Jumat, 25 Oktober 2019

Elemen-Elemen Seni Teater

 Berikut ini penjelasan lengkap tentang elemen Elemen-Elemen Seni Teater

Elemen-Elemen Seni Teater yaitu:
1. penyutraadaraan,
2. pemeran
3. penata artistik, dan
4. penonton.

Berikut ini penjelasan lengkap tentang elemen-elemen seni teater di atas.

1. Penyutradaraan
Sutradara mempunyai tugas mengkoordinasikan segala anasir pementasan, sejak latihan dimulai sampai dengan pementasan selesai. Sutradara mempunyai tugas sentral yg berat dalam sebuah pementasan, Sutradara bertanggung gerah elakan atas proses transformasi naskah lakon ke bentuk pemanggungan tidak hanya akting para pemain yg diurusnya, tetapi juga kebutuhan yg berhubungan dengan artistik dengan teknis.

# Sejarah Timbulnya Sutradara
Dalam drama tradisional, kurang lebih dua abad yg lalu, belum ada sutradara.Dalam drama tradisional di Indonesia, masing-masing aktor bermain improvisasi.Yang ada hanyalah manajer dengan produser. Dalam perkembangan kedudukan sutradara, beberapa kejadian penting boleh dicatat, yaitu sebagai berikut.

1). Pada saat Saxe Meiningen mendirikan rombongan teater di Berlin, kepada tahun 1874-1890..Saat itu dipentaskan 2591 drama di wilayah Jerman.Kemudian mengadakan tour ke seluruh Eropa. Dengan peristiwa itu, dirasa kebutuhan bakal adanya sutradara yg mengkoordinasikan pementasan-pementasan.

2). Gurdon Craig (1872), putra Ellen Terry mempelopori penyutradaraan sehingga namanya sangat terkenal. Sampai kini, nam Craig dipuja sebagai sutradara genius.Dia dinyatakan sebagai sutradara yg memaksakan gagasannya kepada aktor/aktris.Melalui dirinya diperkenalkan seniman teater baru yg disebut sutradara.

3). Constantin Stanilavsky (1863-1938) merupakan sutradara Rusia yg terbesar.Ia mendirikan “Moscow Art Theater”. Dengan penyutradaraannya, dihilangkan sistem bintang, dengan ia merupakan pelopor penyutradaraan yg mementingkan sukma.

#Tugas Sutradara
Menurut Fran K. Whitting ada tiga macam tugas utama dari seorang sutradara, yaitu: merencanakan produksi pementasan, memimpin latihan aktor, dengan aktris, dengan mengorganisasi produksi.

Sutradara merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater.Baik buruknya pementasan teater sangat ditentukan oleh kerja sutradara, meskipun unsur–unsurlainnya juga berperan tetapi masih berada di bawah kewenangan sutradara.

Sebagai pimpinan, sutradara selain bertanggung gerah elakan terhadap kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus bertanggung gerah elakan terhadap masyarakat alias penonton. Meskipun dalam tugasnya seorang sutradara dibantu oleh stafnya dalam menyelesaikan tugas– tugasnya tetapi sutradara tetap merupakan penanggung gerah elakan utama. Untuk itu sutradara dituntut mempunyai pengetahuan yg luas agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dengan boleh mengatasi kendala teknis yg timbul dalam proses penciptaan.

Sebagai seorang pemimpin, sutradara harus mempunyai pedoman yg pasti sehingga bisa mengatasi kesulitan yg timbul. Menurut Harymawan (1993) Ada beberapa tipe sutradara dalam menjalankan penyutradaraanya, yaitu:

Sutradara konseptor. Ia menentukan pokok penafsiran dengan menyarankan konsep penafsiranya kepada pemain. Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb.

Sutradara diktator. Ia mengharapkan pemain dicetak seperti dirinya sendiri, tidak ada konsep penafsiran dua arah ia mendambakan seni sebagai dirinya, sementara pemain dibentuk menjadi robot-robot yg tetap buta tuli.

Sutradara koordinator. Ia menempatkan diri sebagai pengarah alias polisi lalulintas yg mengkoordinasikan pemain dengan konsep pokok penafsirannya.
Sutradara paternalis. Ia bertindak sebagai guru alias suhu yg mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin para anggotanya.Teater disamakan dengan padepokan, sehingga pemain adalah cantrik yg harus setia kepada sutradara.

2. Pemeran
Untuk mentransformasikan naskah di atas panggung dibutuhkan pemain yg mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon menjadi sosok yg nyata.Pemain adalah alat untuk memeragakan tokoh.Tetapi bukan sekedar alat yg harus tunduk kepada naskah.Pemain mempunyai wewenang membuat refleksi dari naskah melalui dirinya.Agar bisa merefleksikan tokoh menjadi sesuatu yg hidup, pemain dituntut menguasai aspek-aspek pemeranan yg dilatihkan secara khusus, yaitu jasmani (tubuh/fisik), rohani (jiwa/emosi), dengan intelektual. Memindahkan naskah lakon ke dalam panggung melalui media pemain tidak sesederhana mengucapkan kata - kata yg ada dalam naskah lakon alias sekedar memperagakan keinginan penulis melainkan proses pemindahan mempunyai karekterisasi tersendiri, yaitu harus menghidupkan bahasa kata (tulis) menjadi bahasa pentas (lisan).

3. Penata Artistik
Tata artistik merupakan unsur yg tidak boleh dipisahkan dari teater. Pertunjukan teater menjadi tidak utuh tanpa adanya tata artistic yg mendukungnya. Unsur artistik disini meliputi tata panggung, tata busana, tata cahaya, tata rias, tata suara, tata musik yg boleh membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan. Unsur-unsur artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dengan penata artistic mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut sehingga unsur-unsur tersebut tidak hanya sebagai bagian yg menempel alias mendukung, tetapi lebih dari itu merupakan kesatuan yg utuh dari sebuah pementasan.

Tata panggung adalah pengaturan pemandangan di panggung selama pementasan berlangsung. Tujuannya tidak sekedar supaya permainan bisa dilihat penonton tetapi juga menghidupkan pemeranan dengan suasana panggung.

Tata cahaya alias lampu adalah pengaturan pencahayaan di daerah sekitar panggung yg fungsinya untuk menghidupkan permainan dengan dan suasana lakon yg dibawakan, sehingga menimbulkan suasana istimewa.

Tata musik adalah pengaturan musik yg mengiringi pementasan teater yg berguna untuk memberi penekanan kepada suasana permainan dengan mengiringi pergantian babak dengan adegan.
Tata suara adalah pengaturan keluaran suara yg dihasilkan dari berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor, efek suasana, dengan musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan harmoni.
Tata rias dengan tata busana adalah pengaturan rias dengan busana yg dikenakan pemain. Gunanya untuk menonjolkan watak peran yg dimainkan, dengan bentuk fisik pemain bisa terlihat jelas penonton.

