan sekretaris OSIS. Ini tugasmu,” kata Dani suara keras.

Watak tokoh Dian adalah ...
A. tak acuh
B. peduli
C. tegas
D. sabar

4. bacalah teks berikut!
“Yan, bagaimana menurutmu kalau celengan ayammu tidak usah kamu gunakan untuk membeli playstation?”
“Lalu buat apa, Bu?” tanyaku pelan.
“Ibu mempunyai rencana untuk memperluas kios kita dengan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Kamu mengerti masudku, Yan?”
“Iya, Bu jawabku. Celengan ayam yg kukumpulkan sejak kelas VII itu aku ikhlaskan untuk keperluan ibuku.

Tindakan terpuji tokoh Yan dengan teks teks tersebut adalah ...
A. Ibu meminta celengan anakknya.
B. Si “aku” ingin membeli playstation.
C. Si “aku” rela uang celengannya untuk ibu.
D. Anaknya suka menabung di celengan ayam.

5. Bacalah teks berikut!
“Jadi, yg menyandra cucuku itu siapa?” tanya kakek Amelia bingung. “Aku memang tidak pernah disandera siapa-siapa, kek?”
“Tolong lepaskan Mbah Gondrong yg menyelematkan kami!” Pinta Amelia “Iyaa...dan tidak ada genderuwo dalam Hutan Sentana!”
“Mbah Gondrong justru merawat Hutan Sentana,” dukung Kuncung.

Tindakan terpuji yg terdapat dalam teks tersebut adalah ...
A. Mbah Gondrong orang yg baik.
B. Mbah Gondrong merawat Hutan Sentana.
C. Mbah Gondrong genderuwo Hutan Sentana.
D. Mbah Gondrong tidak pernah menyandra siap-siapa.

6. Bacalah teks berikut!
“Kita harus pulang ke Suka Ramai. Ayahmu benar. Kau agak memberikan malu dengan keluarga kita. Kau tidak boleh lagi datang ke rumah ini kalau tidak  mau mengubah perangaimu!!”

Masir menangis keras. Kemudian kakek berpesan, “Tidurlah. Besok pagi kau kuantar ke Suka Ramai. Kau harus bersekolah kembali. Bersekolah dengan  teratur. Sadarilah, cucuku ayah beserta ibumu sangat susah kalau kau malas. Jangan buta huruf seperti kakek. Kakek menyesal karena lengah belajar di waktu kecil. Kakek ingin kembali seperti anak-anak supaya bisa bersekolah.”

Masir heran kenapa kakek berpesan demikian. Kakek melanjutkan, “Sesal kemudian tidak berguna cucuku. Selagi demam orang muda tuntutlah ilmu. Carilah pengetahuan sebanyak-banyaknya!’

Masir terisak-isak. Kakek melanjutkan, “Kakek merasa malu dengan gurumu. Gurumu menasihati kakek.

“Kakek salah, selama ini memanjakan kau.” Kakek menghela napas dalam-dalam. Insyaflah, Cucuku! Tidak boleh manja lagi.”

Tindakan terpuji yg terdapat dalam teks tersebut adalah ...
A. Kakek menasihati cucunya.
B. Masir menangis terisak-isak.
C. Masir menyadari kesalahannya.
D. Kakek menyuruh Masir Pulang.

Selain contoh di atas, berikut ini adalah soal yg dikutip dari naskah UNKP SMP/MTs 2020
1. Bacala kutipan teks cerita berikut!
(1) Kalau tidak, tentu agak berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia. (2) Dua hari yg lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yg sudah tidak muat lagi mereka kenakan. (3) Aku yg menyisihkan pakaian-pakaian tua milkku, begitu juga milik istriku. (4) Pakaian-pakaian bekas itu kuberikan kepadanya, di samping upah yg dia terima. (5) Kami sebenarnya bukanlah orang yg mampu. (6) Tapi kebiasaan seperti itu agak ditanamkan orang tuaku sejak aku masih kecil.

