Minggu, 27 Oktober 2019

Lagu Karapan Sapi Drumband Gsa (Gemma Swara Al-Azhar)

Lagu Karapan Sapi Drumband GSA (Gemma Swara AL-Azhar)


SUMENEP - Lomba drumband bertajuk Dies Natalis Universitas Wiraraja Sumenep yg ke 29 kembali digelar Kabupaten Sumenep. 

inilah sang juara yg dengan  lagu "Karapan Sapi"

Gemma Swara Al-Azhar (GSA) Menjuarai Berbagai Kategori yg dilombakan dalam even ini. mayoret terbaik Kategori 3 Bras, Juara 1 kirab, lalu juara 1 kategori Bras & juara 1 Gitapatih kategori 3 Bras 

Contoh Soal Menentukan Persajhendak Dalam Puisi

Bacalah penggalan puisi berikut!
PERARAKAN JENAZAH

Kami menggiring jenazah hitam
depan kami kereta mati bergerak pelan
orang-orang tua berjalan menunduk diam
dicekam hitam bayangan
makam dedar sedih awam muram
menanti perarakan ini di ujung jalan
..........................
(Hartaji Andangdjaja)

Akhir setiap baris dengan puisi di atas memperhatikan adanya kesamaan bunyi. Pengaturan persamaan bunyi yg semacam itu disebut ....
A. sajak tegak
B. sajak silang
C. sajak rangkap
D. sajak peluk

Bacalah penggalan puisi di bawah ini...
KEPADA KOTA

Apabila engkaulah cinta, lepaskanlah, kota
dari guhamu beribu gema
Hindarkan saat-saat yg senyap udara mengertap
deru mobil bersama huruf-huruf berlampu kerjap
Apabila engkaulah setia, tenangkanlah kota
hatimu yg mendengar semestinya dunia
Biarkan kini kita terjaga
Biarkan bumi semakin bergesa
...........................
(Goenawan Mohamad)

Kesamaan bunyi dengan akhir setiap baris dalam kutipan 7 di atas membentuk ....
A. sajak tegak
B. sajak rangkap
C. sajak peluk
D. sajak silang

Sabtu, 26 Oktober 2019

Soal Ulangan Semester Bahasa Indonesia Smp/Mts (Kelas 7, 8, 9)

Untuk menguji kemampuan siswa setiap satu semester maka selalu diadakan evaluasi yg biasa disebut dengan ulangan semester maupun istilah sekarang Penilaian Akhir Semester (PAS) untuk semester ganjil lagi Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk semester genap.

Pada postingan kali ini disajikan soal-soal ulangan semester untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia setingkat SMP/MTs.

Soal Semester Kelas VII (Tujuh) K13
Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Bahasa Indonesia Kelas VII (LIHAT)
Soal Penilaian Akhir Tahun (PAT) Bahasa Indonesia Kelas VII (DOWNLOAD)

Soal Semester Kelas VII (delapan) K13
Soal Penilaian Akhir Tahun (PAT) Bahasa Indonesia Kelas VIII (DOWNLOAD)
Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Bahasa Indonesia Kelas VIII + Kunci (DOWNLOAD)
Soal Penilaian Akhir Tahun (PAT) Bahasa Indonesia Kelas VIII + Kunci (DOWNLOAD)

Soal Semester Kelas IX (sembilan) K13
Soal Penilaian Akhir Semester (PAS) Bahasa Indonesia Kelas IX + Kunci (DOWNLOAD)


Download juga:
Soal Ujian Sekolah Berstandar Nasinonal (USBN) Tingkat SMP-MTs

Contoh Soal Latar Cerita Dalam Puisi

 Peristiwa kematian dalam gerilya  yg dilakukan dalam kutipan puisi tersebut terjadi  dengan Contoh Soal Latar Cerita dalam Puisi

Bacalah teks puisi berikut!

