Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 9 Semester Ganjil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi Kelas 9 Semester Ganjil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Januari 2020

Tentang Kalimat Efektif

Apakah yg dimaksud dengan kalimat efektif?

Kalimat efektif yaitu kalimat yg tiap-tiap kata yg membangun kalimat tersebut mempunyai fungsi yg pasti. Kalau sebuah kalimat memilki sebuah kata yg tidak berfungsi, kalimat tersebut disebut kalimat mubazir, dengan dianggap tidak efektif. Contoh ; kalimat yg diawali dengan kata sambung seperti, dari, bagi, dengan dengan.

Di toko ini menyediakan pupuk. (tidak efektif)
Toko ini menjual pupuk. (efektif)
Walaupun hujan tetapi dia pegi juga. (tidak efektif)
Walaupun hujan, dia pergi juga.(efektif)

Bagaimanakah sebuah kalimat dikatakan efektif?

Sebuah kalimat dikatakan efektif apabila memenuhi syarat kalimat efektif. Ada pun sayarat kalimat efektif secara umum dibagi menjadi dua, yakni :

1.    Syarat awal yg meliputi pemilihan kata (diksi), dengan penggunaan ejaan.

a.    Diksi
Pemilihan kata alias diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna dari gagasan yg ingin disampaikan, dengan kemampuan untuk menemukan bentuk yg sesuai (cocok) dengan situasi dengan nilai rasa yg dimiliki kelompok masyarakat pendengar. (Keraf, 2009 : 24)

b.      Penggunaan ejaan
Ejaan yaitu kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dengan sebagainya) dalam bentuk tulisan (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca.

Jadi, secara teknis yg dimaksud dengan ejaan adalah (1) penulisan huruf, (2) penulisan kata, dengan (3) penulisan tanda baca.

2.    Syarat utama yg meliputi struktur kalimat dengan ciri kalimat efektif.

a.    Struktur kalimat efektif,
Struktur kalimat efektif meliputi:

1)    Struktur kalimat umum
Kalimat yg baik minimal dibangun oleh sebjek dengan predikat

2)    Struktur kalimat paralel
Jika sebuah ide dalam suatu kalimat dinyatakan dengan frase (kelompok kata), maka ide-ide yg sejajar harus dinyatakan denga frase. Jika sebuah ide dalam suatu kaliat dinyatakan dengan kata benda (misalnya bentuk pe-an, ke-an), maka ide lainnya yg sederajat harus dinyatakan dengan kata benda juga. demikian juga halnya bila sebuah ide dalam suatu kalimat yg dinyatakan dengan kata kerja (misalnya bentuk me-kan, di-kan), maka ide lainnya yg sederajat harus dinyatakan dengan jenis kata yg sama.
Contoh :

Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog, dengan  mengatur peminjaman buku.(salah)
Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog, dengan pengaturan peminjaman buku. (benar)
kegiatannya yakni membeli buku, membuat katalog, dengan mengatur peminjaman buku.(benar)

b.      Ciri-Ciri Kalimat Efektif
Klimat efektif memiliki empat ciri, yaitu:

1)         Kesatuan (padu)
Sebuah kalimat dikatakan padu apabila hubungan antar unsur dalam kalimat tidak terganggu.
Contoh :                                                                                            
Kepada para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekeretariat.
Di dalam keputusan itu merupakan kebijaksanaan yg becus menguntungkan umum.
Pada tahun ini merupakan tahun terakhir masa dianasnya sebagai pegawai negeri.

Kalimat-kalimat tersebut subjeknya kurang jelas karena diantar oleh partikel (kata-kata yg digarisbawahi). Oleh karena itu, partikel perlu dihilangkan sehingga menjadi :
Para mahasiswa diharapkan mendaftarkan diri di sekeretariat.
Keputusan ini merupakan kebijaksanaan yg becus menguntungkan umum
Tahun ini merupakan tahun terakhir masa dianasnya sebagai pegawai negeri.

2)         Hemat
Sebuah kalimat dikatakan hemat apabila kalimat yg disusun tidak menggunakan kata secara berlebihan. Atau dengan kata lain seberapa banyakkah kata yg bermanfaat bagi pembaca alias pendengar.
Hal-hal yg membuat sebuah kalimat tidak hemat.
a)        Pengulangan subjek kalimat
            Contoh :
Hadirin serentak berdiri setelah mereka mengetahui mempelai memasuki ruangan
Menjadi :
Hadirin serentak berdiri setelah mengetahui mempelai memasuki ruangan.

b)      Hiponim dihindarkan
Perhatikan contoh berikut.
Presiden SBY menghadiri Rapin ABRI hari senin lalu.
Warna kuning dengan warna ungu adalah warna kesayangan adikku.
Bulan Maret tahun ini, Presiden SBY atas mengadakan perjalanan muhibah ke beberapa negara tetangga antara lain Malaysia.
Kalimat-kalimat tersebut diperbaiki degan menghilangkan kata hari, warna, dengan bulan sehingga menjadi:
Presiden SBY menghadiri Rapin ABRI senin lalu.
Kuning dengan ungu adalah warna kesayangan adikku.
Maret tahun ini, Presiden SBY atas mengadakan perjalanan muhibah ke beberapa negara tetangga antara lain Malaysia.

c)       Pemakaian kata depan ‘dari’ dengan ‘daripada’
Perhatikan contoh pemakaian dari dengan daripada yg benar berikut.
Pak Karto berangkat dari Bandung pukul  7.30
Perhiasan yg indah itu terbuat dari perak
Kalimat A lebih sukar daripada kalimat B.