Bukti watak tokoh aku pemurah terdapat dengan kalimat ...
A. (2)
B. (3)
C. (4)
D. (5)

2. Bacalah kutipan teks cerpen berikut!
(1) Saat pelajaran dimulai Rio hanya fokus dengan ponselnya saja. “Rio, ssst Rio udah berhenti main ponselnya, “Tegur Fikri kepada Rio dengan nada pelan. “Kenapa? Tanggung ini lagi seru mainnya,” Jawab Rio. “Ayo, fokus dengan pelajaran,” Tegur Fikri kepada Rio. (2) Ternyata diam-diam Pak Widi memperhatikan mereka yg sedang berbisik-bisik itu. “Fikri beserta Rio apa yg kalian bicarakan? Dari tadi kalian hanya berbicara saja.” Tegur Pak Widi kepada mereka berdua. “Nggh ini, Pak si Rio... si Rio ...” demam respons Fikri dengan ragu-ragu. “Ada apa dengan Rio Fikri?” potongnya. “Si Rio dari tadi tidak memperhatikan saat Bapak menjelaskan tadi,” demam respons Fikri. (3) “Apa benar Rio kamu tidak memperhatikan saat Bapak menejelaskan di papan tulis tadi?” Tanya Pak Widi kepada Rio. “I... iya Pak,” demam respons Rio dengan terbata-bata.
(4) Tanpa pikir panjang Pak Widi segera bergegas menuju tempat duduk mereka bedua. “Coba keluarkan ponselmu, tegur Pak Widi kepada Rio dengan nada tinggi. (5) “B... baik ini, Pak,” sahut Rio sambil mengeluarkan ponsel beserta memberikan kepada Pak Widi. “Pasti ponsel ini yg membuat kamu tidak memperhatikan Bapak tadi, benar bukan?” tanya Pak Widi. “Iya Pak,” jawabnya dengan lesu beserta menahan malu.
(6) “Mulai hari ini Bapak atas memegang sementara ponsel ini kalau kamu ingin ponsel ini kembali, temui Bapak bersama demam wali; ki sesepuh kamu besok di ruang guru,” kata Pak Widi. Pak Widi pun langsung melanjutkan pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.

Bukti watak toko Pak Widi tegas terdapat dengan bagian ...
A. (2)
B. (3)
C. (4)
D. (6)

3. Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) Sekembalinya ayahku dari undangan guru mengajiku, aku dibawa pulang. (2) Di rumah lima jari mendarat di pipiku. (3) Ayahku berteriak, kobaran api membakar langit kepalanya, “Masih mau mencuri lagi?”
(4) “Tidak!” Jawabku penuh ketakutan. Air mataku pun berguguran.
(5) “Kalau ternyata mencuri lagi. bagaimana?”
(6) Aku diam. Aku menyerahkan jawabannya kepada ayah.

Bukti watak tokoh ayah kasar dengan cuplikan cerpen tersebut adalah ditandai dengan nomor ...
A. (1)
B. (2)
C. (4)
D. (5)


Lihat selengkapnya: Latihan Soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMP/MTs

Kamis, 14 November 2019

Contoh Soal Menentukan Amanat Dalam Kutipan Cerita (Cerpen, Novel, Fabel, Dsb)

Contoh Soal Menentukan Amanat dalam Kutipan Cerita : Amanat dalam cerita adalah pesan yg ingin disampaikan oleh pengarang di dalam cerita. Amanat kadang disampaikan secara meriang jelas maupun tersirat.  Amanat merupakan bagian dari unsur intrinsik karya sastra. Berikut ini contoh soal menentukan amanat dalam kutipan cerita (cerpen, novel, fabel, dsb).