4. Penonton
Tujuan terakhir suatu pementasan lakon adalah penonton. Respon penonton atas lakon bakal menjadi suatu respons melingkar, antara penonton dengan pementasan. Banyak sutradara yg kurang memperhatikan penonton dengan menganggapnya sebagai kelompok konsumsi yg bisa menerima begitu saja apa yg disuguhkan sehingga coba terjadi suatu kegagalan dalam pementasan penonton dianggap sebagai penyebabnya karena mereka tidak mengerti alias kurang terdidik untuk memahami sebuah pementasan.

Kelompok penonton kepada sebuah pementasan adalah suatu komposisi organisme kemanusiaan yg peka. Mereka pergi menonton karena ingin memperoleh kepuasan, kebutuhan, dan  cita-cita. Alasan lainnya untuk tertawa, untuk menangis, dengan untuk digetarkan hatinya, karena terharu akibat dari hasrat ingin menonton. Penonton meninggalkan rumah, antri karcis dengan membayar biaya masuk dengan lain-lain karena teater adalah dunia ilusi dengan imajinasi. Membebaskan pola rutin kehidupan selama waktu dibuka hingga ditutupnya tirai untuk memuaskan hasrat jiwa khayalannya.

Eksistensi teater tidak mengenal batas kedudukan manusia. Secara ilmiah, manusia memiliki kekuatan menguasai sikap dengan tindakannya. Tindakannya pergi ke teater disebabkan oleh keinginan dengan kebutuhan berhubungan dengan sesama. Sehingga menempuh jalan sebagai berikut :

Bertemu dengan orang lain yg menonton teater. Teater merupakan suatu lembaga sosial.
Memproyeksikan diri dengan peranan-peranan yg melakonkan hidup dengan kehidupan di atas pentas secara khayali. Teater adalah salah satu cara proses interaksi sosial

Dalam memandang suatu karya seni penonton hendaklah mampu memelihara adanya suatu objektivitas artistik. Ini bisa tercapai dengan menentukan jarak estetik (aestetic distance) sehubungan dengan karya seni yg dihayatinya. Pemisahan yg dimaksud, antara penonton dengan yg ditonton, kepada seni teater diusahakan dengan jalan:
- Menciptakan penataan yg tepat atas auditorium dengan pentas.
- Adanya batas artistik proscenium sebagai bingkai gambar.
- Pentas yg terang dengan auditorium yg gelap.

Semua itu bakal membantu kedudukan penonton sehingga memungkinkan untuk melakukan perenungan.

Penulis: Indar Sabri, S.Sn, M.Pd

Penjelasan Tentang Seni Teater Bersama Drama


Penjelasan Tentang Seni Teater bersama Drama
Perkataan ”drama” berasal dari bahasa yunani ”draomai” yg berarti: berbuat berlaku, bertindak alias beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan alias beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan alias action bersama “drame” yg berasal dari kata Perancis yg diambil oleh Diderot bersama Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yg lebih ketat berarti lakon serius yg menggarap satu masalah yg punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika.

Baca juga:
Elemen-Elemen Seni Teater
Kata “drama” juga dianggap sudah pernah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” bersama “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yg mempergunakan drama lebih identik sebagai teks alias naskah alias lakon alias karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001).

Namun, Drama selalu dikaitkan dengan kata Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yg artinya tempat alias gedung pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yg dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya  ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, bersama lain sebagainya.

Teater boleh dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah bersama ibu, bermain perang-perangan, bersama lain sebagainya. Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yg berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal bersama bermakna filosofis.

Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater boleh dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yg dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yg dimainkan di atas pentas bersama disaksikan oleh penonton.

Dari penjelasan di atas boleh disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon alias naskah cerita yg atas dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama alias drama yg dipentaskan di atas panggung bersama disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon bersama “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian alias salah satu unsur dari “teater”. Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindaktanduk pemain di atas pentas disebut acting.

Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yg berarti, berbuat, berlaku, alias beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor bersama pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993).

Di Indonesia, dengan tahun 1920-an, belum kemarau mengembol istilah teater. Yang ada adalah sandiwara alias tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, bersama “wara” alias “warah” yg berarti, “pengajaran”.

Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yg dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater dengan masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yg disajikan dinamakan drama. Sampai dengan Zaman Jepang bersama permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer.Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006).

Dalam kehidupan sekarang, drama mengandung arti yg lebih luas ditinjau dari apakah drama salah satu genre sastra, ataukah drama itu sebagai cabang kesenian yg mandiri.

Drama naskah merupakan salah satu genre sastra yg disejajarkan dengan puisi bersama prosa. Drama pentas adalah jenis kesenian mandiri, yg merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti musik, tata lampu, kesenian lukis alias dekor, panggung, seni kostum seni rias bersama sebagainya.Jika kita bicarakan dram pentas sebagai kesenian mandiri, maka ingatan kita boleh kita layangkan dengan wayang, ketoprak, ludruk, lenong bersama film. Dalam kesenian tersebut, naskah drama di ramu dengan berbagai unsur untuk membentukkelengkapan.

Terminologi istilah drama biasanya di dasarkan dengan wilayah pembicaraan, apaakah yg dimaksud drama naskah alias drama pentas. Drama naskah boleh diberi batasan sebagai salah satu jenis karya sastra yg ditulis dalam bentuk dialog yg didasarkan atas konflik batin bersama mempunyai kemungkinan di pentaskan. Moulton memberikan definisi drama (pentas) sebagai hidup manusia yg dilukiskan dengan action.Hidup manusia yg dilukiskan dengan action itu lebih kemarau lepas dituliskan maka drama baik naskah maupun pentas berhubungan bahasa bersama sastra.

Keterikatan antara teater bersama drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama).Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater.

Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yg berarti seni alias tekhnik penulisan drama bersama penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yg disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yg terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, bersama menyaksikan.

M1 alias menghayal, boleh dilakukan oleh seseorang alias sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yg merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan dengan suatu persitiwa baik yg disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu.Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan dengan kehidupan seseorang. Gagasan alias daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yg dengan akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan.

M2 alias menulis, adalah proses seleksi alias pemilihan situasi yg harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci  aksi ini, pengarang mulai mengatur bersama menyusun kembali situasi bersama peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, bersama semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan.

M3 alias memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide bersama gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yg mewujudkan ide bersama gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan.

M4 alias menyaksikan, merupakan proses penerimaan bersama penyerapan informasi alias pesan yg disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater boleh dikatakan berhasil lamun pesan yg hendak disampaikan boleh diterima dengan baik oleh penonton.Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan bersama keinginannya terhadap tontonan tersebut.