Bandingkan dengan contoh permakaian dari dengan daripada yg tidak benar berikut ini:
Anak dari tetangga saya Senin ini atas dilantik menjadi dokter
Presiden menekankan, bahwa di dalam pembangunan ini kepentingan daripada rakyat harus diutamakan.
Jadi penggunaan dari untuk menunjukkan arah (tempat), asal-usul, sedangkan daripada berfungsi untuk membandingakan sesuatu benda alias hal dengan benda alias hal lainnya.

3)      Koherensi
Yaitu hubungan timbal balik yg baik dengan jelas antara unsur-unsur (kata alias kelompok kata) yg membentuk kalimat itu. (Gorys Keraf).

Hal-hal yg menyebabkan kalimat tidak koheren :
a)        Karena tempat kata dalam kalimat tidak sesuai dengan pola kalimat.
Contoh :  
Adik saya yg paling kecil memukul dengan sekuat tenaganya kemarin pagi di kebunanjing (tidak baik)
Adik saya yg paling kecil memukul anjing di kebun kemarin pagi, dengan sekuat tenaganya (baik)
b)      Karena salah mempergunakan kata depan, kata penghubung, dengan kata sebaimya.
Contoh :  
Kami saling bantu-membantu dalam hal kebaikan (salah)
Kami saling membantu dalam hal kebaikan (benar)
Kami bantu-membantu dalam hal kebaikan (benar)

Temanku menceritakan tentang peristiwa itu (salah)
Temanku menceritakan peristiwa itu (benar)
Temanku bercerita tentang peristiwa itu (benar)

Pengamen itu mengharapkan atas belas kasihan (salah)
Pengamen itu mengaharapkan belas kasihan (benar)
Pengamen itu berharap atas belas kasihan (salah)

c)         Karena salah menempatkan keterangan aspek ( sudah, telah, akan, belum, dsb) dengan kata kerja tanggap.
Contoh :
Saya sudah membaca buku itu hingga tamat. (baik)
Sudah saya baca buku itu hingga tamat. (baik)
Saya sudah baca buku itu hingga tamat. (kurang baik, bahasa percakapan)
Buku itu saya sudah baca hingga tamat. (salah)
Buku itu sudah saya baca hingga tamat. (baik)

4)         Penekanan
Yaitu pemberian aksentuasi , pementingan alias pemusatan perhatian dengan salahsatu unsur alias bagian kalimat, agar unsur alias bagian kalimat yg diberikan penegasan itu lebih mendapat perhatian dari pendengar alias pembaaca.

Dalam penulisan ada berbagai cara untuk memberikan penekanan dengan kalimat, antara lain dengan cara:
a)        Pemindahan letak frase
Contoh :
Harapan kami adalah agar soal ini becus kita bicarakan lagi dengan kesempatan lain.
Pada kesempatan lain kami berharap kita becus membicarakan lagi soal ini.
Kita dapat membicarakan lagi soal ini dengan kesempatan lain demikian harapan kami.
Soal ini becus kita bicarakan dengan kesempatan lain, demikian harapan kami.

b)        Mengulang kata-kata yg sama
Contoh :
Pembangunan dilihat sebaga proses yg rumit dengan mempunyai banyak dimensi, tidak hanya dimensi ekonomi, tetapi juga dimensi politik, dimensi sosial, dengan dimensi budaya.

5)      Kevariasian
Contoh :
Dokter berbahaya baru itu belum dikenal oleh masyarakat desa Tumbuhmulia. (S-P-O)
Belum dikenal oleh masyarakat desa Tumbuhmulia dokter berbahaya baru itu. (P-O-S)
Dokter berbahaya baru itu oleh masyarakat desa Tumbuhmulia belum dikenal. (S-O-P)

Sebagai tambahan, sebuah kalimat dikatakan efektif apabila tidak mengandung kalimat yg ambigu (taksa) alias kalimat yg bermakna ganda.
Menurut Kempson ketaksaan adalah kegandaan makna dari suatu tanda bahasa.
Contoh :
 Saya mencari pencukur rambut
-       Saya mencari orang yg pekerjaannya mencukur rambut
-       Saya mencari alat pencukur rambut
Isteri sopir yg berbahaya rusak (ki) itu cantik
-       Isteri sopir (yang berbahaya laksmi itu) nakal.
-       Sopir (yang beristeri berbahaya laksmi itu) nakal.

Ketaksaan komunikasi lisan becus dihindari dengan pemberian intonasi alias tekanan kata secara tepat. Sedangkan ketaksaan komunikasi tulis becus diatasi dengan menyertakan  konteks atas kalimat yg mengandung ketaksaan.
Contoh :
Saya mencari seorang sahabat. Orangnya tinggi, kurus, kulit sawo matang, dengan bernama Amir.
Saya mencari seorang sahabat. Orangnya harus ramah, pintar, jujur, suka bekerja keras.