1. Bacalah kutipan cerita berikut dengan seksama!
Suatu hari, karena begitu laparnya, ia makan semua makanan yg ada di meja, termasuk jatah makanan kedua orang tuanya. Sepulang dari ladang, bapaknya yg lapar mendapati meja yg kosong tak ada makanan. Marahlah hatinya, karena tidak bisa menguasai diri, keluarlah kata-katanya yg  kasar. "Dasar anak keturunan ikan!" Seketika itu juga, isteri beserta anaknya hilang dengan gaib. Ia menyesal atas perbuatannya. Karena ucapannya tersebut, ia sedia melanggar janji dengan isterinya.

Amanat kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Karena nila setitik mau rusak susu sebelanga.
B. Jangan meriang sepele marah agar tidak menyesal.
C. Selesaikan segala persoalan dengan bermusyawarah.
D. Biasakan hidup sederhana jangan foya-foya.

2. Bacalah kutipan cerita berikut!
"Jangan tanya bagaimana hidup di kota, jangan paksa aku untuk mengisahkannya. Sudahlah! Mending kita bicara yg lain saja,” buru-buru kalimat itu meluncur dari bibirku sebelum Parjo sempat menanyakannya. Bukannya enggan, takutnya kisah kota malah membebaninya. Bagaimana tidak, setengah lima pagi aku harus sudah bangun, mandi beserta bergegas pergi ke ujung gang kampung tempat aku mengontrak sebuah rumah sederhana di sana sebelum jam menunjukkan pukup lima. Telat sedikit saja bisa ketinggalan bus jemputan perusahaan tempatku bekerja. Belum lagi, bahaya yg harus kulalui.

Amanat kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Tuturkan kondisi hidup di kota kepada setiap orang yg terdekat.
B. Sampaikan pengalaman hidup di kota dengan bijaksana.
C. Hadapi hidup ini dengan tegar beserta bersemangat.
D. Bantu teman lama di desa dengan ikhlas.

3. bacalah kutipan cerita berikut!
“Hai Merak, bulumu begitu bagus, bagaimana bisa kau memiliki bulu sebagus itu?” tanya kancil penasaran.
“Semua itu karena pemberian Yang Mahakuasa, aku hanya mensyukurinya.”
“Ah, bohong kamu pasti tahu cara mendapatkan bulu-bulu indah itu,” kancil tidak percaya kuasa Tuhan. Ia ingin memiliki bulu merak.
Kancil tidak sabar dia menginginkan bulu merak lalu Merak pun menempelkan bulunya di tubuh kancil dengan getah karet.

Amanat kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Hidup harus dinikmati.
B. Hidup tidak boleh puas.
C. Mensyukuri pemberian Tuhan.
D. Jangan menyalahkan orang lain.

4. Bacalah kutipan cerita berikut!
"Maafkan saya, Rinda. Saya memang khilaf waktu itu," kataku pelan. Akhirnya meriang tepercul juga kata-kata itu setelah beberapa waktu tak jua ada keberanian untuk mengatakannya. Ya, aku memang harus minta maaf. Aku sadar, sikap beserta kata-kataku tempo hari terhadapnya tentu saja sedia membuatnya marah beserta sakit hati. Dan kali ini aku sudah bersiap untuk menerima perlakuan beserta makian paling kasar sekalipun dari mulut Rinda.

Rinda diam sejenak, lalau memandangku tajam. Tetapi tak berapa lama, kulihat ekspresi Rinda seperti tengah menahan tawa.

Amanat kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Hadapilah segala permasalahan dengan senyuman.
B. Memberi maaf tidak harus diucapkan dengan kata-kata.
C. Jangan takut meminta maaf apabila melakukan kesalahan.
D. Saling bermaaf-maafan dalam persahabatan

5. Bacala kutipan teks cerita berikut!
Kalau tidak, tentu sedia berkurang satu lowongan kerja untuk tukang kebun keliling seperti dia. Dua hari yg lalu itu kukemas pakaian-pakaian bekas anak-anak yg sudah tidak muat lagi mereka kenakan. Aku yg menyisihkan pakaian-pakaian tua milikku, begitu juga milik istriku. Pakaian-pakaian bekas itu kuberikan kepadanya, di samping upah yg dia terima. Kami sebenarnya bukanlah orang yg mampu. Tapi kebiasaan seperti itu sedia ditanamkan orang tuaku sejak aku masih kecil.