GERILYA

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling di jalan

Angin tergantung
terkecap pahitnya tembakau
bendungan keluh beserta bencana

Tubuh biru
tatapan mata biru
lelaki berguling dijalan

Dengan tujuh lubang pelor
diketuk gerbang langit
beserta menyala mentari muda
melepas kesumatnya
..........................................
(W.S. Rendra)

Peristiwa kematian dalam gerilya yg dilakukan dalam kutipan puisi tersebut terjadi dengan ....
A. siang hari
B. senja hari
C. pagi hari
D. malam hari

Bacalah teks puisi berikut!

CAHAYA BULAN TENGAH MALAM HARI

Aku terjaga di kursi ketika cahaya bulan jatuh di wajahku dari genting kaca
adakah hujan sudah reda sejak lama?
Masih terbuka koran yg tadi belum selesai kubaca
terjatuh di lantai; di tengah malam itu ia nampak begitu dingin beserta fana
...........................
(Sapardi J.D)

Peristiwa yg dilukiskan dalam puisi dengan kutipan puisi di atas terjadi pada.....
A. pagi hari ketika penyair terjaga dari tempat duduknya
B. malam bulan purnama ketika ketika penyair duduk di kamar
C. malam hari ketika penyair terjaga dari duduknya
D. hujan deras ketika penyair duduk di kamar

Contoh Soal Menentukan Nada/Suasana Dalam Puisi

 Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman Contoh Soal Menentukan Nada/Suasana dalam Puisi

Bacalah teks puisi di bawah ini!

MELATI

Kau datang dengan menari, tersenyum simpul,
Seperti dewi, putih kuning, ramping halus,
Menunjukan diri, seperti bunga yg bagus.
Dalam sinar matahari, membuat timbul,
Di dalam hati berahi yg suci-permai,
Jiwa termenung, terlena dalam samadi,
O, Melati, memandang kau seperti Pamadi,
Kebakaan kurasa, luas, tenang, lalu damai.
Engkau tinggal sebagai bunga dalam taman,
Kenang-kenangan: dipetik tidak ‘kan dapat,
Biar warna lalu wangi engkau berikan.
Engkau seperti bintang di balik awan,
Terkadang-kadang sejurus berkilat-kilat,
Tapi jauh, takkan pernah tercapai tangan.
................................
(Sanusi Pane)

Nada/suasana jiwa yg dilukiskan dalam puisi di atas adalah ....
A. ksedihan
B. kesenduan
C. keresahan
D. kegembiraan

Bacalah penggalan puisi di bawah ini!

SAJAK KETIGABELAS

waktu si penyair menyeberang jalan
menuju kantor pos untuk mengirim
sajak ketigabelas ke sebuah
masalah sastra yg up to date
ia ketabrak truk sampah
lalu mati

Nada/suasana jiwa yg tertuang dalam puisi di atas diliputi oleh perasaan ....
A. keputusasaan
B. kejengkelan
C. kepasrahan
D. keraguan

Bacalah teks puisi berikut!

MEMIKUL KERANDA

Tikaman keris maut begitu dalam
tiada suara tiada mengucur darah
cuma pekik lantang memecah bumi
satu-satu pun tiada mendengar menyahut
segala menuli lalu membisu
Kini kau di bahuku ringan sekali
kuantarkan pulang, pelabuhan
berlayar ke pulau jauh
tiada kelasi kemudi
sepi sendiri
lalu aku juga kakanda, sampai waktu
seperti kau ke laut kembali

(D. Zauhiddie)

Nada/suasana jiwa yg tertuang dalam puisi di atas diliputi oleh perasaan....
A. keputusasaan
B. keraguan
C. kesedihan
D. kesenduan

Bagaimana Menjadi Contoh Kepada Memberi Contoh

Bagaimana Menjadi Contoh  beserta Memberi Contoh Bagaimana Menjadi Contoh  beserta Memberi Contoh

Satu hal yg membuat aku menjadi terus bersemangat untuk pergi mengajar ke sekolah adalah dengan melihat siswa-siswi yg ceria. Bisa melihat siswa pagi-pagi dengan senyuman yg lugu beserta polos adalah kebahagiaan tersendiri. Entahlah, mungkin inilah cara Tuhan membuat aku terus bisa menikmati kegiatan mengajar di sekolah.