Begini Cara Atasi Smartphone Android Yg Suka Download Sendiri

Cara Mengatasi Ponsel Android Yang Mendownload Sendiri Begini Cara Atasi Smartphone Android Yang Suka Download Sendiri

TEKNOSMASH - Begini cara atasi smartphone Android yg suka download sendiri. Awalnya paket internet smartphone Android habis, berhubung lagi bokek, beberapa hari Android dibiarkan tanpa kuota. Beberapa harinya lagi ada uang untuk beli paket internet, akhirnya di isi itu kartu perdana smartphone Android dengan paket internet. Namun, saat Android terhubung ke jaringan internet, tiba-tiba hampir semua aplikasi minta update bersama download sendiri. Kalau dibiarkan, kuota internet bisa habis hanya untuk download otomatis. Untung ada cara menghentikan Android yg suka download sendiri. Ingin tahu? yuk simak tutorialnya berikut ini.

Menghentikan Android yg suka download sendiri, selain untuk menghemat kuota internet juga bisa menghemat ruang penyimpanan smartphone Android ataupun yg lebih kita kenal Memori RAM. Ada 2 jenis memori di smartphone Android yakni memori internal bersama memori eksternal. Ke duanya memiliki fungsi yg sama untuk menyimpan data di smartphone Android, baik itu aplikasi ataupun data pribadi, seperti dokumen, foto bersama video.

Cara Menghentikan Download Otomatis di Smartphone Android

Sebelumnya, hendak kita kasih tahu ada banyak faktor penyebab smartphone Android download sendiri. Salah satunya seperti yg agak kita bahas di awal paragrap. Untuk menghentikannya bisa dibilang mudah. Namun, untuk pemula mungkin bisa di bilang susah. Maka dari itu simak baik-baik. Ada 2 cara ala TeknoSmash untuk menghentikan Android yg suka download sendiri, diantaranya:

1. Menonaktifkan Update Otomatis Pada Google Play Store
  • Pertama-tama buka aplikasi 'Google Play Store'
  • Kemudian lanjutkan ke 'Pengaturan' play store lalu tap 'Auto-update Apps' bersama pilih 'Do not auto-update apps'
  • Selesai.
2. Menonaktifkan Pemasangan Aplikasi dari Sumber yg tidak diketahui (Unknown Source)
  • Awali dengan membuka menu 'Pengaturan' di smartphone Android
  • Kemudian lanjutkan dengan menggulir layar ke bawah lalu tap 'Security'
  • Berikutnya, gulir kembali layar ke bawah temukan 'Unknown Source' lalu hilangkan tanda centang dengan kotak disampinya tersebut.
  • Selesai

Demikian cara mengatasi smartphone Android yg suka download sendiri salah satunya saat Android terhubung ke jaringan internet. Jika belum berhasil kamu bisa coba aplikasi 'ESET Mobile Security & Antivirus' dari google play store untuk mengehantikan download secara otomatis.

Kamis, 24 Oktober 2019

Jenis-Jenis Teater

Jenis Teater  angsal dikelompokkan menjadi Jenis-Jenis Teater

Jenis-Jenis Teater angsal dikelompokkan menjadi:
1. Teater Boneka
2. Teater Musikal
3. Teater Gerak
4. Teater Dramatik
5. Teatrikalisasi Puisi

1. Teater Boneka

Pertunjukan boneka sudah pernah dilakukan sejak Zaman Kuno. Sisa peninggalannya ditemukan di makam-makam India Kuno, Mesir, dengan Yunani. Boneka sering dipakai untuk menceritakan legenda maupun kisah-kisah religius. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yg berbeda. Boneka tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat yg dipegang dari bawah. Marionette, maupun boneka tali,  digerakkan dengan cara menggerakkan kayu silang tempat tali boneka diikatkan.

Dalam pertunjukan wayang kulit, wayang dimainkan di belakang layar tipis dengan sinar lampu menciptakan bayangan wayang di layar. Penonton wanita duduk di depan layar, menonton bayangan tersebut. Penonton pria duduk di belakang layar dengan menonton wayang secara langsung.

Boneka Bunraku dari Jepang mampu melakukan banyak sekali gerakan sehingga diperlukan tiga dalang untuk menggerakkannya. Dalang berpakaian hitam dengan duduk persis di depan penonton. Dalang utama mengendalikan kepala dengan lengan kanan. Para pencerita bernyanyi dengan melantunkan kisahnya.

2. Drama Musikal

Drama musikal merupakan pertunjukan teater yg menggabungkan seni menyanyi, menari, dengan akting. Drama musikal mengedepankan unsur musik, nyanyi, dengan gerak daripada dialog para pemainnya. Di panggung Broadway jenis pertunjukan ini sangat terkenal dengan biasa disebut dengan pertunjukan kabaret. Kemampuan aktor tidak hanya kepada penghayatan karakter melalui baris kalimat yg diucapkan tetapi juga melalui lagu dengan gerak tari. Disebut drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yg bercerita seperti The Cats karya Andrew Lloyd Webber yg fenomenal. Dari karya musik bercerita tersebut kemudian dikombinasi dengan gerak tari, alunan lagu, dengan tata pentas.

Selain kabaret, opera angsal digolongkan dalam drama musikal. Dalam opera dialog para tokoh dinyanyikan dengan iringan musik orkestra dengan lagu yg dinyanyikan disebut seriosa. Di sinilah letak perbedaan dasar antara Kabaret dengan opera. Dalam drama musikal kabaret, jenis musik dengan lagu bisa saja bebas tetapi dalam opera biasanya adalah musik simponi (orkestra) dengan seriosa. Tokoh-tokoh utama opera menyanyi untuk menceritakan kisah dengan perasaan mereka kepada penonton. Biasanya juga berupa paduan suara. Opera bermula di Italia kepada awal tahun 1600-an. Opera dipentaskan di gedung opera. Di dalam gedung opera, para musisi duduk di area yg disebut orchestra  pit di bawah dengan di depan panggung.

3. Teater Gerak

Teater gerak merupakan pertunjukan teater yg unsur utamanya adalah gerak dengan ekspresi wajah serta tubuh pemainnya. Penggunaan dialog sangat dibatasi maupun bahkan dihilangkan seperti dalam pertunjukan pantomim klasik. Teater gerak, tidak angsal diketahui dengan pasti kelahirannya tetapi ekspresi bebas seniman teater terutama dalam hal gerak menemui puncaknya dalam masa commedia del’Arte di Italia. Dalam masa ini pemain teater angsal bebas bergerak sesuka hati (untuk karakter tertentu) bahkan lepas dari karakter tokoh dasarnya untuk memancing perhatian penonton. Dari kebebasan ekspresi gerak inilah gagasan mementaskan pertunjukan dengan berbasis gerak secara mandiri muncul.