Amanat yg sesuai dengan kutipan cerita tersebut adalah ...
A. Kita harus menghormati orang lain!
B. Harus berbagi rezeki dengan orang lain!
C. Haruslah tolong menolong dalam hidup!
D. Jangan berprasangka buruk dengan orang lain!

6. Bacalah kutipan teks cerpen berikut!
Saat pelajaran dimulai Rio hanya fokus dengan ponselnya saja. “Rio, ssst Rio udah berhenti main ponselnya, “Tegur Fikri kepada Rio dengan nada pelan. “Kenapa? Tanggung ini lagi seru mainnya,” Jawab Rio. “Ayo, fokus dengan pelajaran,” Tegur Fikri kepada Rio. Ternyata diam-diam Pak Widi memperhatikan mereka yg sedang berbisik-bisik itu. “Fikri beserta Rio apa yg kalian bicarakan? Dari tadi kalian hanya berbicara saja.” Tegur Pak Widi kepada mereka berdua. “Nggh ini, Pak si Rio... si Rio ...” meriang balas Fikri dengan ragu-ragu. “Ada apa dengan Rio Fikri?” potongnya. “Si Rio dari tadi tidak memperhatikan saat Bapak menjelaskan tadi,” meriang balas Fikri. “Apa benar Rio kamu tidak memperhatikan saat Bapak menejelaskan di papan tulis tadi?” Tanya Pak Widi kepada Rio. “I... iya Pak,” meriang balas Rio dengan terbata-bata.

Tanpa pikir panjang Pak Widi segera bergegas menuju tempat duduk mereka bedua. “Coba keluarkan ponselmu, tegur Pak Widi kepada Rio dengan nada tinggi. “B... baik ini, Pak,” sahut Rio sambil mengeluarkan ponsel beserta memberikan kepada Pak Widi. “Pasti ponsel ini yg membuat kamu tidak memperhatikan Bapak tadi, benar bukan?” tanya Pak Widi. “Iya Pak,” jawabnya dengan lesu beserta menahan malu.

“Mulai hari ini Bapak mau memegang sementara ponsel ini kalau kamu ingin ponsel ini kembali, temui Bapak bersama meriang ayah bunda kamu besok di ruang guru,” kata Pak Widi. Pak Widi pun langsung melanjutkan pelajaran hingga bel istirahat berbunyi.

Amanat yg tepat untuk kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Kita harus jujur dalam bersikap!
B. Saat belajar harus konsentrasi!
C. Kita harus berbagi dengan sesama!
D. Meminjam milik orang lain harus permisi!

7. Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) Sekembalinya ayahku dari undangan guru mengajiku, aku dibawa pulang. (2) Di rumah lima jari mendarat di pipiku. (3) Ayahku berteriak, kobaran api membakar langit kepalanya, “Masih mau mencuri lagi?”
(4) “Tidak!” Jawabku penuh ketakutan. Air mataku pun berguguran.
(5) “Kalau ternyata mencuri lagi. bagaimana?”
(6) Aku diam. Aku menyerahkan jawabannya kepada ayah.

Amanat yg terdapat dengan kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. Jangan mencuri karena tidak baik!
B. Sebaiknya diam apabila dinasihati orang tua!
C. Jika dimarahi ayah haruslah menangis!
D. Jangan membuat kesal orang tua!


