Tampilkan postingan dengan label Majas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Majas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Desember 2019

Pengertian Majas Perumpamaan Alias Simile Beserta Contohnya

Pengertian Majas Perumpamaan ataupun Simile

Simile merupakan perbandingan secara eksplisit. Yang dimaksud dengan perbandingn secara terperinci yakni bahwa ia langsung menyatakan sesuatu sama dengan hal lain. (Keraf, 2010: 138). 

Lihat juga:
Majas perumpamaan ataupun simile adalah perbandingan dua hal yg dengan hakikatnya berlainan lalu yg sengaja dianggap sama (Tarigan, 2009: 9).

Perumpamaan ataupun simile disebut juga dengan majas "persamaan".

Perbandingan dalam simile secara terperinci menggunakan kata-kata pembanding: seperti, ibarat, bak, bagai, sebagai, umpama, laksana, penaka, serupa, dll.

Contoh Majas Perupamaan ataupun Simile
Contoh majas perbandingan ataupun simile seperti berikut ini:

Seperti air dengan minyak
Seperti air di daun keladi
Seperti bunga kembang setaman
Seperti abu di atas tunggul
Seperti anjing menggonggong bangkai
Seperti anjing berebut tulang
Seperti anak ayam kehilangan induk
Seperti ayam gadis bertelur
Seperti biduk dikayuh hilir
Seperti delima merekah
Seperti harimau menyembunyikan kuku
Seperti menghasta kain sarung
Seperti kutu dengan daging
Seperti katak di bawah tempurung
Seperti lampu kekurangan minyak
Seperti mayang menolak selodang
Seperti pipit makan jagung
Seperti telur di ujung tanduk

Ibarat mencencang air
Ibarat mengejar bayangan
Ibarat burung dalam sangkar, mata lepas badan terkurung

Bak cacing kepanasan
Bak merpati dua sejoli   

Sebagai mencari kutu dalam ijuk
Sebagai anjing dengan kucing

Umpama memadu minyak dengan air
Umpama memadu mentimun denan durian
Umpama kesturi karena bau hilang nyawa

Laksana bulan kesiangan
Laksana bulan purnama raya
Laksana bunga dedap, sungguh merah berbau tidak
Laksana kera boleh bunga
Laksana pahat dengan pemukul
Laksana kunyit dengan kapur

Penaka ombak merindukan pantai
Penaka malam tiada berbintang

Serupa perahu tiada berawak
Serupa kuda sepak belalang

Bagai membendarkan air ke bukit
Bagai minum air bercacing
Bagai air titik ke batu
Bagai api dengan asap
Bagai memakai baju dipinjam
Bagai belanda minta tanah
Bagai bumi dengan langit
Bagai Cina karam
Bagai anak dara sudah berlaki
Bagai sayur tanpa garam
Bagai ikan kena tuba
Bagai mendapat gunung intan
Bagai kera diberi kaca
Bagai si lumpuh pergi merantau

Bak anjung berat sebelah
Bak alu pencungkil duri
Bak birah dengan keladi
Bak Cina kehilangan dacin

Pintarnya seperti Plato
Cepatnya seperti seputnik Rusia
Lucunya seperti Jojon
Gayanya seperti Euis Darliah
Padatnya seperti Cina
Nasibnya seperti Sengkon lalu Karta
Ramahnya seperti Adam Malik
Miskinnya seperti Ethiopia
Ramainya seperti Jakarta
Megahnya seperti Monas
Rakusnya seperti babi
Borosnya seperti air terjun
Kikirnya seperti kepiting batu
Pipinya seperti pauh di layang
Jarinya seperti duri landak
Wajahnya seperti bulan kesiangan
Matanya seperti bintang timur
Bibirnya seperti delima merekah
Alis matanya seperti semut beriring
Rambutnya seperti mayang mengurai

Semanis madu
Sepahit empedu
Selangsing pohon pinang
Selebar daun kelor
Sebanyak bintang di langit
Segagah burung garuda
Sepanas bara
Sejorok babi
Selicin belut
Semerdu buluh perindu
Seputih melati
Setipis daun toba
Sekuning emas
Serapuh kerupuk
Semerah saga
Seterang siang hari
Segagah arjuna
Sesegar udara pagi

Senin, 25 November 2019

Pengertian Majas Personifikasi Beserta Contohnya

Pengertian Personifikasi
Personifikasi berasal dari bahasa Latin persona (‘orang, pelaku, aktor, ataupun topeng yg dipakai dalam drama’) + fic (‘membuat’).