Saat aku datang ke sekolah para siswa menyambutku dengan senyuman sambil menyalami beserta mencium punggung tangan. Ketika keluar kelas, saat pulang apalagi, mereka tidak pernah bosan menyapa beserta menyalamiku. Betapa indahnya kebersamaan itu. Aku pun akhirnya benar-benar menjadi sadar bahwa mendidik itu harus dengan senyuman.

Ya, senyuman. Cuma itu. Begitu masuk kelas aku coba dengan senyuman, terasa sentuhan hangat itu. Dan mereka mulai merasa nyaman, beserta belajar pun jadi nyaman. Beda ketika aku datang wajah bengis membuat mereka menjadi sinis, pelajaran pun tak bisa habis.

Aku pun mulai menyadari bahwa menjadi contoh itu jauh lebih sulit ketimbang memberi contoh. Jika memberi contoh bisa dilakukan dengan ucapan maupun keterangan-keterangan lisan, tapi andai menjadi contoh berarti harus siap dengan segala asfek tingkah beserta laku. Contohnya, menjadi contoh ketika salat berjamaah. Bila hanya berkoar-koar untuk menuntut agar siswa harus salat jamaah, maka sulit bagi mereka untuk beranjak dari tempat duduk, tapi bila kita sendiri yg lebih dulu  melangkahkan kaki ke masjid, maka tanpa disuruh pun mereka atas membututi dari belakang. Itulah hebatnya menjadi contoh.

Belakangan aku sering membutikan bagaimana membuat anak-anak mau menuruti apa yg aku inginkan. Caranya cukup aku yg lebih dulu melakukan. Ada pun perintah bisa menyusul dengan sekenanya saja. contoh bila aku ingin anak-anak membaca al-Qurannya maka aku yg lebih dulu memulai membaca al-Quran, kemudian aku mengeluarkan kata-kata, “Ayo buka al-Qurannya.” Aku tidak perlu menyuruh membacanya, tapi dengan sendirinya mereka dengan senang hati membaca al-Qurannya.

Di sekolah aku sering menyuruh anak-anak diam, sementara aku sendiri terus mengeluarkan kata-kata dengan mengucapkan, “diam semuanya, diam! Jangan ada yg berbicara, kayak pasar malam aja. Kalian tahu ini di mana?” Dengan cara seperti itu aku justru mengajak mereka berbicara. Padahal bila mau melihat kelas menjadi senyap cukup aku diam saja, sambil menatap sekeliling, dengan ekspresi yg serius maka anak-anak atas diam. Baru setelah mereka benar-benar diam, bolehlah aku mengeluarkan kata-kata dengan penuh wibawa, dengan cara mengarahkan mereka ke materi pelajaran kepada hari itu.

Tapi terkadang aku tidak bisa terlalu serius. Aku juga butuh canda. Sehingga para siswa pun kembali berbicara. Ini yg masih belum bisa kulakukan. Namun atas terus kucoba untuk lebih baik beserta lebih baik lagi. semoga bisa.

Jumat, 25 Oktober 2019

Unsur Intrinsik Drama/Teater

 Tema adalah suatu amanat utama  yg disampaikan oleh pengarang  alias penulis melalui karan Unsur Intrinsik Drama/Teater

Unsur Intrinsik Drama/Teater terdiri dari :
1. tema
2. plot, dan
3. penokohan

1. Tema
Tema adalah suatu amanat utama yg disampaikan oleh pengarang alias penulis melalui karangannya (Gorys Keraf, 1994).

Tema bisa juga disebut muatan intelektual dalam sebuah permainan, ini mungkin bisa diuraikan sebagai keseluruhan pernyataan dalam sebuah permainan: topik, ide utama alias pesan, mungkin juga sebuah keadaan (Robert Cohen, 1983).