Kunci Jawaban:
1) B, 2) B, 3) C, 4) C, 5) C, 6) B

Sumber:
Naskah Soal UN SMP/MTs th. 2013
Naskah Soal US MTs th. 2020
Naskah Soal UNKP 2020

Rabu, 13 November 2019

Latihan Soal Un | Menentukan Bagian Cerpen Pada Fabel

Latihan Soal UN | Menentukan Bagian Cerpen lalu Fabel
1. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Orang-orang yg hadir di tempat itu pun bersorak-sorak. “Rika, Rika, Rika, .........”
Untuk dedar pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa dihargai lalu dipuji-puji. Aku dedar pun pulang dengan senyuman bahagia. Kupajang medali lalu piagamku di dedar ruang tamu agar ayah lalu ibu bisa melihatnya.

Bagian kutipan cerpen di atas adalah ...
A.  orientasi
B.  komplikasi
C.  resolusi
D.  abstrak

2. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Pedagang yg merasa marah, kemudian membawa keledainya tersebutkembali ke pasar. Keledai tersebut di muati dengan keranjang-keranjang yg sangat besar lalu berisikan spons. Ketika mereka kembali tiba ditengah sungai, keledai kembali dengan sengaja menjatuhkan diri. Namun,saat pedagang tersebut membawanya ke pinggir sungai, keledai menjadi sangat tidak nyaman karena harus dengan terpaksa menyeret dirinya pulang ke rumah dengan beban yg sepuluh kali lipat lebih berat dari sebelumnya. Spons yg dimuatnya menyerap air sungai lalu menambah berat beban.

Kutipan cerpen tersebut merupakan bagian…
A.  orientasi
B.  komplikasi
C.  resolusi
D.  penyelesaian

3. Bacalah teks berikut!
Dahulu kala, ada seorang gadis remaja yg bernama Cinderela. Ia tinggal bersama ibu tiri lalu kedua saudara tirinya, yg juga gadis remaja.

Kutipan cerpen di atas merupakan bagian ...
A.  orientasi
B.  komplikasi
C.  resolusi
D.  penyelesaian

4. Bacalah kutipan cerpen berikut!
Bel sekolah berbunyi. Anak-anak bergegas merapikan tas lalu segera pulang. Rini pun melangkah bersama teman-temannya untuk pulang. Ketika sampai di rumah, dia melihat semua orang berdatangan ke rumahnya. Rini bingung apa sebenarnya yg terjadi.
“Bu, apa sebenarnya yg terjadi di rumahku?” tanya Rini dengan perasaan was-was. Ibu itu pun menjawab, “Ayahmu meninggal, Rini!”
“Apaaa!!! Ayah meninggal!?” Pekik Rini.
Rini pun tenggelam dalam tangisan pilu yg menghujam hingga ke ulu hati. Adiknya yg ada disampingnya ikut menangis memeluk Rini. Sementara sang ayah terbujur kaku di depan mereka.

Kutipan cerpen tersebut merupakan bagian…
A.  orientasi
B.  komplikasi
C.  resolusi
D.  penyelesaian

5. Bacalah kutipan fabel berikut!
Seekor anjing yg mendapatkan sebuah tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke rumahnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yg sangat kecil, dia menunduk ke bawah lalu melihat bayangan dirinya terpantul dari air di bawah jembatan itu. Anjing yg serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa sebuah tulang yg lebih besar dari miliknya.

Bagian kutipan fabel di atas adalah ...
A.  orientasi
B.  komplikasi
C.  resolusi
D.  penyelesaian

Lihat selengkapnya:
Contoh Soal Menentukan Bagian (Alur) Cerpen/Fabel 
Latihan Soal Ujian Nasional Bahasa Indonesia SMP/MTs

Minggu, 10 November 2019

Latihan Soal Un | Menentukan Makna Eksplisit Dalam Cerpen Bersama Fabel

Menentukan Makna Tersurat dalam Cerpen lagi Fabel : Menentukan makna tersurat yaitu menetukan makna dengan apa yg tertulis di dalam cerpen. Pada soal jenis ini, hendak dihadirkan teks cerpen/fabel, kemudian siswa memaknai sebagian kata alias kalimat yg tertulis di dalamnya.