Personifikasi adalah jenis majas yg melekatan sifat-sifat insani kepada benda yg tidak bernyawa beserta ide yg abstrak (Tarigan, 2009: 17)

Personifikasi yaitu kiasan yg mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat angsal berbuat, berpikir, beserta sebagainya seperti manusia (Pradopo, 2012: 75)

Personifikasi ataupun prosopopoeia adalah semacam gaya bahasa kiasan yg menggambarkan benda-benda mati ataupun barang-barang yg tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan. (Keraf, 2010: 140)

Jadi personifikasi adalah jenis majas yg mempersamakan benda mati ataupun pun mahluk selain manusia (binatang) seolah-olah bersifat seperti manusia.

Contoh Majas Personifikasi
Berikut ini adalah contoh majas personifikasi.

Malas beserta malu nyala pelita (Anak Molek V: Rustam Effendi)

Sepi menyanyi, malam dalam medoa tiba (Sajak Putih: Chairil Anwar)

Sebuah jendela menyerahkan kamar ini (Sebuah Kamar: Chairil Anwar)

Puntung rokok beserta kursi bercakap tentang seorang yg tiba-tiba menghela nafas panjang lalu berdiri (Percakapan dalam Kamar: Sapardi JD)

Contoh lainnya:

angin yg meraung 

matahari baru saja kembali ke peraduannya

hujan memandikan tanaman

mentari mencubit wajahku

pepohonan tersenyum riang

tugas menantikan kita

kucingmu merindukan elusanmu

margasatwa berpestaria

murai bernyanyi menanti mentari

bunga mawar menjaga diri dengan duri

pengalaman mengajak kita tahan menderita

pintu pun menjerit saat dibuka

dinding-dinding membisu

mentari menjilat kamar tidurku

burung-burung bernyanyi

pohon-pohon menari

ombak mengecup pantai

sunyi yg melukai hati

senyuman yg menggoda

tatapan yg menusuk

Pengertian Majas Metafora Kepada Contohnya

Pengertian Metafora

Dalam buku Pengajaran Gaya Bahasa karangan Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan ditemukan asal usul kata metafora, bahwa metafora berasal dari bahasa Yunani metaphora yang berarti ‘memindahkan’; dari meta ‘di atas; melebihi’ + pherein ‘membawa’.

Lalu, Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan membuat pengertian, metafora adalah sejenis gaya bahasa perbandingan yg paling singkat, padat, tersusun rapi. Di dalamnya terlihat dua gagasan: yg satu adalah suatu kenyataan, sesuatu yg dipikirkan, yg menjadi objek; beserta yg satu lagi merupakan pembanding terhadap kenyataan tadi; beserta kita menggantikan yg belakangan itu menjadi yg terdahulu tadi.

Lihat juga: Ragam Gaya Bahasa; Pengertian beserta Contohnya

Sementara pengertian metafora menurut beberapa ahli antar lain: Metafora menyatakan sesuatu sebagai hal yg sama ataupun seharga dengan hal lain, yg sesungguhnya tidak sama (Altenbernd).

Metafora sama dengan perbandingan yg implisit, jadi tanpa kata seperti ataupun sebagai di antara dua hal yg berbeda (Anton M. Moeliono).

Metafora adalah pemakaian kata-kata bukan arti yg sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yg berdasarkan persamaan ataupun perbandingan (Poerwadarminta).

Metafora yakni membuat perbandingan antara dua hal ataupun benda untuk menciptakan suatu kesan mental yg hidup walaupun tidak dinyatakan secara bergolak spesifik dengan penggunaan kata-kata seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, penaka, serupa, seperti dengan perumpamaan (Dale dalam Tarigan, 2009: 15).

Metafora adalah semacam analogi yg membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yg singkat (Gorys Keraf).