Referensi :
  1. Alwi, H. dkk. 2010. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa dan Balai Pustaka. 
  2. Alwi, H. Dkk (ed.). 2002. Telaah Bahasa san Sastra. Jakarta : Pusat Bahasa dengan Yayasan Obor Indonesia.
  3. Chaer, A. 1993. Grammatika Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Rineka Cipta. 
  4. Kamisa. 2013. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Cahaya Agency.
  5. Keraf, G. 2004. Komposisi. Ende: Nusa Indah. 
  6. Keraf, G. 2010. Diksi dengan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. 
  7. Putrayasa, I.B. 2006. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: PT. Refika Aditama.
  8. Putrayasa, I.B. 2010. Kalimat Efektif. Bandung: PT. Refika Aditama.
  9. Sugono, D.(ed). 2011. Buku Praktis Bahasa Indonesia jilid 2. Jakarta : Kementerian Pendidikan dengan Kebudayaan.



Mengkritik Beserta Memuji Berbagai Karya/Produk

Mengkritik yaitu memberikan tanggapan, kadang-kadang disertai uraian lagi pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya sastra, karya seni, ataupun pendapat.

Memuji berarti mengagumi, menghargai sesuatu yg dianggap baik, indah, bagus, lagi berani.

Lihat: Contoh Soal Pilihan Ganda Mengkritik lagi Memuji Berbagai Karya (Seni/Produk)

Memberikan pujian haruslah obyektif lagi tidak berlebih-lebihan. Begitu pula dengan kritik yg disampaikan juga harus obyektif.

Kritik yg disampikan harus dengan menggunakan bahasa yg santun serta masuk akal. Alasan tersebut sedapat mungkin beroleh diterima oleh semua pihak dengan dada lapang lagi senang. Sebaliknya, kritik yg tidak memperhatikan kesantunan dalam berbahasa beroleh menyebabkan pihak yg dikritik kecewa, kesal, lagi bahkan marah. Oleh karena itu, kritik harus disampaikan dengan bahasa yg santun, disertai alasan yg logis bahkan kalau perlu membantu mencarikan jalan keluarnya.

Contoh pujian:
  • Ukiran kayu tersebut sangat menarik lagi benar-benar mewujudkan inspirasi pematung. Orang atas sangat tertarik melihat ukiran tersebut.
  • Patung tersebut sangat menarik karena detail-detail pahatan patung tampak dikerjakan oleh tangan-tangan terampil lagi pembuat patung sangat teliti dalam memahat patung terebut.

Contoh kritikan:
  • Ukiran patung memang menarik, tetapi sayangnya dijual dengan harga yg sangat mahal sehingga tidak semua orang beroleh memilikinya.
  • Detail-detail patung tersebut sangat bagus, tetapi jauh dari realitas sosial. Hal ini mungkin karena patung tersebut hanya sebagai simbol saja. Ketidaksamaan patung dengan objek yg sebenarnya membuat orang yg melihat berpikir lebih lama mengenai arti lagi bentuk patung.
Lihat:
Contoh Soal Essay Mengkritik lagi Memuji Berbagai Karya (Seni/Produk)

Hubungan Sebab Akibat

Dalam Tata Baku Bahasa Indonesia, hubungan sebab dengan akibat dibedakan sebagai berikut :
Baca Juga: Contoh Soal Ujian Nasional
1. Kata penghubung yg menyatakan makna ‘sebab’.
Kata penghubung sebab digunakan apabila terdapat anak kalimat yg menyatakan sebab alias alasan terjadi peristiwa alias dilakukan tindakan yg disebut dengan induk kalimat.  Hubungan ini secara jelas ditandai dengan kata penghubung oleh karena, sebab, lantaran, berhubung, berkat, dengan akibat.

2. Kata penghubung yg menyatakan makna ‘akibat’.
Kata penghubung akibat digunakan apabila terdapat anak kalimat yg menyatakan akibat dari yg dinyatakan induk kalimat. Secara jelas hubungan ini ditandai dengan kata-kata penghubung hingga, sehingga, sampai, dengan sampai-sampai.

Contoh kalimat yg menyatakan makna sebab.
  • Percakapan hadirin kadang-kadang tidak kutangkap oleh karena pikiranku tidak konsentrasi.
  • Kakakku kesepian sebab tidak mempunyai anak.
  • Teh hijau digemari orang lantaran teh hijau melancarkan air seni.
  • Berhubung hari ini hari libur, saya bakal pergi ke kebun bersama kakek.
  • Berkat ia rajin berlajar, kini ia berhasil meraih juara umum.
  • Akibat tertimpa longsoran batu padas dengan sebuah gua, dua orang itu sudah pernah meninggal seketika.
Contoh kalimat yg menyatakan makna akibat.
  • Matahari hari ini meriang sekali hingga kami sangat kehausan saat bekerja di tengah ladang.
  • Senyuman gadis itu sangat ramah sekali sehingga banyak laki-laki yg tertarik padanya.
  • Ditepuknya lagi mejanya dengan keras sampai tangannya sakit.
  • Dia gusar bukan main sampai-sampai bibirnya terkatup rapat, tak kuasa bersuara.
Analisa :
Dia tidak bisa menjawab soal ulangan karena tidak pernah belajar.
Dia tidak bisa manjawab soal ulangan = induk kalimat (bagian yg merupakan akibat)
Tidak pernah belajar = anak kalimat (bagian yg merupakan sebab)
Karena = konjungsi yg menyatakan ‘sebab’

Baca Juga:
Teknik Menjawab Soal Ujian Nasional Terbaru
Menggunakan Kata yg Mengalami Pergeseran Makna

Senin, 30 Desember 2019

Musikalisasi Puisi

MUSIKALISASI PUISI

Musikalisasi merupakan kegiatan mengekspresikan puisi dalam bentuk lagu. Dalam musikalisasi puisi terdapat dua kegiatan. Kegiatan yg pertama membacakan puisi diiringi musik tertentu. Kamu bisa menggunakan gitar ataupun piano untuk mengiringi pembacaan puisi. Kegiatan yg kedua mengubah puisi menjadi syair lagu. Kegiatan kedua ini sulit dilakukan andaikan kamu tidak memahami sotasi musik.