Teater gerak yg paling populer dengan bertahan sampai saat ini adalah pantomim. Sebagai pertunjukan yg sunyi (karena tidak menggunakan suara), pantomim mencoba mengungkapkan ekspresinya melalui tingkah polah gerak dengan mimik para pemainnya. Makna pesan sebuah lakon yg hendak disampaikan semua ditampilkan dalam bentuk gerak. Tokoh pantomim yg terkenal adalah Etienne Decroux dengan Marcel Marceau, keduanya dari Perancis.

4. Teater Dramatik

Istilah dramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan teater yg berdasar kepada dramatika lakon yg dipentaskan. Dalam teater dramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan dengan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil mungkin. Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan ketat. Mencoba menarik minat dengan rasa penonton terhadap situasi cerita yg disajikan. Menonjolkan laku aksi pemain dengan melengkapinya dengan sensasi sehingga penonton tergugah. Satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain hingga membentuk keseluruhan lakon. Karakter yg disajikan di atas pentas adalah karakter manusia yg sudah jadi, dalam artian tidak ada lagi proses perkembangan karakter tokoh secara improvisatoris (Richard Fredman, Ian Reade: 1996). Dengan segala konvensi yg ada di dalamnya, teater dramatik mencoba menyajikan cerita seperti halnya kejadian nyata.

5. Teatrikalisasi Puisi

Pertunjukan teater yg dibuat berdasarkan karya sastra puisi. Karya puisi yg biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan di atas pentas. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka teatrikalisasi puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya akting para pemain biasanya teatrikal. Tata panggung dengan blocking dirancang sedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yg dimaksud. Teatrikalisasi puisi memberikan wilayah kreatif bagi sang seniman karena mencoba menerjemahkan makna puisi ke dalam tampilan laku aksi dengan tata artistik di atas pentas.


Penulis: Indar Sabri, S.Sn, M.Pd.

Contoh Soal Teks Puisi (Apresiasi Menyeluruh/Komprehensif) Bag. 1

Bacalah teks puisi berikut kemudian jawablah pertanyaan Contoh Soal Teks Puisi (Apresiasi Menyeluruh/Komprehensif) Bag. 1

Bacalah teks puisi berikut kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawahnya!

MEMIKUL KERANDA

Tikaman keris maut begitu dalam
tiada suara tiada mengucur darah
cuma pekik lantang memecah bumi
satu-satu pun tiada mendengar menyahut
segala menuli lalu membisu

Kini kau di bahuku ringan sekali
kuantarkan pulang, pelabuhan
berlayar ke pulau jauh
tiada kelasi kemudi
sepi sendiri
dan aku juga kakanda, sampai waktu
seperti kau ke laut kembali

(D. Zauhiddie)

PERTANYAAN:
1. Berdasarkan gambaran bait pertama dengan puisi di atas, kematian dirasakan ssebagai ....
A. keadaan yg sunyi sepi
B. petir yg memecah bumi
C. misteri yg mencekam
D. keadaan yg mengharukan

2. Pada bait kedua digambarkan bahwa kematian merupakan ....
A. kepergian ke tempat baru
B. kembali ke tempat asal
C. berbahaya ke atas kendaraan tanpa sopir
D. pergi ke pelabuhan yg diantar orang lain

3. Kata mengucur darah dengan baris 2 lalu kata memecah sunyi dengan baris 3 puisi di atas tergolong pemakaian gaya bahasa berjenis ....
A. hiperbola
B. pleonasme
C. asosiasi
D. litotes

4. Vokal a dengan dalam (baris 1) yg diulang dengan darah (baris 2) disebut ....
A. sajak aliterasi
B. sajak akhir
C. sajak asonansi
D. sajak disonansi

5. Pengulangan bunyi konsonan dengan "Satu-satu pun tiada mendengar menyahut segala menuli lalu membisu" disebut ....
A. sajak aliterasi
B. sajak asonansi
C. sajak berpeluk
D. sajak disonansi

6. Kata pelabuhan pada baris 7 diartikan sebagai 'kuburan'. Pengandaian yg semacam itu tergolong pemakaian gaya bahasa yg berjenis ....
A. gaya alegori
B. gaya eufimisme
C. gaya hiperbola
D. gaya metafora

7. Peristiwa kematian dirasakan sebagai tikaman keris (baris 1), yaitu 'peristiwa mencekam'. Pengandaian yg semacam ini tergolong pemakaian gaya bahasa ....
A. gaya alegori
B. gaya eufimisme
C. gaya hiperbola
D. gaya metafora

8. Peristiwa digambarkan secara utuh sebagai
berlayar ke pulau jauh
tiada kelasi kemudi
sepi sendiri
dan aku juga kakanda, sampai waktu
seperti kau ke laut kembali

Pengedalian peristiwa kematian seperti di atas menggunakan gaya bahasa berjenis ....
A. gaya alegori
B. gaya litotes
C. gaya sinekdoke
D. gaya ironi

9. Latar cerita yg menonjol dalam puisi di atas adalah ....
A. tempat
B. suasana
C. ruang
D. waktu

10. Nada/Suasana jenis yg dituangkan dalam puisi diatas diliputi oleh ....
A. sendu
B. sedih
C. putus asa
D. pasrah

11. Dalam puisi di atas penyair berposisi sebagai .....
A. penutur cerita
B. pelaku cerita
C. pelapor cerita yg tahu
D. pelaku utama

12. Pokok persoalan yg dipaparkan dengan puisi di atas adalah ....
A. peristiwa kematian pasti terjadi dengan semua orang
B. Peristiwa kematian sangat mendadak datangnya
C. peristiwa kematian sebenarnya kembali ke tempat awal
D. peristiwa kematian merupakan misteri yg mencekam

13. Tema yg terdapat dengan puisi di atas berhubungan dengan ....
A. kepercayaan
B. adat
C. kematian
D. agama

14. Nilai kehidupan yg angsal dipetik dari puisi di atas adalah ....
A. bersiap-siaplah menghadapi kematian, sebab kalau sampai waktu peristiwa itu pasti kita alami
B. kalau ada orang mati, antarkan ke kuburan
C. jangan mati sebelum mempunyai bekal yg cukup
D. yg di bawa oleh seseorang yg mati hanyalah kebaikannya sewaktu di dunia.

(Latihan Apresiasi Sastra SMP/SMA: A. Hayati, Drs. Muslich)

Mutasi Siswa Keluar Fitur Baru Emis Madrasah

MUTASI SISWA KELUAR 
Fitur Baru Emis Madrasah



Fitur yg berdampingan dg Fitur Mutasi Siswa sbb:

1. Warna Hijau Detail Siswa 
2. Warna Kuning Edit Data Siswa 
3. Warna Merah Mutasi Keluar Siswa 



Setelah klik Fitur Warna Merah ataupun Mutasi Keluar Siswa, maka tampilan kotak dialog seperti gambar diatas, kita tinggal Mengisi data siswa yg atas di mutasi keluar..  Semoga bermanfaat.. Salam Operator Madrasah..

Info dari Grup Operator Sebelah. 