Lanjut Keraf, metafora sebagai pembanding langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagaikan, beserta sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Proses terjadinya sebenarnya sama dengan simile tetapi secara berangsur-angsur keterangan mengenai persamaan beserta pokok pertama dihilangkan, misalnya:

Pemuda adalah seperti bungan bangsa.
Pemuda adalah bunga bangsa.
Pemuda bunga bangsa.

Secara rinci, Rachmat Djoko Pradopo dalam bukunya “Pengkajian Puisi” menyatakan bahwa Metafora terdiri dari dua term ataupun dua bagian, yaitu term pokok (principal term) beserta term kedua (secondary term). Term pokok disebut juga tenor menyebutkan hal yg dibandingkan, sedang term kedua ataupun vehicle adalah hal yg untuk membandingkan. Misalnya ‘Bumi’ adalah permpuan jalang’: ‘Bumi’ adalah term pokok, sedangkan ‘perempuan jalang’ term kedua ataupun vehicle.

Jadi, berdasarakan beberapa pengertian di atas bisa disimpilkan bahwa majas metafora yaitu majas yg membandingkan dua hal secara implisit yakni dengan tanpa menggunakan kata-kata pembanding (seperti, ibarat, bak, sebagai, umpama, laksana, penaka, serupa, beserta lain sebagainya). Sehingga metafora lebih terkesan menohok ketimbang simile.


Contoh Majas Metafora

Nani jinak-jinak merpati
Ali mata keranjang
Mereka ditimpa celaka
Aku terus memburu untung
Perpustakaan gudang ilmu
Koran sumber informasi
Mina buah hati Edi
Dia anak emans pamanku
Pendidikan soko guru pembangunan
Kata adalah pedang tajam


Contoh metafora dalam sebuah kalimat

Kapten kesebelasan itu mendapat kartu merah.
Gadis itu menjadi buah bibir orang kampung.
Kemarin dia menerima surat kertas hijau dari pacarnya.
Pendidikan jelas memelekkan mata hati ke arah kemajuan.
Saya adalah tumpuan harapan keluarga saya.
Dengan hasil panen itu, kami merasa mendapat durian runtuh.
Kasihan mereka, sudah jatuh tertimpa tangga pula.
Pak Ogah lintah darat, jangan bergaul dengan dia.
Tak ada gunanaya berdebat dengan orang yg berkepala batu.
Aminah kembang desa kami.
Anak adalah buah hati orang tua.
Pemuda adalah bungan bangsa.
Saya menerima cindera mata dari teman sekelas.
Orang itu benar-benar buaya darat.
Pedagang itu sungguh-sungguh ular berkepala dua.
Rakyat adalah tiang negara.
Gerak geriknya menarik hati.
Kata-katanya mendinginkan kepala.
Fitnahnya menaikkan darah kami.
Pendidikan jalan menuju kemajuan.

Alegori, Fabel, Parabel: Pengertian Lalu Contohnya

Alegori, Fabel, Parabel: Pengertian bersama Contohnya.

Alegori, fabel, bersama parabel merupkan bentuk perluasan dari metafora. Ketiga bentuk perluasan ini biasanya mengandung ajaran-ajaran moral bersama sering sukar dibedakan satu dengan yg lain.

Untuk lebih jelasnya, marilah disimak (dibaca) pengertian dari alegori, fabel, bersama parabel pada paparan berikut ini.

Lihat juga: Ragam Gaya Bahasa; Pengertian bersama Contohnya

Pengertian Alegori
Alegori berasal dari bahasa Yunani allegorein yang berarti ‘berbicara secara kias’; diturunkann dari allos ‘yang lain' + agoreuein ‘berbicara’.

Alegori adalah cerita yg dikisahkan dalam lambang-lambang; merupakan metafora yg diperluas bersama berkesinambungan, tempat ataupun wadah objek-objek ataupun gagasan-gagasan yg diperlambangkan (HG. Tarigan).

Menurut Gorys Keraf, alegori adalah suatu cerita singkat yg mengandung kiasan. Makna kiasan ini harus ditari dari bawah permukaan ceeritanya. Dalam alegori, nama-nama pelakunya adalah sifat-sifat yg abstrak, serta tujuannya selalu jelas tersurat.