Adhy Asmara (1983) menyebut tema sebagai premis yaitu rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam menentukan arah tujuan cerita.Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa tema adalah ide dasar, gagasan alias pesan yg ada dalam naskah lakon bersama ini menentukan arah jalannya cerita.

Tema adalah rumusan inti sari cerita yg dipergunakan dalam menentukan arah bersama tujuan cerita. Dari tema inilah kemudian ditentukan lakon-lakonnya.

Tema beroleh diartikan juga sebagai sebuah gagasan pokok yg terkandung dalam drama.

Tema berhubungan dengan premis. Dari drama tersebut yg berhubungan pula dengan nada dasar dari sebuah drama bersama sudut pandangan yg dikemukakan oleh pengarangnya. Sudut pandang ini, sering dihubungkan dengan aliran yg dianut oleh pengarang.

Tema ada yg menyebutnya sebagai premis, root idea, thought, aim, central idea, goal, driving force bersama sebagainya.

Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yg secara tersirat. Akan tetapi, tema harus dirumuskan dengan jelas, karena tema merupakan sasaran yg hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut atas kabur bersama tidak jelas apa yg hendak disampaikan.
Baca juga: Elemen-Elemen Seni Teater
2. Plot
Plot menurut Panuti Sudjiman dalam bukunya Kamus Istilah Sastra (1984) memberi batasan adalah jalinan peristiwa di dalam karya sastra (termasuk naskah drama alias lakon) untuk mencapai efek-efek tertentu. Pautannya beroleh diwujudkan oleh hubungan temporal (waktu) bersama oleh hubungan kausal (sebab-akibat).

Plot alias alur adalah rangkaian peristiwa yg direka bersama dijalin dengan seksama, yg menggerakkan jalan cerita melalui perumitan (penggawatan alias komplikasi) ke arah klimaks penyelesaian. Menurut J.A. Cuddon dalam Dictionary of Literaray Terms (1977), plot alias alur adalah kontruksi alias bagan alias skema alias pola dari peristiwa-peristiwa dalam lakon, puisi alias prosa bersama selanjutnya bentuk peristiwa bersama perwatakan itu menyebabkan pembaca alias penonton tegang bersama ingin tahu.

Plot alias alur menurut Hubert C. Heffner, Samuel Selden bersama Hunton D. Sellman dalam Modern Theatre Practice (1963), yaitu seluruh persiapan dalam permainan. Jadi plot berfungsi sebagi pengatur seluruh bagian permainan, pengawas utama dimana seorang penulis naskah beroleh menentukan bagaimana cara mengatur lima bagian yg lain, yaitu karakter, tema, diksi, musik, bersama spektakel.

Plot juga berfungsi sebagai bagian dasar yg membangun dalam sebuah teater bersama keseluruhan perintah dari seluruh laku maupun semua bagian dari kenyataan teater serta bagian paling penting bersama bagian yg utama dalam drama alias teater.

Plot merupakan jalinan cerita alias kerangka dari awal hingga akhir yg merupakan jalinan konflik anatara dua tokoh yg berlawanan. Konflik itu berkembang karena kontradiksi para pelaku.sifat dua tokoh itu bertentangan, misalnya: kebaikan kontra dengan kejahatan, tokoh sopan kontra dengan tokoh berutal, tokoh pembela kebenaran kontra dengan bandit, tokoh kesatria kontra dengan penjahat, tokoh bermoral kontra dengan tokoh tidak bermoral, bersama sebgainya.

Jenis Plot
Plot dibagi menjadi tiga jenis yaitu:

a.  Plot Linier
Plot Liner adalah sebuah plot yg alur ceritanya bergerak secara berurutan dari A sampai Z. Plot ini sangat umum digunakan dalam karya drama, karena sesanya lebih kering sederhana untuk ditangkap alias di terima oleh pembacanya. Disamping itu plot ini tidak juga terlalu rumit dalam proses analisanya karena secara structural lebih singkat bersama padat.

b. Plot Serkiler
Plot Serkiler merupakan Plot yg ceritanya berkisar kepada satu pristiwa saja.