Sejarah Perkembangan Teater Modern Indonesia


Perkembangan Teater Modern Indonesia memiliki sejarah yg cukup panjang, yakni dimulai dari:
1. Teater Transisi
2. Teater  Indonesia tahun 1920-an
3. Teater Indonesia tahun 1940-an
4. Teater Indonesia Tahun 1950-an
5. Teater Indonesia Tahun 1970-an
6. Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an, dan
7. Teater Kontemporer Indonesia

1. Teater Transisi
Teater transisi adalah penamaan atas kelompok teater kepada periode saat teater tradisional mulai mengalami perubahan karena pengaruh budaya lain. Kelompok teater yg masih tergolong kelompok teater tradisional dengan model garapan memasukkan unsur-unsur teknik teater Barat, dinamakan teater bangsawan. Perubahan tersebut terletak kepada cerita yg sudah mulai ditulis, meskipun masih dalam wujud  cerita ringkas alias outline story (garis besar cerita per adegan). Cara penyajian cerita dengan menggunakan panggung bersama dekorasi.  Mulai memperhitungkan teknik yg mendukung pertunjukan.

Pada periode transisi inilah teater tradisional berkenalan dengan teater non-tradisi. Selain pengaruh dari teater bangsawan, teater tradisional berkenalan juga dengan teater Barat yg dipentaskan oleh orang-orang Belanda di Indonesia sekitar tahun 1805 yg kemudian berkembang hingga di Betawi (Batavia) bersama mengawali berdirinya gedung  Schouwburg kepada tahun 1821 (Sekarang Gedung Kesenian Jakarta).

Perkenalan masyarakat Indonesia kepada teater non-tradisi dimulai sejak Agust Mahieu mendirikan Komedie Stamboeldi Surabaya kepada tahun 1891, yg pementasannya secara teknik sudah pernah banyak mengikuti budaya bersama teater Barat (Eropa), yg kepada saat itu masih belum menggunakan naskah drama/lakon. Dilihat dari segi sastra, mulai mengenal sastra lakon dengan diperkenalkannya lakon yg pertama yg ditulis oleh orang Belanda F.Wiggers yangberjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno, kepada tahun 1901. Kemudian disusul oleh Lauw Giok Lan lewat Karina Adinda, Lelakon Komedia Hindia Timoer (1913), bersama lain-lainnya, yg menggunakan bahasa Melayu Rendah.

Setelah Komedie Stamboel didirikan  muncul kelompok sandiwara seperti Sandiwara Dardanella (The Malay Opera Dardanella) yg didirikan Willy Klimanoff alias A. Pedro kepada tanggal 21  Juni 1926. Kemudian lahirlah kelompok sandiwara lain, seperti Opera Stambul, Komidi Bangsawan, Indra Bangsawan,  Sandiwara Orion, Opera Abdoel Moeloek, Sandiwara Tjahaja Timoer, bersama lain sebagainya. Pada masa teater transisi belum berbahaya tumbuh; ada istilahteater. Yang ada adalahsandiwara. Karenanya rombongan teater kepada masa itu menggunakan nama sandiwara, sedangkan cerita yg disajikan dinamakan drama. Sampai kepada Zaman Jepang bersama permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan.

2. Teater  Indonesia tahun 1920-an
Teater kepada masa kesusasteraaan angkatan  Pujangga Baru kurang berarti seandainya dilihat dari konteks sejarah teater modern Indonesia tetapi cukup penting dilihat dari sudut kesusastraan. Naskah-naskah drama tersebut belum mencapai bentuk sebagai drama karena masih menekankan unsur sastra bersama sulit untuk dipentaskan. Drama-drama Pujangga Baru ditulis sebagai ungkapan ketertekanan kaum intelektual dimasa itu karena penindasan pemerintahan Belanda yg amat keras terhadap kaum pergerakan sekitar tahun 1930-an. Bentuk sastra drama yg pertamakali menggunakan bahasa Indonesia bersama disusun dengan model dialog antar tokoh bersama berbentuk sajak adalah Bebasari(artinya kebebasan yg sesungguhnya alias inti kebebasan) karya Rustam Efendi(1926). Lakon Bebasari merupakan sastra drama yg menjadi pelopor semangat kebangsaan. Lakon ini menceritakan perjuangan tokoh utama Bujangga, yg membebaskan puteri Bebasari dari niat berbahaya kurang ajar (cak) Rahwana. Penulis lakon lainnya, yaitu Sanusi Panemenulis Kertajaya (1932) bersama Sandyakalaning  Majapahit (1933) Muhammad Yaminmenulis Ken Arok danKen Dedes (1934). Armiijn Panemengolah roman Swasta Setahun di Bedahulu karangan I Gusti Nyoman Panji Tisna menjadi naskah drama.  Nur Sutan Iskandarmenyadur karangan Molliere, dengan judul Si Bachil.Imam Supardimenulis drama dengan judul Keris Mpu Gandring. Dr. Satiman Wirjosandjojo menulis drama berjudul Nyai Blorong. Mr. Singgih menulis drama berjudul Hantu.  Lakon-lakon ini ditulis berdasarkan tema kebangsaan, persoalan, bersama harapan  serta misi mewujudkan Indonesia sebagai negara merdeka. Penulis-penulis ini adalah cendekiawan Indonesia,  menulis dengan menggunakan bahasa Indonesia bersama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Bahkan Presiden pertama Indonesia, Ir Soekarno, kepada tahun 1927 menulis bersama menyutradarai teater di Bengkulu (saat di pengasingan). Beberapa lakon yg ditulisnya antara lain,  Rainbow, Krukut Bikutbi, bersama Dr. Setan.

3. Teater Indonesia tahun 1940-an
Semua unsur kesenian bersama kebudayaan kepada kurun waktu penjajahan Jepang dikonsentrasikan untuk mendukung pemerintahan totaliter Jepang. Segala daya kreasi seni secara sistematis di arahkan untuk menyukseskan pemerintahan totaliter Jepang. Namun demikian, dalam situasi yg sulit bersama genting serupa itu, dua orang tokoh, yaituAnjar Asmaradan Kamajaya masih sempat berpikir bahwa perlu didirikan Pusat Kesenian Indonesia yg bertujuan menciptakan pembaharuan kesenian yg selaras dengan perkembangan zaman sebagai upaya untuk melahirkan kreasi – kreasi baru dalam wujud kesenian berbahaya domestik Indonesia. Maka kepada tanggal 6 oktober 1942, di rumah Bung Karno dibentuklah Badan Pusat Kesenian Indonesia dengan pengurus sebagai berikut, Sanusi Pane (Ketua), Mr. Sumanang (Sekretaris), bersama sebagai anggota antara lain, Armijn Pane, Sutan Takdir Alisjabana, bersama Kama Jaya. Badan Pusat Kesenian Indonesia bermaksud menciptakan kesenian Indonesia baru, di antaranya dengan jalan memperbaiki bersama menyesuaikan kesenian daerah menuju kesenian Indonesia baru. Langkah-langkah yg sudah pernah diambil oleh Badan Pusat Kesenian Indonesia untuk mewujudkan cita-cita kemajuan kesenian Indonesia,  ternyata mengalami hambatan yg datangnya dari barisan propaganda Jepang, yaitu Sendenbu yg membentuk badan perfilman  dengan nama Djawa Eiga Kosy’, yg dipimpin oleh orang Jepang S. Oya.Intensitas kerja Djawa Eiga Kosya yg ingin menghambat langkah Badan Pusat Kesenian Indonesia nampak ketika mereka membuka sekolah tonil bersama drama Putra Asia,Ratu Asia, Pendekar Asia, yg kesemuanya merupakan corong propaganda Jepang.