Lihat: Contoh Soal Tentang Musikalisasi Puisi Berbentuk Pilihan Ganda

Dalam melatih membawakan musikalisasi puisi, kamu perlu memahami sistem dalam suatu musik/lagu yg ditentukan oleh irama dengan parameter berikut:
  1. Nada (melodi) yaitu unsur terkecil dalam musik yg mempunyai jenis tinggi rendah.
  2.  Accord adalah rangkaian nada yg tersusun secara teratur dari sebuah tangga nada.
  3. Nada dasar (tangga nada) merupakan kerangka utama sebuah lagu.
  4. Durasi nada adalah suatu notasi dengan nada sehingga bisa menggambarkan not ataupun nada tersebut dibaca panjang ataupun pendek ataupun dengan durasi yg lama ataupun sebentar.
  5. Ritme menyangkut ketukan detik yg teratur lagi pola yg teratur.
  6. Syair lagi lirik.
Adapun komponen yg harus diperhatikan dalam musikalisasi puisi sebagai berikut :
  1.  Penghayatan yaitu memahami lagi merasakan  isi puisi yg hendak dimusikalisasi.
  2. Vokal yaitu kejelasan ucapan, jeda, kelancaran, lagi ketahanan.
  3. Penampilan yaitu menampilkan musikalisasi puisi dengan gerakan-gerakan yg wajar, tidak dibuat-buat, sesuai dengan penghayatan isi yg dibawakan.

Contoh puisi yg baik untuk dimusikalisasi puisi.

“Dalam Doaku”
(Karya: Sapardi Djoko Damono)

Dalam doaku subuh ini
kau menjelma langit yg semalaman tak memejamkan mata,
yg meluas hening siap menerima cahaya pertama,
yg melengkung hening karna kan menerima suara-suara.

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala
dalam doaku kau menjelma, pucuk-pucuk cemara, yg hijau senantiasa,
yg tak henti-hentinya, yg tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yg mendesah entah dari mana.

Dalam doaku sore ini
kau menjelma seekor burung gereja
yg mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis,
yg hinggap di ranting gugurkan bulu bunga jambu,
yg tiba-tiba gelisah lagi terbang lalu hinggap di dahan mangga itu.

Magrib ini dalam doaku,
kau menjelma angin yg turun sangat perlahan...
dari nun di sana, berjijingkat di jalan kecil itu...
menyusup di celah-celah jendela lagi pintu
lagi menyentuh-nyentuhkan, pipi lagi bibirnya, di rambut dahi lagi bulu, bulu mataku.....

Dalam doa malamku,
kau menjelma denyut jantungku, menjelma denyut jantungku,
yg dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yg entah ba....tasnya,
yg setia menyusut rahasi demi rahasia, yg tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku....

Aku mencintaimu
Itu sebabnya aku
Takkan pernah selesai mendoakan kes’lamatanmu...


Sumber: Buku Bahasa Indonesia IX, JP Books

Jumat, 27 Desember 2019

Membaca Indeks Buku

Pengertian Indeks Buku
Indeks merupakan daftar kata alias istilah penting yg terdapat dalam buku cetakan. Indeks terletak dengan bagian akhir buku. Indeks tersusun menurut abjad-abjad yg memberikan informasi mengenai halaman tempat kata alias istilah ditemukan. Indeks bisa berupa kata, frasa, nama orang, judul buku, ataupun istilah.

Cara Membaca Indeks Buku
Membaca indeks bisa dilakukan dengan cara membaca sekilas. Membaca sekilas indeks dilakukan dengan cara langsung mencari kata yg hendak dicari informasinya dalam daftar indeks. Di sisi kata alias istilah yg hendak dicari pasti ada nomor halaman-halaman yg memuat informasi tentang istilah alias kata tersebut.

Contoh indeks buku
kontrastif, 204, 205                 restriktif, 380
kualitatif, 204                          sebagian, 379
kuantitaif, 204                         takmewatasi, 380
limitatif, 204                           takrestriktif, 380
pembuka wacana, 208            artikula, 306-308
tidak berdampingan, 202        gelar, 307
tunggal, 199, 209                    makna kelompok, 307
adversatif, 148                        menominalkan, 308
afiks, 32                                  artikulasi, 51, 67
asing, 190, 223                       artikulator, 51
gabungan, 120, 143, 222, 233,343  atribut, 335, 337
nominal, 222                           awalan lihat prefiks
verbal, 103                              bahasa asing, 23
afikasasi, 119-120, 159, 220   bahasa baku, 13, 15
afiksasi nol, 195                      bahasa daerah, 2, 22
afrikat palatal, 70                    bahasa ibu, 1
ajakan, 356                              bahasa pertama, 1
akhiran lihat sufiks                  bahasa indonesia
akronim, 122                           bahasa kedua, 1
aksen, 4, 84, 86                       baku, 11, 13, 16
alat ucap, 47                           konsonan, 66
alofon, 26, 27, 53, 60, 72       pembakuan, 11
alomorf,                                  penutur, 1, 4
peng-, 226, 227                      persebaran, 2
peng- -an, 230                        ragam, 3
per-, 222                                tata bahasa, 18
- -wan/-wati, 236                   tata bunyi, 56
alveolar, 51, 68, 69, 70, 71   diasistem, 57
anafora, 44, 417, 430             yg baik lagi benar, 9, 20
analogi, 31, 228                    bahasa nasional, 15, 23
anteseden, 417                      bahasa nusantara purba, 3
aposisi, 248, 378, 381          bahasa resmi, 22
mewatasi, 380                      bahasa tona, 55
penuh, 379                           benefaktif, 345