Pengertian Fabel bersama Parabel
Fabel dan parabel merupakan alegori-alegori singkat.

Fabel adalah sejenis alegori, yg di dalamnya binatang-binatang berbicara bersama bertingah laku seperti manusia (H.G. Tarigan).

Fabel adalah suatu metafora berbentuk cerita mengenai dunia binatang, di mana binatang-bintang bahkan mahluk-mahluk yg tidak bernyawa bertindak seolah-olah sebagai manusia. tujuan fabel seperti parabel yaitu menyampaikan ajaran moral ataupun budi pekert. Fabel menyampaikan suatu prinsip tingah laku melalui analogi yg transparan dari tindak-tanduk binatang, tumbuh-tumbuhan, ataupun makhluk yg tak bernyawa (Gorys Keraf).

Sedangkan parabel (cerita yg berkaitan dengan Kitab Suci) juga merupakan alegori singkat yg mengandung pengajaran mengenai moral bersama kebenaran. Parabel merupakan metafora yg diperluas (H.G. Tarigan).

Kata parabel berasal dari bahasa Latin parabola yang bermakna ‘parabel, pepatah, peribahasa’, yg sebenarnya diturunkan pula dari bahasa Yunani belein ‘melemparkan’ + para ‘di samping; membandingkan’. (H.G. Tarigan).

Parabel (parabola) adalah suatu kisah singkat dengan tokoh-tokoh biasanya  manusia, yg selalu mengandung tema moral. Istilah parabel dipakai untuk menyebut cerita-cerita fiktif di dalam Kitab  Suci yg bersifat alegoris, untuk menyampaikan suatu kebenaran moral ataupun kebenaran spiritual (Gorys Keraf).

Contoh Alegori, Fabel, bersama Parabel
Contoh sajak yg mengandung alegori:

ULAR
Ular yg mendesis merisik, dengan warna kulit indah
mengejarku, bahkan sampai dalam mimpi.
Berhenti kataku. Dan dia menatap patuh, namun gelisah
Tiba-tiba kubaca: namamu terukir dengan lidahnya
yg terjalur merah

(Ajip Rosidi)

Contoh cerita yg mengandung fabel

- Kancil bersama buaya
- Kancil dengan kurakura
- Kancil dengan harimau
- Kancil dengan ular
- Kancil dengan burung gagak
- Kancil dengan petani

Contoh cerita yg mengandung parabel:
- Cerita Adam bersama Hawa
- Cerita Yusuf
- Cerita Musa
- dll.

Contoh sajak yg mengandung pabel:

SERANGAN

Pohon-pohon cemara di kaki gunung
pohon-pohon cemara
menyerbu kampung-kampung
bulan di atasnya
menceburkan dirinya ke dalam kolam
membasuh luka-lukanya
aan selusin dua sejoli
mengajaknya tidur

(Adul Hadi WM)

Contoh sajak yg mengandung parabel:

PERAHU KERTAS

Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas bersama kaulayarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, bersama perahumu bergoyang menuju lautan.

“Ia mau singgah di Bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalau-kalau ada kabar dari perahu yg tak pernah lepas dari rindumu itu.

Akhirnya kaudengar juga pesan si tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah Banjir besar bersama kini terdampar di sebuah bukit”

(Sapardi Djoko Damono)


DI KEBUN BINATANG

Seorang wanita meriang yuvenil berdiri terpikat memandang ular yg melilit sebatang pohon sambil menjulur-julurkan lidahnya, katanya kepada suaminya, “ Alangkah indahnya kulit ular
 itu untuk tas bersama sepatu! “

Lelaki meriang yuvenil itu seperti teringat sesuatu, cepat-cepat menarik lengan istrinya meninggalakan tempat terkutuk itu.