Dalam masa pendudukan Jepang kelompok rombongan sandiwara yg mula-mula berkembang adalah rombongan sandiwara profesional. Dalam kurun waktu ini semua bentuk seni  hiburan yg berbau Belanda lenyap karena pemerintah penjajahan Jepang anti budaya Barat. Rombongan sandiwara keliling komersial, seperti misalnya Bintang Surabaya, Dewi Mada, Mis Ribut, Mis Tjitjih, Tjahaya Asia, Warna Sari, Mata Hari, Pancawarna,dan lain-lain kembali berkembang dengan mementaskan cerita dalam bahasa Indonesia, Jawa, maupun Sunda. Rombongan sandiwara Bintang Surabaya tampil dengan aktor bersama aktris kenamaan, antara lain  Astaman, Tan Ceng Bok (Si Item), Ali Yugo, Fifi Young, Dahlia, bersama sebagainya. Pengarang NyooCheong Seng, yg dikenal  dengan nama samarannya Mon Siour D’amour  ini dalam rombongan sandiwara Bintang Surabaya menulis lakon antara lain, Kris Bali, Bengawan Solo, Air Mata Ibu (sudah difilmkan), Sija,  R.A Murdiati,dan Merah Delima. Rombongan Sandiwara Bintang Surabaya menyuguhkan pementasan-pementasan dramanya dengan cara lama seperti  pada masa Dardanella, Komedi Bangsawan, bersama Bolero, yaitu di antara satu bersama lain babak diselingi oleh tarian-tarian, nyanyian, bersama lawak. Secara istimewa selingannya kemudian ditambah dengan mode show, dengan peragawati gadis-gadis Indo Belanda yg cantik-cantik .

Menyusul kemudian berbahaya tumbuh; ada  rombongan sandiwara Dewi Mada, dengan bintang-bintang eks Bolero, yaitu Dewi Madadengan suaminya Ferry Kok, yg  sekaligus sebagai pemimpinnya. Rombongan sandiwara Dewi Mada lebih mengutamakan tari-tarian dalam pementasan teater mereka karena  Dewi Mada adalah penari terkenal sejak masa rombongan sandiwara Bolero. Cerita yg dipentaskan antara lain, Ida Ayu, Ni Parini, danRencong Aceh.

Hingga tahun 1943 rombongan sandiwara hanya dikelola  pengusaha Cina alias dibiayai Sendenbu karena bisnis pertunjukan itu masih asing bagi para pengusaha Indonesia. Baru kemudian  Muchsin sebagai pengusaha besar tertarik bersama membiayai rombongan sandiwara Warna Sari. Keistimewaan rombongan sandiwara Warna Sari adalah penampilan musiknya yg mewah yg dipimpin oleh Garsia, seorang keturunan Filipina, yg terkenal sebagi Raja Drum. Garsia menempatkan deretan drumnya yg berbagai ukuran itu memenuhi lebih dari separuh panggung. Ia menabuh drum-drum tersebut sambil meloncat ke kanan – ke kiri sehingga menarik minat penonton. cerita-cerita yg dipentaskan  antara lain, Panggilan Tanah Air, Bulan Punama, Kusumahadi, Kembang Kaca, Dewi Rani,dan lain sebagainya.

Rombongan sandiwara terkenal lainnya adalah rombongan sandiwara Sunda Mis Tjitjih, yaitu rombongan sandiwara yg digemari  rakyat jelata. Dalam perjalanannya, rombongan sandiwara ini terpaksa berlindung di bawah barisan propaganda Jepang bersama berganti nama menjadi rombongan sandiwara Tjahaya Asia yg mementaskan cerita-cerita baru untuk kepentingan propaganda Jepang.
Anjar Asmara, Ratna Asmara, bersama Kama Jaya kepada tanggal 6 April 1943, mendirikan rombongan sandiwara angkatan berbahaya yuvenil Matahari. Hanya kalangan terpelajar yg menyukai pertunjukan Matahari yg  menampilakan hiburan berupa tari-tarian kepada awal pertunjukan baru kemudian dihidangkan lakon sandiwara dari awal hingga akhir. Bentuk penyajian semacam ini di anggap kaku oleh penonton umum yg lebih suka unsur hiburan disajikan sebagai selingan babak satu dengan babak lain sehingga akhirnya dengan terpaksa rombongan sandiwara tersebut  mengikuti selera penonton. Lakon-lakon yg ditulis Anjar Asmara antara lain, Musim Bunga di Slabintana, Nusa Penida, Pancaroba, Si Bongkok, Guna-guna, bersama Jauh di Mata.  Kama Jaya  menulis lakon antara lain, Solo di Waktu Malam, Kupu-kupu, Sang Pek Engtay, Potong Padi. Dari semua lakon tersebut ada yg sudah di filmkan yaitu, Solo di Waktu Malamdan Nusa Penida.

Pertumbuhan sandiwara profesional  tidak luput dari perhatian Sendenbu. Jepang  menugaskan Dr. Huyung (Hei Natsu Eitaroo), ahli seni drama atas nama Sendenbu memprakarsai  berdirinya POSD (Perserikatan Oesaha Sandiwara Djawa) yg beranggotakan semua rombongan sandiwara profesional. Sendenbu menyiapkan naskah lakon yg harus dimainkan oleh setiap rombongan sandiwara karangan penulis lakon Indonesia bersama Jepang, Kotot Sukardi menulis lakon, Amat Heiho, Pecah Sebagai Ratna, Bende Mataram, Benteng Ngawi. Hei Natsu Eitaroo menulis  Hantu, lakon Nora karya Henrik Ibsenditerjemahkan bersama judulnya diganti  dengan Jinak-jinak Merpati oleh  Armijn Pane. Lakon Ibu Prajurit ditulis oleh Natsusaki Tani. Oleh karena ada sensor Sendenbu maka lakon harus ditulis lengkap berikut dialognya.  Para pemain tidak boleh menambah alias melebih-lebihkan dari apa yg sudah ditulis dalam naskah. Sensor Sendenbu malah menjadi titik awal  dikenalkannya  naskah dalam setiap pementasan  sandiwara.