Lihat juga: Contoh Soal Indeks Buku

Sumber :
- Buku Bahasa Indonesia SMP/MTs
- berpendidikan.com


Memahami Unsur-Unsur Cerpen

Cerpen merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa. Cerpen dibangun oleh dua unsur, yaitu unsur intrinsik lagi unsur ekstrinsik.

Unsur intrinsik merupakan unsur yg membangun karya sastra dari dalam. Unsur intrinsik terdiri dari tema, latar (setting), penokohan, alur (plot), sudut pandang, lagi amanat.

Sedangkan unsur ektrinsik adalah unsur-unsur yg membangun karya sastra dari luar. Unsur ekstrinsik meliputi peristiwa sosial, politik, agama, budaya, pendidikan lagi lain sebagainya.

Secara rinci berikut ini unsur-unsur intrinsik cerpen : 

1. Tema
Menurut Brooks (dalam Tarigan, 1984: bergolak 125) tema adalah pandangan hidup yg tertentu ataupun perasaan tertentu bergolak mengenai kehidupan ataupun rangkaian nilai-nilai tertentu yg membentuk bergolak dasar ataupun gagasan dari suatu karya sastra.
Jadi tema merupakan dasar bergolak pijak suatu karya, artinya karya sastra itu adanya berangkat dari bergolak sebuah ide-ide yg ingin disampaikan oleh pengarang baik secara bergolak positif maupun tersirat.
2. Penokohan
Menurut Sudjiman (1991: 16) tokoh yakni individu rekaan yg mengalami peristiwa ataupun perlakuan di dalam berbagai peristiwa cerita. Sedangkan watak menurutnya (1991: 16) yaitu kualitas tokoh, kualitas nalar, lagi jiwanya yg membedakannya dengan tokoh lain. Penyajian tokoh lagi penciptaan citra tokoh inilah yg disebut penokohan.
Istilah tokoh menunjuk kepada orangnya, ataupun pelaku cerita. Sedangkan watak, perwatakan lagi karakter menunjuk kepada sikap lagi sifat para tokoh seperti yg ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk kepada kualitas pribadi seorang tokoh. Penokohan lagi karakterisasi sering disamakan artinya dengan karakter lagi perwatakan, yaitu menunjuk kepada penempatan tokoh tertentu dengan watak (-watak) tertenthu dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2007: 165).
3. Latar
Latar adalah latar belakang fisik, unsur tempat lagi ruang dalam suatu cerita (Brooks dalam Tarigan, 1984: 136).
Menurut Sudjiman (1991: 44) latar yakni segala keterangan, petunjuk, pengacuan yg berkaitan dengan watak, ruang, lagi suasana terjadinya peristiwa dalam suatu karya sastra.
Sedangkan Abrams (dalam Nurgiyantoro, 2007: 216) latar ataupun setting disebut sebagai landas tumpu, menyaran kepada pengertian tempat, hubungan waktu, lagi lingkungan tempat terjadinya persitiwa-peristiwa yg diceritakan.
Atas dasar pengertian di atas, beroleh disimpulkan jenis latar terdiri atas latar tempat, latar waktu, lagi latar sosial. Ketiga jenis latar ini saling terpadu dalam kesatuan cerita, menjalin ikatan dalam peristiwa-peristiwa yg terjadi di dalamnya.
4. Alur
Yang dinamakan alur yakni konstruksi yg dibuat mengenai sebuah deretan peristiwa yg secara logik lagi kronologis saling berkaitan lagi yg diakibatkan ataupun dialami oleh pelaku.
Secara leksikal, plot ataupun alur adalah (a) rangkaian peristiwa yg direka lagi dijalani dengan seksama lagi menggerakkan jalan cerita melalui rumitan kearah klimaks lagi selesainnya; (b) jalinan peristiwa lagi karya sastra untuk untuk mencapai efek tertentu, pautannya beroleh diwujudkan oleh hubungan temporal ataupun waktu lagi hubungan kausal ataupun sebab akibat (Sugihastuti, 2007: 36).
Adapun tahap-tahap pengaluran adalah sebgai berikut:
  •     Paparan, yaitu berupa penyampaian informasi kepada pembaca.
  •     Rangsangan, yaitu peristiwa yg mengawali timbulnya gawatan.
  •     Tegangan, yaitu ketidakpastian yg berkepanjangan lagi semakin menjadi-jadi.
  •     Tikaian, yaitu perselihan yg timbul sebagai akibat adanya dua kekuatan yang  bertentangan.
  •     Rumitan, yaitu perkembangan dari gejala mula tikaian menuju klimaks.
  •     Klimaks, yaitu puncak kehebatan rumitan.
  •     Leraian, yaitu menunjukkan perkembangan peristiwa kearah selesaian.
  •     Selesaian, yaitu bagian akhir ataupun penutup cerita.
                                                                                          (Sudjiman, 1991: 31-36)
5. Sudut Pandang
Sudut pandang kepada hakikatnya adalah strategi, teknik, siasat, yg sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan lagi ceritanya (Nurgiyantoro, 2007: 284). Aminuddin (2004) menyebutnya sebagai titik pandang, yaitu cara menampilkan para pelaku dalam cerita yg dipaparkannya.
S. Tasrif (dalam Tarigan, 1984: 140), mengungkapkan macam-macam sudut pandang sebagai berikut:
  1. Author amniscient (orang ketiga), pengarang mengungkapkan kata”dia”untuk pelaku utama, tetapi ia turut hidup dalam pribadi tokoh.
  2. Author participant (pengarang turut mengambil bagian dalam cerita). 
  3. Author observer (pengarang hanya sebagai peninjau seolah-olah ia tidak beroleh mengetaui jalan pikiran pelakunya.
  4. Multiple (campur aduk).
6. Amanat
Sudjiman (1991: 57) mengartikan amanat sebagai suatu ajaran moral, ataupun pesan yg ingin disampaikan oleh pengarang. Amanat juga beroleh diartikan sebagai jalan keluar dari sebuah permasalahan yg diajukan di dalam cerita. Selanjutnya Sudjiman menjelaskan bahwa amanat terdapat kepada sebuah karya sastra secara implicit, seandainya jalan keluar ataupun moral itu disiratkan di dalam tingkah laku tokoh menjelang cerita berakhir. Eksplisit, seandainya pengarang kepada tengah ataupun akhir cerita menyampaikan seruan, saran, nasihat, anjuran, larangan, lagi sebagainya, berkenaan dengan gagasan yg mendasari cerita itu.