Plot ini sedikit rumit bila kita tidak mengenali karakter filosofis dari karya drama tersebut. Kesiasiaan manusia yg menjadi landasan karakter filosofis plot ini, menciptakan berbagai pengulangan bersama membuat unsure plot baru yg tidak saling berkaitan. Kaitannya, justru terletak dari ketidaklogisan hubungan antara Plot. Hal ini disebabkan oleh penempatan karakter alias penokohan yg memang dirancang tidak logis, terkesan tidak masuk akal (irasional).namun demikian, plot antara plot ini justru sangant rasional bila kita memahami dari karakter filosofis yg dimiliki tohoh-tokoh ceritanya. Plot semacam ini beroleh kita lihat dalam sebagian karya Putu Wijaya, Samuel Becket maupun Ionesco.

c. Plot Episodik
Plot Episodik merupakan sebuah plot dengan jalinan cerita yg terpisah, kemudian bertemu kepada akhir cerita.  Drama episodik awalnya dimulai secara relatif dalam cerita, bersama tidak memadatkan perilaku tetapi justru memperluasnya.

Kekhasan drama episodik meliputi suatu perluasan masa waktu, kadang-kadang bertahun-tahun, bersama jarak tempat yg lebih jauh. Dalam satu drama kita beroleh melanglang buana kemana saja: ke ruang penyimpanan kecil, ruang perjamuan yg luas, tanah lapang yg terbuka, bersama puncak gunung.

Adegan pendek, terkadang hanya setengah halaman alias sangat panjang, melalui adegan panjang yg berganti-ganti.

Contoh yg menunjukkan alam perluasan drama episodik: Antony bersama Cleopatra karya Shakespeare memiliki tiga puluh empat tokoh bersama lebih empat puluh adegan, bisa juga kita lihat kepada lakon Faust (Wolfgang von Goethe), bersama sebagian besar hikayat bersama cerita-cerita kepada teater tradisional kita. Contoh Naskah Samuel backett, (Menunggu godot).

3. Penokohan
Penokohan erat hubungannya dengan perwatakan. Susunan tokoh (drama personae) adalah daftar tokoh-tokoh yg berperan dalam tokoh itu dalam susunan tokoh ini yg terlebih kering awal dijeaskan adalah nama, umur, jenis kelamin, tipe fisik, jabatan bersama keadaan kejiwaannya itu.

Penulis lakon sudah menggambarkan perwatakan tokoh-tokohnya. Watak tokoh itu atas menjadi nyata terbaca dalam dialog bersama catatan samping. Jenis bersama warna dialog atas menggambarkan watak tokoh itu. Dalam wayang kulit alias wayang orang, tokoh-tokohnya sudah memiliki watak yg khas, yg didukung pula dengan gerak-gerik, suara, panjang pendeknya dialog, jenis kalimat bersama ungkapan yg digunakan.

Dalam cerita drama lakon/tokoh  merupakan unsur yg paling aktif yg menjadi penggerak cerita. Oleh karena itu seorang lakon haruslah memiliki karakter, agar beroleh berfungsi sebagai penggerak cerita yg baik. Dalam menganalisa sebuah penokohan seorang actor harus menganalisa tokoh dengan menggunakan tiga dimensi penokohan yaitu:

a. Dimensi fisiologi ; ciri-ciri badani
usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.

b. Dimensi sosiologi ; latar belakang kemasyarakatan
status sosial, pendidikan, pekerjaan, peranan dalam masyarakat, kehidupan pribadi, pandangan hidup, agama, hobby, dll.

c. Dimensi psikologis ; latar belakang kejiwaan
temperamen, mentalitas, sifat, sikap bersama kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian dalam bidang tertentu, kecakapan, dll.


Sumber : Indar Sabri, S.Sn, M.Pd (Unesa)