Menjelang akhir pendudukan Jepang berbahaya tumbuh; ada rombongan sandiwara yg melahirkan karya ssatra yg berarti, yaitu Penggemar Maya (1944)  pimpinan Usmar Ismail, bersama D. Djajakusuma   dengan dukungan Suryo Sumanto, Rosihan Anwar, bersama Abu Hanifah dengan para anggota cendekiawan muda, nasionalis bersama para profesional (dokter, apoteker, bersama lain-lain). Kelompok ini berprinsip menegakkan nasionalisme, humanisme bersama agama. Pada saat inilah pengembangan ke arah pencapaian teater berbahaya domestik dilakukan. Teater tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga untuk ekspresi kebudayaan berdasarkan kesadaran berbahaya domestik dengan cita-cita menuju humanisme bersama religiositas bersama memandang teater sebagai seni serius bersama ilmu pengetahuan. Bahwa teori teater perlu  dipelajari secara serius. Kelak, Penggemar Maya menjadi  pemicu berdirinya Akademi Teater NasionalIndonesia di Jakarta.

4. Teater Indonesia Tahun 1950-an
Setelah perang  kemerdekaan, peluang terbuka bagi seniman untuk merenungkan perjuangan dalam perang  kemerdekaan, juga sebaliknya, mereka  merenungkan peristiwa perang kemerdekaan, kekecewaan, penderitaan, keberanian bersama nilai kemanusiaan, pengkhianatan, kemunafikan, kepahlawanan bersama tindakan pengecut, keiklasan sendiri bersama pengorbanan, bersama lain-lain. Peristiwa  perang secara khas dilukiskan dalam lakonFajar Sidik(Emil Sanossa, 1955), Kapten Syaf (Aoh Kartahadimaja, 1951), Pertahanan Akhir(Sitor Situmorang, 1954), Titik-titik Hitam (Nasyah Jamin, 1956) Sekelumit Nyanyian Sunda (Nasyah Jamin, 1959). Sementara ada lakon yg bercerita tentang kekecewaan paska perang, seperti korupsi, oportunisme politis, erosi ideologi, kemiskinan, Islam bersama Komunisme, melalaikan penderitaan korban perang, bersama lain-lain. Tema itu terungkap dalam lakon-lakon seperti Awal bersama Mira (1952), Sayang Ada Orang Lain (1953) karya Utuy Tatang Sontani, bahkan lakon adaptasi, Pakaian bersama Kepalsuan oleh Akhdiat Kartamiharja (1956) berdasarkan The Man In Grey Suit  karyaAverchenko bersama Hanya Satu Kali (1956), berdasarkan Justice karyaJohn Galsworthy. Utuy Tatang Sontani  dipandang sebagai tonggak penting menandai awal dari maraknya drama realis di Indonesia dengan lakon-lakonnya yg sering menyiratkan dengan kuat alienasi sebagai ciri kehidupan moderen. Lakon   Awal bersama Mira (1952)  tidak hanya terkenal di Indonesia, melainkan sampai ke Malaysia.

Realisme konvensional bersama naturalisme tampaknya menjadi  pilihan generasi yg terbiasa dengan teater barat bersama dipengaruhi oleh idiom Hendrik Ibsen bersama Anton Chekhov. Kedua seniman teater Barat  dengan idiom realisme konvensional ini menjadi tonggak didirikannya Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)pada tahun 1955  oleh Usmar Ismaildan Asrul Sani. ATNI menggalakkan bersama memapankan realisme  dengan mementaskan lakon-lakon terjemahan dari Barat, seperti karya-karya Moliere, Gogol, bersama Chekov. Sedangkan metode pementasan bersama pemeranan yg dikembangkan oleh ATNI adalah Stanislavskian. Menurut Brandon (1997), ATNI inilah akademi teater modern yg pertama di Asia Tenggara. Alumni Akademi Teater Nasional yg menjadi aktor bersama sutradara antara lain, Teguh Karya, Wahyu Sihombing, Tatiek Malyati, Pramana Padmadarmaya, Galib Husein, bersama Kasim Achmad. Di Yogyakarta  tahun 1955 Harymawan bersama Sri Murtono mendirikan Akademi Seni Drama bersama Film Indonesia (ASDRAFI). Himpunan Seni Budaya Surakarta (HBS) didirikan di Surakarta.

5. Teater Indonesia Tahun 1970-an
Jim lim  mendirikan Studiklub Teater Bandung bersama  mulai mengadakan eksperimen dengan menggabungkan unsur-unsur teater etnis seperti gamelan, tari topeng Cirebon, longser, bersama dagelan dengan teater  Barat. Pada akhir 1950-an JIm Lim mulai dikenal oleh para aktor terbaik bersama para sutradara realisme konvensional. Karya penyutradaraanya, yaitu Awal bersama Mira (Utuy T. Sontani) bersama Paman Vanya (Anton Chekhov). Bermain dengan akting realistis dalam lakon The GlassMenagerie(Tennesse William, 1962), The Bespoke Overcoat (Wolf mankowitz ). Pada tahun 1960, Jim Lim menyutradari Bung  Besar, (Misbach Yusa Biran) dengan gaya longser, teater rakyat Sunda.

Tahun 1962  Jim Lim menggabungkan unsur  wayang kulit bersama musik dalam karya penyutradaraannya yg berjudul  Pangeran Geusan Ulun(Saini KM., 1961). Mengadaptasi  lakon Hamlet bersama diubah judulnya menjadiJakaTumbal (1963/1964). Menyutradarai dengan gaya realistis tetapi  isinya absurditas kepada lakon Caligula(Albert Camus, 1945), Badak-badak(Ionesco, 1960), bersama Biduanita Botak (Ionesco, 1950). Pada tahun 1967 Jim Lim  belajar teater bersama menetap di Paris. Suyatna Anirun,salah satu aktor bersama juga teman Jim Lim,melanjutkan apa yg sudah dilakukan Jim Lim yaitu mencampurkan unsur-unsur teater Barat dengan teater etnis.

Peristiwa penting dalam usaha membebaskan teater dari batasan  realisme konvensional terjadi kepada tahun 1967, Ketika Rendrakembali ke Indonesia.  Rendra mendirikan Bengkel Teater Yogya  yangkemudian menciptakan  pertunjukan pendek improvisatoris yg tidak berdasarkan naskah jadi (wellmade play) seperti dalam drama-drama realisme. Akan tetapi, pertunjukan bermula dari improvisasi bersama eksplorasi bahasa tubuh bersama bebunyian mulut tertentu atas suatu tema yg diistilahkan dengan teater mini kata (menggunakan kata seminimal mungkin). Pertunjukannya misalnya, Bib Bop bersama Rambate Rate Rata (1967,1968).