Gaya Bahasa Antitesis; Pengertian Bersama Contohnya

Pengertian Antitesis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia (versi daring) ditemukan pengertian antitesis, yaitu:
  1. pertentangan yg benar-benar; 
  2. pengungkapan gagasan yg bertentangan dalam susunan kata yg sejajar, seperti dalam semboyan "Merdeka ataupun Mati".
Antitesis adalah sejenis gaya bahasa yg mengadakan komparasi ataupun perbandingan antara dua antonim yaitu kata-kata yg mengandung ciri-ciri semantik yg bertentangan (Ducrot & Todorov dalam H.G Tarigan). Lihat juga: Ragam Gaya Bahasa; Pengertian kepada Contohnya

Contoh Gaya Bahasa Antitesis
  • Dia bergembira-ria atas kegagalanku dalam ujian itu.
  • Pada saat kami berduka cita atas kematian paman, mereka menyambutnya dengan kegembiraan tiada tara.
  • Gadis yg secantik si Ida diperistri oleh si Dendi yg jelek itu.
  • Segala fitnahan tetangganya dibalas dengan budi bahasanya yg baik.
  • Di satu pihak kemarau penanggung itu gembira atas perkawinan putranya, tetapi di pihak lain mereka was-was bakal masa depannya.
  • Kelulusan anak mereka dalam ujian itu sungguh menggembirakan, tetapi kesanggupan  mereka membiayainya di perguruan tinggi justru menyedihkan mereka.
  • Kecantikannya justru yg mencelakakannya.
(H.G. Tarigan, 2009: 26)

Minggu, 24 November 2019

Ragam Gaya Bahasa; Pengertian Beserta Contohnya

Pengertian Gaya Bahasa
Berdasarkan buku “Diksi bersama Gaya Bahasa” karangan Gorys Keraf terdapat batasan-batasan bersama pengertian tentang gaya bahasa sebagai berikut:
  • Gaya ataupun khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis kepada lempengan lilin.
  • Secara umum gaya bahasa adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, bersama sebagainya.
  • Secara khusus style atau gaya bahasa bisa dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yg memperlihatkan jiwa bersama kepribadian penulis (pemakai bahasa).
Jadi, pengertian gaya bahasa yang lebih spesifik bisa kita  peroleh kepada poin yg ketiga.

Sumber lain menerangkan bahwa gaya bahasa adalah bahasa indah yg digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda ataupun hal tertentu dengan benda ataupun hal lain yg lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu bisa mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale [et al] dalam H.G. Tarigan).

Ragam  Gaya bahasa
Gaya bahasa terbagi ke dalam empat kelompok besar, yaitu gaya bahasa perbandingangaya bahasa pertautangaya bahasa pertentangan, dan gaya bahasa perulangan.

Berdasarkan pengelompokan tersebut, berikut ini macam-macam gaya bahasa yang terdapat kepada buku “Pengajaran Gaya Bahasa” karangan Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan.

GAYA BAHASA PERBADINGAN
Perifrasis
Antisipasi ataupun Prolepsis
Koreksi ataupun Efanortosis

GAYA BAHASA PERTENTANGAN
Hiperbola
Litotes
Ironi
Oksimoron
Paranomasia
Paralepsis
Zeugma bersama Silepsis
Satire
Inuendo
Antifrasis
Paradoks
Klimaks
Antiklimaks
Apostrof
Anostrof ataupun Inversi
Apofasis ataupun Preterisio
Histeron Proteron
Hipalase
Sinisme
Sarkasme

GAYA BAHASA PERTAUTAN
Metonimia
Sinekdoke
Alusi
Eufimisme
Eponim
Epitet
Antonomasia
Erotesis
Paralelisme
Elipsis
Gradasi
Asindeton
Polisindeton

GAYA BAHASA PERULANGAN
Aliterasi
Asonansi
Antanaklasis
Kiasmus
Epizeukis
Tautotes
Anafora
Epistrofa
Simploke
Mesodilopsis
Epanelepsis
Anadiplosis

Gaya Bahasa Pleonasme Lagi Tautologi; Pengertian Serta Contohnya

Pengertian Pleonasme lagi Tautologi
Dalam KKBI versi daring ditemukan pengertian pleonasme dan tautologi. Pleonasme adalah pemakaian kata-kata yg lebih daripada apa yg diperlukan, misalnya dalam kalimat kita harus lagi wajib saling menghormati. Sedangkan tautologi adalah pengulangan gagasan, pernyataan, alias kata yg berlebih lagi tidak diperlukan, misalnya duda pria; amat sangat mahal.