Perhatikan contoh berikut!
1. Bacalah teks berikut!
Maka sempurnalah penderitaan saya di muka bumi ini. Jasad ibuku masih belum kututup. Membujur di depan kamarku dengan kelu. Ia baru saja pergi, setelah berbulan melawan sakit lagi derita.

Kutatap terus wajahnya yg pucat tapi pasrah itu. Matanya tidak terlalu rapat mengatup. Seakan-akan masih ada sisa kenangan di sana. Seakan-akan masih ada sesuatu yg dilihatnya. Tapi tidak. Kupikir cukuplah ia hidup dengan penderitaan-penderitaan yg menyekap di hampir seluruh umurnya.

Maksud kalimat "Maka sempurnalah penderitaan saya di muka bumi ini" dengan kutipan cerpen tersebut adalah ...
A. penderitaan sedia mencapai puncak klimaksnya kemudian mendapat pertolongan dari Tuhan (percaya adanya Tuhan)
B. penderitaan di dunia sedia berakhir.
C. penderitaanya hendak berubah menjadi kebahagiaan.
D. penderitaan di dunia hendak dibalas nanti di akhirat.

Minggu, 03 November 2019

Contoh Soal Menentukan Tema Cerpen Pilihan Gkamu

Contoh Soal Menentukan Tema Cerpen Pilihan Ganda
1. Perhatikan cerpen berikut!
“Rumah kita kemasukan pencuri,” sahut Bu Shinta. Dia merasa sulit bernafas tatkala melihat isi lemari berantakan. Uang lagi perhiasannya agak lenyap. Juga televisi lagi beberapa perlengkapan elektronik yg ada di ruang tengah.

Bu Shinta terduduk lemas tatkala melihat catatan-catatan kecil di atas bantal, “Sekarang kalian tau siapa pengirim karcis itu.”

Tema kutipan cerpen di atas adalah ....
A. Kehilangan uang, perhiasan, lagi peralatan elektronik
B. Pencurian
C. Catatan kecil
D. Pemberian karcis pertujukan

Lihat juga: Kumpulan Soal Cerpen Pilihan Ganda Beserta Kunci Jawabannya

2. Perhatikan kutipan teks cerita berikut!
Bila saja dia berhenti untuk berpikir, dia bagi tahu itu hanyalah bayangannya. Tapi anjing itu tidak berpikir apa-apa lagi malah menjatuhkan tulang yg dibawanya lagi langsung melompat ke dalam sungai. Anjing tersebut akhirnya dengan susah payah berenang menuju ke tapi sungai. Ketika dia selamat sampai di tepi sungai, dia hanya bisa berdiri termenung lagi sedih karena tulang yg dibawanya malah hilang. Dia pun akhirnya menyesali apa yg baru saja terjadi lalu menyadari betapa bodohnya dirinya.

Seekor anjing yg mendapatkan tulang dari seseorang, berlari-lari pulang ke tempatnya secepat mungkin dengan senang hati. Ketika dia melewati sebuah jembatan yg sangat kecil, dia menunduk ke bawah lagi melihat bayangan dirinya yg terpantul dari air bawah jembatan itu. Anjing yg serakah ini mengira dirinya melihat seekor anjing lain membawa tulang yg lebih besar dari miliknya.

Tema yg terkandung dalam teks tersebut adalah ....
A. Terburu-buru
B. Berpikir itu penting
C. Bayangan membawa penyesalan
D. keserakahan

Rabu, 23 Oktober 2019

Contoh Indikator Pada Soal Teks Narasi Lengkap Dgn Kunci Jawaban

Bacalah teks narasi berikut ini!