Didirikannya pusat kesenian Taman Ismail Marzuki oleh Ali Sadikin, gubernur DKI jakarta tahun1970, menjadi pemicu  meningkatnya aktivitas, bersama kreativitas  berteater  tidak hanya di Jakarta,  tetapi juga di kota besar seperti Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Medan, Padang, Palembang, Ujung Pandang, bersama lain-lain. Taman Ismail Marzuki menerbitkan 67 (enam puluh tujuh) judul  lakon yg ditulis oleh 17 (tujuh belas) pengarang sandiwara, menyelenggarakan festival pertunjukan secara teratur,  juga lokakarya bersama diskusi teater secara umum alias khusus. Tidak hanya Stanislavsky tetapi nama-nama seperti Brecht, Artauddan Grotowsky juga diperbincangkan.

Di Surabaya berbahaya tumbuh; ada bentuk pertunjukan teater yg mengacu teater epik (Brecht) dengan idiom teater rakyat (kentrung bersama ludruk) melalui Basuki Rahmat, Akhudiat, Luthfi Rahman, Hasyim Amir (Bengkel Muda Surabaya, Teater Lektur, Teater Mlarat  Malang).  Di Yogyakarta Azwar AN mendirikan teater Alam. Mohammad Diponegoro bersama Syubah Asa mendirikan Teater Muslim.  Di Padang ada Wisran Hadi dengan teater Padang. Di Makasar, Rahman Arge bersama Aspar Patturusi mendirikan Teater Makasar. Lalu Teater Nasional Medan didirikan oleh Djohan A Nasution bersama Burhan Piliang.

Tokoh-tokoh teater yg berbahaya tumbuh; ada  tahun 1970-an lainnya adalah, Teguh Karya (Teater Populer), D. Djajakusuma, Wahyu Sihombing, Pramana Padmodarmaya (Teater Lembaga), Ikranegara (Teater Saja), Danarto (Teater Tanpa Penonton), Adi  Kurdi (Teater Hitam Putih). Arifin C. Noor (Teater Kecil) dengan gaya pementasan yg kaya irama dari blocking, musik, vokal, tata cahaya, kostum bersama verbalisme naskah. Putu Wijaya (teater Mandiri) dengan ciri penampilan menggunakan kostum yg meriah bersama vokal keras. Menampilkan manusia sebagai gerombolan bersama aksi. Fokus tidak terletak kepada aktor tetapi gerombolan yg menciptakan situasi bersama aksi  sehingga lebih dikenal sebagai teater teror. N. Riantiarno (Teater Koma) dengan ciri pertunjukan yg mengutamakan tata artistik glamor.

6. Teater Indonesia Tahun 1980 – 1990-an
Tahun 1980-1990-an situasi politik Indonesia kian seragam melalui pembentukan lembaga-lembaga tunggal di tingkat nasional. Ditiadakannya kehidupan  politik kampus sebagai akibat peristiwa Malari 1974. Dewan-dewan Mahasiswa ditiadakan. Dalam latar situasi seperti itu berbahaya jasmani beberapa kelompok teater yg sebagian  merupakan produk festival teater. Di Jakarta dikenal dengan Festival Teater Jakarta (sebelumnya disebut Festival Teater Remaja). Beberapa jenis festival di Yogyakarta, di antaranya Festival Seni Pertunjukan Rakyat yg diselenggarakan Departemen Penerangan Republik Indonesia (1983). Di Surabaya ada Festival Drama Lima Kota yg digagas oleh Luthfi Rahman, Kholiq Dimyati bersama Mukid F.

Pada saat itu lahirlah kelompok-kelompok teater baru di berbagai kota di Indonesia. Di Yogyakarta berbahaya tumbuh; ada Teater Dynasti, Teater Jeprik,  Teater Tikar, Teater Shima, bersama Teater Gandrik.  Teater Gandrik menonjol dengan warna teater yg mengacu kepada roh teater tradisional kerakyatan  dan menyusun berita-berita yg aktual di masyarakat menjadi bangunan cerita. Lakon yg dipentaskan antra lain, Pasar Seret, Meh, Kontrang- kantring, Dhemit, Upeti, Sinden, bersama Orde Tabung.

Di  Solo (Surakarta) berbahaya tumbuh; ada Teater Gapit yg menggunakan bahasa Jawa bersama latar cerita yg meniru lingkungan kehidupan rakyat pinggiran. Salah satu lakonnya berjudul Tuk. Di samping Gapit, di Solo ada juga Teater Gidag-gidig. Di  Bandung berbahaya tumbuh; ada Teater Bel, Teater Re-publik, bersama Teater Payung Hitam. Di Tegal berbahaya jasmani teater RSPD. Festival Drama Lima Kota Surabaya memunculkan Teater Pavita, Teater Ragil, Teater Api, Teater Rajawali, Teater Institut, Teater Tobong, Teater Nol, Sanggar Suroboyo. Di Semarang berbahaya tumbuh; ada Teater Lingkar. Di Medan berbahaya tumbuh; ada Teater Que bersama di Palembang berbahaya tumbuh; ada Teater Potlot.

Dari Festival Teater Jakarta  muncul kelompok teater seperti, Teater Sae yg berbeda sikap dalam menghadapi naskah yaitu posisinya sejajar dengan cara-cara pencapaian idiom akting melalui eksplorasi latihan. Ada pula  Teater Luka, Teater Kubur, Teater Bandar Jakarta, Teater Kanvas, Teater Tetas selain teater Studio Oncor, bersama Teater Kami yg berbahaya jasmani di luar produk festival (Afrizal Malna,1999).

Aktivitas teater terjadi juga di kampus-kampus perguruan tinggi. Salah satu teater kampus yg menonjol adalah teater Gadjah Mada dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Jurusan teater dibuka di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta kepada tahun 1985. ISI menjadi satu-satunya perguruan tinggi seni yg memiliki program Strata 1 untuk bidang seni teater kepada saat itu. Aktivitas teater kampus mampu menghidupkan bersama membuka kemungkinan baru gagasan-gagasan artistik.

7. Teater Kontemporer Indonesia
Teater Kontemporer Indonesia mengalami perkembangan yg sangat membanggakan. Sejak munculnya eksponen 70 dalam seni teater, kemungkinan ekspresi artistik dikembangkan dengan gaya khas masing-masing seniman. Gerakan ini terus berkembang sejak tahun 80-an sampai saat ini. Konsep bersama gaya baru saling bermunculan. Meksipun seni teater konvensional tidak pernah mati tetapi teater eksperimental terus juga tumbuh. Semangat kolaboratif yg terkandung dalam seni teater dimanfaatkan secara optimal dengan menggandeng beragam unsur pertunjukan yg lain. Dengan demikian, wilayah jelajah ekspresi menjadi semakin luas bersama kemungkinan bentuk garap semakin banyak.


Penulis: Indar Sabri, S.Sn, M.Pd (Unesa)