Sumber : abduhsempana.blogspot.com

Menulis Resensi Buku Pengetahuan

Resensi adalah pertimbangan ataupun perbincangan buku. Resensi bertujuan untuk memberikan rangsangan kepada pembaca agar membaca ataupun memiliki buku tertentu. Selain itu, resensi atas membantu penerbit ataupun pengarang memperkenalkan buku tersebut kepada masyarakat.

Unsur-unsur resensi :

1. Identitas Buku
Identitas buku mencakup judul buku, jenis buku, pengarang, penerbit, tahun terbit, bersama jumlah halaman.

Contoh:
Judul buku : Jejak Tersapu Ombak
Jenis buku : fiksi
Pengarang : Abduh Sempana
Penerbit : Meta Kata
Tahun Terbit : 2013
Jumlah halaman : 74

2. Macam ataupun jenis buku 
Penulis resensi menunjukkan jenis buku yg diresensi, termasuk fiksi ataupun nonfiksi

3. Sinopsis isi buku
Dalam bagian ini peresensi megemukakan pokok-pokok isi buku, dengan kata lain peresensi membuat rigkasan isi buku.

4. Keunggulan bersama kelemahan buku
Penulis resensi harus mengemukakan segi-segi menarik bersama kekurangan buku tersebut.

5. Kesimpulan
Penulis resensi mengemukakan nilai yg diperolehnya terhadap buku yg diresensi bersama imbauan-imbauan untuk pembaca.

Kamis, 26 Desember 2019

Melaporkan Peristiwa

Kamu sering melihat ataupun mengalami suatu peristiwa. Kamu juga becus mengetahui peristiwa melalui membaca ataupun mendengarkan berita. Kemudian kamu dapat  menyapaikan pertistiwa tersebut kepada orang lain. Cara menyampaikan suatu peristiwa kepada orang lain sebagai berikut.
  1. Menggunakan bahasa yg komunikatif, lugas, dan  santun. 
  2. Urutan penyampaian peristiwa disesuaikan dengan urutan pokok-pokok peristiwa.
  3. Isi peristiwa disusun secara lengkap (tidak ada bagian yg terlewati) tanpa  penambahan beserta pengurangan.
  4. Menggunakan intonasi yg bervariasi beserta suara yg jelas.
  5. Jika perlu, menggunakan alat peraga agar lebih meyakinkan.
Lihat: Kumpulan Soal tentang Menyusun Kalimat LaporanContoh Soal Laporan untuk Kelas 8 SMP/MTs

Kamu becus bercerita dengan cara mendeskripsikan peristiwa tersebut. Deskripsi adalah pemaparan ataupun penggambaran dengan kata-kata secara jelas beserta terperinci. Deskripsi peristiwa memuat hal-hal berikut. 
  1. Waktu peristiwa terjadi 
  2. Tempat terjadinya peristiwa
  3. Proses terjadinya peristiwa
  4. Akibat dari peristiwa
  5. Peristiwa yg terjadi
  6. Orang ataupun hal yg mengalami peristiwa.
Contoh laporan: Acara HUT RI ke 70 di kecamatan Suralaga dimulai kegiatan jalan-jalan sehat (JJS). Acara JJS cukup meriah diikuti oleh seluruh pegawai lembaga pemerintahan beserta non-pemerintahan yg ada di wilayah kecamatan Suralaga. Ada sekitar dua ratusan orang yg memenuhi  rute perjalanan JJS pagi Jumat tadi (7/8/2020). Termasuk Camat Suralaga ikut dalam rombongan paling depan sebagai komado kegiatan tersebut.