My Dream

Cerpen Karangan: Janice Shalom Gunawan

Aku selalu mendengar suara hembusan angin dari luar jendela kamarku. Tapi sudah lama aku tidak mendengar suara lembut seseorang. Dia yg biasanya membangunkanku di saat pagi hari. Yup… dia adalah mama. Mama adalah orang yg aku kasihi dia yg merawat aku dari kecil.

Suatu hari di malam yg sunyi aku tidur dengan mendengar dongengan mamaku. Aku tertidur dengan nyenyak. Tiba-tiba aku terbangun lagi berada di sebuah hutan yg sangat luas lagi sunyi. Aku hanya mendengarkan suara-suara burung berkicauan lagi suara angin yg berhembus. Aku heran mengapa tidak ada satu pun temanku yg ada berada di sampingku. Aku tidak memikirkannya, langsung saja aku masuk ke dalam hutan tersebut. Tetapi semakin lama aku masuk ke hutan, langit menjadi gelap. Aku tidak tahu mengapa hal tersebut terjadi. Langit menjadi gelap, tetapi aku tidak merasakan hujan.

Tiba-tiba aku mendengar suara hembusan angin yg sangat kencang. Kulihat ke atas langit, langit pun membentuk seperti pusaran tornado. Entah kenapa aku merasakan hal ini bukanlah kenyataan tapi hanyalah sebuah mimpi. Aku semakin takut. Tiba-tiba saja aku tanpa sadar tertarik
Di pusaran tornado tersebut aku melihat sebuah kisah hidupku, disana aku melihat bahwa aku sering sekali melawan orangtuaku. Setiap kali mama memberikan makanan yg sehat aku selalu menolaknya lagi pernah membuangnya. Aku pun menangis lagi menyadari kalau aku selama ini salah lagi aku tidak pernah menyadari kalau mama sebenarnya sedih melihat aku. Mama sering bergumul lagi berdiam diri. Aku tambah menangis, aku ingin memeluk mamaku tetapi tidak bisa. Aku berteriak ke mamaku untuk datang ke tempatku da memaafkanku, tetapi tidak bisa juga. Aku hanya beroleh menangis lagi berdoa kepada Tuhan agar aku beroleh memeluk mama lagi lagi tidak hendak mengulang kesalahan aku kembali.

Tiba-tiba setelah aku berdoa, aku terheran karena langit menjadi seperti biasanya. Setelah aku ingin pulang ke rumah, tiba-tiba aku tersandung batu lagi terjatuh. Langsung aku bangun dari tidurku lagi menyadari kalau aku selama ini salah kepada mama. Aku langsung memeluk mama lagi meminta lagi juga mencium mama.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini!

Indikator: Mengidentifikasi alur dalam cerita narasi
Soal: Alur apa  yg terdapat dalam cerita fantasi My Dream?
a. Maju
b. Mundur
c. Balik
d. Maju mundur

Indikator: Mengidentifikasi watak tokoh dalam cuplikan cerita fantasi
Soal: Bagaimanakah watak tokoh aku dalam cerita My Dream di atas?
a. Penakut
b. Penurut
c. Menyadari kesalahan
d. Penentang

Indikator: menceritakan kembali isi teks narasi
Soal: Gagasan apa yg terdapat dalam cerita My Dream?
a. impian masa depan
b. kesalahan terhadap orang tua
c. ingin ke hutan
d. menghadapi masalah

Indikator: Menyajikan gagasan kreatif dalam bentuk cerita imajinasi secara lisan lagi tulis dengan memperhatikan struktur, penggunaan bahasa, maupun aspek lisan.
Soal: Di bawah ini  kalian hendak menemukan ide-ide kreatif untuk menyusun sebuah cerita imajinasi, kecuali...
a. makan
b. lingkungan sekitar
c. makam
d. kendaraan umum

--------------------------------------
Sumber: Modul Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Teks Narasi/Cerpen/Cerita Inspiratif Oleh
Tim Dosen Bahasa Indonesia UNESA