Lihat juga: Ragam Gaya Bahasa; Pengertian lagi Contohnya

Secara praktis Pleonasme dan Tautologi disamakan, namun ada yg ingin membedakan keduanya.

Menurut Poerwadarminta, Pleonasme adalah pemakaian kata yg mubazir (berlebihan), yg sebenarnya tidak perlu (seperti menurut sepanjang adat; saling tolong menolong).

Suatu acuan disebut pleonasme bila kata yg berlebihan itu dihilangkan, artinya tetap utuh. Sebaliknya, suatu acuan disebut tautologi kalau kata yg berlebihan itu sebenarnya mengandung perulangan dari sebuah kata yg lain (Gorys Keraf).

Contoh Pleonasme
Saya sedia mencatat kejadian itu dengan tangan saya sendiri.

Dia sedia menebus sawah itu dengan uang tabungannya sendiri.

Ayah sedia menyaksikan kecelakaan tersebut dengan mata kepalanya sendiri.

Kamilah yg memikul peti jenazah itu di atas bahu kami sendiri.

Mereka mendengar fitnahan itu dengan telinga mereka sendiri.

Para petani menggarap sawah yg luas itu dengan tenaga lagi keringat mereka sendiri.

Bangkai tikus yg busuk lagi menjijikkan itu mencemarkan seluruh ruangan.

Penduduk desa Tumbuh Mulia saling tolong menolong setiap saat sepanjang waktu.
(H.G. Tarigan).

Ungkapan di atas adalah pleonasme karena semua acuan itu tetap utuh dengan makna yg sama, walaupun dihilangkan kata-kata:

dengan tangan sendiri

dengan uang tabungannya sendiri

dengan mata kepalanya sendiri

di atas bahu kami sendiri

dengan tenaga lagi keringat mereka sendiri

yang busuk lagi menjijikkan itu

saling; sepanjang waktu


Contoh Tautologi
Kami tiba di rumah jam 4.00 subuh.

Orang yg meninggal itu menutup mata buat selama-lamanya.

Anak-anak asyik menyepak bola yg bundar bentuknya itu.

Acuan di atas disebut tautologi karena kata berlebihan itu sebenarnya mengulang kembali gagasan yg sudah disebut sebelumnya, yaitu subuh sudah tercakup dalam jam 4.00, menutup mata buat selama-lamanya sudah tercakap dalam meninggal, bundar sudah tercakup dalam bola.

Gaya Bahasa Depersonifikasi; Pengertian Lagi Contohnya

Pengertian Depersonifikasi

Depersonifikasi adalah majas yg berupa pembandingan manusia dengan bukan manusia ataupun dengan benda (misalnya: dikau langit, daku bumi). (KBBI).

Lihat juga: Ragam Gaya Bahasa; Pengertian pada Contohnya

Gaya bahasa depersonifikasi atau pembendaan adalah kebalikan dari gaya bahasa personifikasi atau penginsanan.

Apabila personifikasi menginsankan ataupun memanusiakan benda-benda, maka depersonifikasi justru membendakan manusia ataupun insan.

Biasanya depersonifikasi ini terdapat dalam kalimat pengandaian yg secara demam spesifik memanfaatkan kata: kalau, jika, jakalau, bila (mana), sekiranya, misalkan, umpama, andai (kata), seandainya, andaikan.


Contoh Depersonifikasi

Kalau dikau menjadi samudra, maka daku menjadi bahtera.
Kalau dikau samudra, daku bahtera.

Andai kamu menjadi langit, maka dia menjadi tanah.
Andai kamu langit, dia tanah.

Bila kakanda mejadi darah, maka adinda menjadi daging.

Sekiranya suami menjadi ombak, maka isteri menjadi pantai.

Andai engkau malam, maka akulah siangnya.

Bila engkau adalah sendok, akulah garpunya.


Referensi:
Pengajaran Gaya Bahasa, Prof. Dr. Henry Guntur Tarigan.