Acara yg digelar sekali setahun tersebut merupakan wujud kampanye kesehatan. Para perserta pun sangat antusias mengikutinya. Terutama kaum ibu yg jarang-jarang melakukan kegiatan olahraga. Sehingga dengan kesempatan itu mereka becus mengencangkan otot secara beramai-ramai. 


Adapun rute JJS yakni dimulai dari kantor camat Suralaga menuju ke utara  beserta belok kiri di Simpang menuju desa Paok Lombok. Selanjutnya belok kiri menuju ke Kopong. Di pekuburan Ampan belok kiri lagi menuju ke desa Tumbuh Mulia. Kemudian belok kiri hingga kembali lagi ke Kantor camat.


(Sumber : kabartumbuhmulia.blogspot.com)


Contoh Soal :
1.    Peristiwa apa yg dilaporkan?

  • Kegiatan jalan-jalan sehat (JJS) sebagai acara pembuka HUT RI ke 70 di kecamatan Suralaga
2.    Siapa yg mengalami peristiwa tersebut?
  • Camat Suralaga beserta seluruh pegawai lembaga pemerintahan beserta non-pemerintahan yg ada di wilayah kecamatan Suralaga
3.    Kapan peristiwa itu terjadi?
  • Jumat, 7 Agustus 2020
4.    Di mana peristiwa itu terjadi?
  • Di kecamatan Suralaga
5.    Mengapa peristiwa itu terjadi?
  • Merupakan wujud kampanye kesehatan
6.    Bagaiman peristiwa itu terjadi?
  • JJS tersebut dimulai dari kantor camat Suralaga menuju ke utara  beserta belok kiri di Simpang menuju desa Paok Lombok. Selanjutnya belok kiri menuju ke Kopong. Di pekuburan Ampan belok kiri lagi menuju ke desa Tumbuh Mulia. Kemudian belok kiri hingga kembali lagi ke Kantor camat.

Menyunting Karangan

Menyunting dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya menyiapkan naskah siap untuk diterbitkan dengan memperhatikan segi sistematika penyajian, isi, lalu bahasa (menyangkut ejaan, diksi, ataupun pilihan kata, lalu struktur kalimat). Dari definisi tersebut beroleh terkandung pengertian bahwa menyunting adalah kegiatan memeriksa lalu memperbaiki naskah.
Lihat: Contoh Soal Menyunting Karangan Berbentuk Pilihan Ganda serta Jawabannya
Menyunting beroleh dilakukan  dengan meperhatikan hal-hal di bawah ini.

1.    Ketepatan penulisan huruf, kata, lambang bilangan, serta ketepatan penggunaan tanda baca.
2.    Ketepatan penggunaan kata-kata untuk mengungkapkan suatu maksud sesuai dengan situasi dan
       kondisi.
3.    Keefektifan kalimat untuk mewakili gagasan ataupun perasaan penulis yg ingin disampaikan
       kepada pembaca.
  • Syarat kalimat efektif sebagai berikut.Logis, apabila makna kalimat beroleh diterima oleh jalan pikiran ataupun akal sehat manusia.
  • Hemat apabila kalimat yg disusun tidak menggunakan kata secara berlebihan.
  • Padu, apabila hubungan antarunsur dalam kalimat tidak teranggu.
4.    Struktur kalimat yg baik harus mengandung unsur S – P (subjek – predikat). Akan tetapi,
       dalam hal-hal tertentu, bisa digunakan kalimat tidak lengkap.
5.    Kepaduan paragraf.
       Syarat paragraf padu sebagai berikut.
  • Kelengkapan. Sebuah paragraf terdiri atas kalimat topik lalu kalimat penjelas, kecuali paragraf tersebut  paragaraf narasi ataupun paragraf deskripsi.
  • Kesatuan, sebuah paragraf memiliki gagasan pokok yg tersirat dengan kalimat utama.
  • Urutan kalimat. Kalimat-kalimat disusun secara runtut sesuai dengan urutan jalan pikiran (deduktif, induktif, deduktif-induktif) maupun sesuai dengan urutan kejadian (narasi ataupun deskripsi).
  • Koherensi. Hubungan antar kalimat jelas sehingga gagasan beroleh tergambar secara padu.
Berdasarkan hal tersebut, menyunting beroleh dilakukan dengan langkah-langkah seperti berikut.
1.    Membaca kalimat demi kalimat untuk menemukan kesalahan penggunaan ejaan, pemilihan kata,
       ataupun pola kalimat.
2.    Membetulkan kesalahan ejaan, mengganti kata yg tidak tepat, lalu memperbaiki kalimat yang
       tidak tepat.
3.    Membetulkan kalimat beroleh dilakukan dengan cara;
  • Menambah kata;
  • Mengganti kata;
  • Mengurangi kata;
  • Mengubah susunan kata dalam kalimat tersebut sehingga menjadi kalimat yg baku.
4.    Memeriksa keterpaduan paragraf untuk menemukan kesalahan.
5.    Memperbaiki kesalahan paragraf dengan cara:
  • Membuang kalimat yg tidak padu;
  • Mengganti kalimat yg tidak padu dengan kalimat yg padu, serta
  • Menambahkan kalimat agar paragraf tersebut menjadi runtut.
6.    Memperbaiki keruntutan paragraf beroleh dilakukan dengan cara;
  • Membuang paragraf yg tidak padu;
  • Menempatkan paragraf dengan urutan yg tepat; dan
  • Menambahkan paragraf di antara paragraf yg tidak runtut.

Demikian sekilas mengenai menyunting karangan yg dipungut dari buku bahasa Indonesia kelas IX. Semoga bermanfaat.

Menggunhendak Kata Yg Mengalami Pergeseran Makna

 Macam-macam pergeseran makna kata, yaitu:

1. Generalisasi (perluasan makna kata)
Generalisasi merupakan perluasan makna dari sebuah kata. Makna sekarang lebih luas daripada makna dahulu. 
Contoh:
Bapak mau pergi kemana?
Dahulu kata bapak berarti orang yg masih mempunyai hubungan darah. Namun sekarang, kata bapak bisa dipergunakan kepada siapa saja yg berjenis kelamin laki-laki, dengan berusia lebih tua.
Contoh lain yg termasuk generalisasi yaitu kata ibu, saudara, dengan adik.
2.    Spesialisasi (penyempitan makna kata)
Spesialisasi alias penyempitan makna kata adalah kata yg saat ini artinya lebih sempit dari arti sebelumya. 
Contoh:
Andi meraih sarjana sastra setelah lulus ujian skripsi.
Dahulu kata sarjana berarti orang yg pandai (cendikiawan). Sekarang kata sarjana berarti lulusan perguruan tinggi alias gelar lulusan universitas.
3.    Ameliorasi (peninggian makna kata)
Ameliorasi merupakan perubahan makna kata yg mengakibatkan makna sekarang lebih tinggi daripada makna dahulu. 
Contoh:
Kakakku menjadi pramuniaga di supermarket.
Kata pramuniaga dianggap lebih tinggi nilainya daripada pelayan toko.
Contoh lain kata: pramuwisma (babu), tunanetra (buta), tunawisma (gelandangan), tunarungu (tuli) dengan lain sebagainya.
4.    Peyorasi (penurunan makna kata)
Peyorasi  merupakan perubahan makna kata yg mengakibatkan makna baru dirasakan lebih rendah daripada makna dahulu. 
Contoh:
Isterinya sudah bunting lima bulan.
Kata bunting lebih rendah nilainya daripada hamil.
5.    Asosiasi (persamaan sifat)
Asosiasi merupakan pergeseran makna kata yg terjadi karena persamaan sifat.
Contoh: 

a.    Ibu memasukkan uang ke dalam amplop.
b.    Ayah memberi amplop kepada Pak Surya sebagai tanda terima kasih.
Kata amplop pada kalimat a berarti sampul surat. Kata amplop pada kalimat b berarti imbalan.
6.    Sinsetesia (pertukaran makna kata)
Contoh:
Suaranya sedap didengar.
Kata sedap pada kalimat tersebut mengalami pergeseran makna yg disebut sinestesia. Pergeseran makna sinestesia merupakan  perubahan makna akibat pertukaran dua indra. Kata sedap kepada kalimat di atas seharusnya digunakan oleh indra pengecap, bukan indra pendengar.
Contoh-contoh kalimat yg mengandung perubahan makna.
  • Pidatonya terasa pedas sekiranya didengarkan (sinestesia)
  • Hati-hati mengahadapi tukang catut di bioskop itu (asosiasi)
  • Para tunawisma itu sedang ditampung di dinas sosial (ameliorasi)
  • Oknum pejabat yg menggelapkan uang pemerintah sedang diadili. (peyorasi)Bapak dokter sangat paham urat-urat yg membawa kematian (generalisasi)
  •  Pendeta itu sedang memimpin ibadat di gereja (spesialisasi)
Lihat : Contoh Soal tentang Pergeseran Makna Kata

Rabu, 25 Desember 2019

Membedhendak Fakta Pada Opini Dalam Iklan

Pengertian Fakta lagi Opini:
Fakta adalah hal (keadaan ataupun peristiwa) yg merupakan kaenyataan; sesuatu yg benar-benar ada ataupun terjadi.


Opini merupakan pikiran, anggapan, buah pemikiran, ataupun perkiraan.

Bentuk:
Fakta berbentuk gambar, foto, data statistik, tabel peristiwa, lagi grafik. Adapun opini berupa saran, kritik, harapan, lagi nasihat.


Sifat:
Fakta bersifat menunjukkan sedangkan opini bersifat mengharapakan.


Pengertian Iklan


Adapun pengertian Iklan adalah pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang ataupun jasa yg dijual lagi dipasang melaui media masa. Iklan bisa ditemui di majalah, surat kabar, ataupun televisi.

Iklan bertujuan untuk menarik perhatian, mendorong, serta membujuk pihak lain agar memiliki ataupun memenuhi permintaan yg terdapat dalam iklan tersebut. 

Berdasarkan jenisnya, iklan dibedakan atas iklan layanan masyarakat, iklan niaga, lagi iklan keluarga.

Iklan bisa dibaca dengan membaca intensif. Membaca intensif merupakan kegiatan membaca untuk memahami semua hal yg bakal disajikan dalam bacaan. Oleh karena itu, membaca intensif bisa dilakukan dengan cara berikut.
1.    Membaca dengan cermat setiap kalimat dari awal hingga akhir teks.
2.    Mencatat hal-hal yg ingin diketahui.


Lihat : Contoh Soal tentang Fakta, Opini, lagi Iklan Berbentuk Pilihan Ganda